Sewa Kepala Salah Kaprah


Pernah merasakan sarana transportasi umum di ibukota Jakarta? Entah angkot, bus, maupun kereta api, semuanya hampir sekali tiga uang. Sangat sesak dengan manusia yang berhimpitan. Panas, bau keringat bercampur minyak wangi serta aneka parfum sudah menjadi hal yang biasa. Belum lagi soal keamanannya. Tidak sedikit kasus pencopetan, penjambretan, bahkan perkosaan banyak terjadi di angkutan umum. Intinya sarana transportasi umum tersebut masih sangat jauh dari rasa nyaman dan aman sebagaimana idaman banyak orang. Tentu saja kita semua juga prihatin dengan kondisi tersebut.

Keprihatinan kita nampaknya akan semakin menyesakkan dada tatkala perlakukan kru angkutan juga seringkali kurang nguwongke penumpang. Tidak sedikit dari mereka yang menganggap para penumpang hanya sekedar sebagai pendulang uang. Tidak mengherankan jika para penumpang yang notabene adalah manusia hanya diperhitungkan sebagai uang sewa. Jika ada calon penumpang berdiri di tepian jalan, sopir atau kru angkot atau bus langsung melotot dan melihatnya sebagai beberapa lembar uang ribuan. Setiap kepala dihitung sebagai sewa bagaikan pajak kepala semasa kerajaan dan jaman penjajahan dahulu.

Tidak hanya terhenti dengan istilah sewa untuk menggantikan manusia yang kebetulan menumpang, perlakuan mereka terhadap penumpang juga seringkali tidak berperikemanusiaan. Meski angkutan sudah sedemikian penuh sesak dengan penumpang, sering terjadi bahkan penumpang yang sudah berdiri terus dihimpit-himpit, didesak-desak, juga ditumpuk-tumpuk laksana barang. Yang ada di benak para kru tersebut hanya setumpuk lembaran uang. Tidak kurang dan tidak lebih.

Kalaupun para penumpang disebut sebagai sewa, mestinya mereka memang para penyewa yang memberikan sejumlah uang untuk mendapatkan jasa layanan transportasi umum yang layak, nyaman dan aman. Uang sewa yang diberikan harus dibalas dengan pelayanan yang ramah dan menyenangkan. Itu adalah timbal balik antara kewajiban dan hak yang timbul dari hubungan transaksional yang terjadi. Para penumpang sesungguhnya bukan hanya sekedar barang yang menumpang dengan gratisan. Oleh karena itu mereka sangat berhak untuk dimanusiakan.

Jaman memang benar-benar jaman edan. Bagaimana tidak, lha wong di jaman sekarang ini terang-terangan orang sudah memilih uang sebagai Tuhannya. Hidup senang atau susah sudah sangat tergantung dengan benda yang namanya uang. Orang dikatakan sukses atau gagal dalam hidupnya juga dinilai dari seberapa banyak uang yang dimilikinya.

Orang yang tidak pegang uang, ya sudah pasti dianggap kere, kelas rendah, orang susah, bahkan kasta rendahan. Maka jangan heran jika kemudian orang mati-matian mencari uang. Banting tulang, peras keringat siang malam, ibaratnya kepala sudah menjadi kaki dan kaki menjadi kepala! Semua sudah all out, totalitas setotal-totalnya untuk meraih uang. Jangankan yang halal, yang haram, yang dosa, yang jahat, yang menyusahkan orang lain, yang merugikan negara, yang korup, yang ngrampok, semua dilakukan atas nama uang. Kalau tidak bisa dengan cara halus, ya cara kasarpun harus ditempuh.

Nah, monggo kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah dalam pusaran jaman edan ini kita memilih jalan untuk tetap eling lan waspada dengan ajaran agama dan perintah Tuhan. Ataukah kita justru memilih untuk turut ngedan dengan keyakinan jika tidak ikutan ngedan maka kita tidak akan keduman? Ah, pembicaraan sudah semakin ngelantur. Bicara soal sewa kepala para penumpang angkot, malah sampai soal tuhan uang. Sudahlah….

Ngisor Blimbing, 1  Oktober 2014

Manusia memang makhluk Tuhan yang memiliki derajat dan martabat paling tinggi. Manusia dilahirkan dengan dilekati hak-hak asasi sebagai sebuah sisi kemanusiaan manusia yang paling hakiki. Apabila hak asasi manusia diremehkan, diinjak, bahkan dirampas, maka sisi kemanusiaannyapun juga akan sirna. Manusia yang mengalami hal tersebut kemudian menjadi tidak lagi dimanusiakan. Tidak di-wongke, menurut orang Jawa.

Fenomena jaman yang justru menjadi semakin edan, seringkali menjadi suatu ironi ketika kecerdasan, pengetahuan, kesejahteraan dan semua parameter kemajuan jaman justru disertai dengan fenomena kemunduran akhlak, moral, kejujuran maupun segala hal parameter peradaban manusia sebagai makhluk yang mulia. Manusia akhirnya terjebak dalam keterasingan diri-sendiri. Manusia menjadi semakin tidak manusia lagi.

Banyak contoh

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s