Tumbang Sehabis Berjuang


Namanya lahir, jodoh, dan kematian diyakini sebagai garis takdir yang menjadi rahasia Tuhan ketika manusia belum memahaminya. Soal kematian misalnya, manusia tidak akan tahu bagaimana ia akan meninggal. Apakah melalui sakit, apakah karena kecelakaan, atau bahkan tanpa sebab yang pasti sekalipun. Demikian halnya mengenai waktu kematian. Meskipun pada umumnya manusia meninggal pada usia tua, namun tidak sedikit pula manusia yang dipanggil-Nya pada saat kelahiran, usia kanak-kanak, anak-anak, remaja, bahkan muda-mudi.

Adalah seorang tetangga Ndalem Ngisor Blimbing yang hari kemarin pulang ke haribaan Tuhan. Ia, yang sekedar karyawan kecil pada sebuah pabrik, sudah sekian tahun menderita sakit yang cukup berat. Gagal ginjal!

Gagal ginjal memang “penyakit orang kaya”, dalam pengertian membutuhkan biaya perawatan yang sangat mahal bagi orang papa. Jaman sekarang seolah penyakit sudah tidak mengenal kasta. Penyakit apapun bisa datang dan menghampiri siapapun tanpa pandang bulu apakah ia si kaya atau si miskin. Kita tidak tahu pasti apakah sudah ada kesepakatan diantara komuitas jenis penyakit tersebut yang mendeklarasikan bahwa setiap penyakit memiliki hak yang sama untuk menghampiri seseorang korbannya tanpa memandang status dan kelas ekonomi maupun sosial.

Kembali kepada gagal ginjalnya tetangga sebelah kami. Di tengah keterbatasan biaya untuk mendapatkan perawatan yang super mahal, untunglah pabrik tempat ia bekerja mau menanggung biaya perawatan, termasuk untuk cuci darah secara rutin. Bayangkan, berapa biaya cuci darah dua kali seminggu yang harus dilakukan secara terus-menerus. Tentu saja pembiayaan perusahaan juga melalui mekanisme jaminan kesehatan karyawan yang sudah dikerjasamakan dengan suatu perusahaan asuransi.

Namun apakah sekedar ditanggung biaya perawatan kemudian persoalan ekonomi rumah tangganya telah selesai. Nampaknya tidak demikian. Tetangga saya tersebut adalah kepala keluarga yang menjadi satu-satunya tulang punggung. Ia memiliki tiga orang anak yang masih sekolah. Bahkan si bungsu baru menapaki kelas 2 sekolah dasar. Tentu saja perjuangan hidup masih akan sangat panjang untuk menghantarkan anak-anaknya tersebut ke gerbang cita-cita untuk dapat hidup secara mandiri.

Gagal ginjal, cuci darah, apa yang terpikirkan oleh sebagian diantara kita? Apakah ada sebuah solusi permanen? Operasi cangkok ginjal? Mungkin! Tetapi tentu saja sangat mahal bagi orang biasa sebagaimana tetangga saya sehingga kemungkinan tersebut harus dibuang jauh-jauh. Cuci darah memang satu-satunya cara yang ditempuh untuk memperpanjang nafas. Namun sampai kapan? Bukankah gagalnya fungsi suatu organ biasanya juga akan diikuti dengan komplikasi disfungsi organ yang lain. Apakah memang hanya tinggal menghitung waktu?

Menderita gagal ginjal sudah pasti tidak hanya membutuhkan cuci darah. Masih banyak perawatan-perawatan lain yang juga membutuhkan biaya banyak. Dan ndilalahnya tidak semua pembiayaan tersebut ditanggung oleh pabrik tetangga saya tersebut. Akhirnya, demi menutup biaya perawatan dijuallah sepetak tanah di belakang rumah warisan dari orang tuanya. Konon tanah seluas seratusan meter persegi miliknya laku 200-an juta.

Seolah sadar bahwa kondisi kesehatannya berangsur memburuk, di samping digunakan untuk menutup biaya perawatan, uang yang didapatkannya dipergunakan untuk membangun sebuah rumah petak di sisi rumah tinggalnya. Mungkin ia berpikir kalaulah ia tidak lagi mendapatkan uluran biaya dari pabriknya, ia harus memiliki sumber pendapatan yang lain. Kos-kosan atau rumah kontrak menurut dia bisa memberikan penghasilan. Meski sempat tersendat-sendat, namun dalam waktu 5 bulan, rumah kontrakannya berdiri dan langsung ada penyewa yang menempatinya.

Tidak hanya membangun rumah kontrakan, tetangga tersebut juga merasa memiliki beban hutang “ibadah” yang belum tertunaikan. Ia dan segenap anak istrinya belum pernah diaqiqahi. Maka dengan ketulusan niat untuk menjalankan sunnah Rasul tersebut, menjelang Ramadhan lalu ia menyembelih 9 ekor kambing untuk seluruh keluarganya. Sembilan kambing tentu saja bukan jumlah uang yang sedikit.

Ada yang pro dan kontra diantara para tetangga dengan langkah beraninya di tengah berbagai kesempitan keuangan rela menyembelih 9 kambing untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga sekitar. Ada yang berpendapat sayang dengan uang yang tidak sedikit itu dan akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk keperluan masa depan anak-anaknya, atau untuk modal usaha sampingan. Ada yang berpandangan ia benar-benar mengutamakan perintah Tuhan. Ada yang berpikir, teganya ustadz yang memberikan saran kepada orang yang berada pada posisi sulit untuk “berkurban” kambing sembilan.

Saya sendiri merasa sangat hormat dengan kesabaran dan ketabahan tetangga saya tersebut dalam menjalani hari-hari gagal ginjalnya. Setelah sekian lama mondar-mandir masuk rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali, akhirnya Tuhan memanggilnya juga. Inna lillah wa innailaihi roji’un. Segalanya berasal dari-Nya, dan segalanya akan kembali jua kepada-Nya. Dan lebih salut lagi, sebelum kepergiannya, ia masih sempat menitipkan dua kambing untuk kurban Idhul Adha kali ini.

Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kelapangan dan kesabaran dalam menjalani perjuangan hidup yang masih akan sangat panjang.

Lor Kedhaton, 3 Oktober 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s