Pilkada, Hanya untuk Mendapatkan Kadal?


Sekedar turut menyimak hingar-bingar diskusi di linimasa seputar alotnya pembahasan UU Pilkada beberapa hari lalu, nampaknya beragam tanggapan dari berbagai kalangan dengan beragam sudut pandang pula. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, realitas politik telah diputuskan bahwa kepala daerah, dalam hal ini gubernur, dan bupati/walikota untuk masa ke depan akan dipilih lagi oleh para wakil rakyat. Dengan demikian mekanisme pemilihan langsung kepala daerah tidak lagi diterapkan.

Realitas tersebut disebut oleh beberapa kalangan sebagai sebuah kemunduran demokrasi. Benarkah demikian? Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan demokrasi itu? Apakah kita semua telah paham dengan gamblang dengan apa yang dimaksud demokrasi? Pertanyaan ini tentu saja lebih terkhusus tertuju untuk diri penulis sendiri yang sebenarnya hingga saat ini masih belum paham makna demokrasi serta masih terus belajar untuk menemukan sebuah pemahaman yang utuh.

Perkenalan demokrasi tidak lepas dari perjalanan di bangku sekolah. Secara sederhana demokrasi dimaknai sebagai sebuah sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dibutuhkan suatu sistem pemerintahan untuk mewujudkan sistem yang menjamin kepentingan rakyat. Dalam sistem demokrasi, rakyat yang berjuta-juta jelas tidak mungkin secara langsung merumuskan, membahas, memutuskan hingga mengeksekusi program-program dalam rangka memenuhi kepentingan rakyat. Maka dari itu diperlukan sebuah sistem perwakilan. Ada wakil rakyat di legislatif yang membuat berbagai peraturan perundang-undangan. Ada pihak eksekutif yang mengeksekusi penerapan peraturan perundangan. Dan ada juga yudikatif yang bertugas melakukan penegakan hukum.

Kembali ke msalah pro-kontra pilkadal atau pemilihan kepala daerah secara langsung dalam pemilihan pimpinan daerah. Bagi rakyat, langsung ataupun tidak langsung harusnya tidak terlalu menjadi persoalan sepanjang bahwa para wakil rakyat yang memilih ataupun pemimpin yang akan dipilih benar-benar memiliki niat serta itikad untuk benar-benar mengabdi dalam rangka memajukan kesejahteraan rakyat. Jangankan kok hanya soal cara pemilihan kepala daerah yang langsung ataupun tidak langsung oleh rakyat, mau sistem pemerintahan yang diterapkan monarkhi, ologarki, diktator, atau hingga pemerintahan setan dan dajjal, asalkan rakyat benar-benar sejahtera apakah masalah?

Intinya, buat apa rakyat kecil, lapisan masyarakat bawah, wong cilik, turut ngotot-ngototan bicara politik hingga satu sama lain saling bersitegang bahkan bermusuhan karena perbedaan pandangan politik, sementara sebenarnya para elit negeri ini hanya sekedar sedang memperjuangan kepentingan partainya, kepentingan golongannya, bahkan kepentingan serta ambisi pribadinya masing-masing, sementara kita sepenuhnya tidak yakin dengan ketulusan itikad para wakil rakyat ataupun elit birokrat untuk mengutamakan kepentingan rakyat! Bukankah sangat terlihat bagaimana masing-masing pihak saling bersikukuh dengan pendapatnya yang semakin menunjukkan bahwa ambisi mereka hanyalah kekuasaan, hanyalah jabatan, hanyalah kesejahteraan bagi diri mereka masing-masing.

Mau pilkadal atau tidak pilkadal, toh yang kita peroleh tetap sama-sama kadal to? Kadal, terlebih kadal buntung terlanjur salah kaprah diasosiasikan sebagai sosok yang licik dan haus kekuasaan, lengkap dengan sifat khianat, korup, dusta, hingga sewenang-wenang. Mereka sama sekali tidak menyadari telah beruntung mendapatkan amanah rakyat, namun justru amanah itu dipergunakan untuk memperbodohi rakyat dan memperalat rakyat untuk kepentingannya sendiri. Mohon maaf untuk kadal yang sebenar-benarnya binatang kadal. Kalian semua sesungguhnya tidak tahu-menahu soal politik, terlebih politik di Indonesia tetapi naik baik kalian menjadi sedemikian tercemar dalam permainan demokrasi yang manipulatif. Maaf, beribu-ribu maaf!

Katanya demokratis, tetapi suara rakyat harus dibeli. Di lapisan elit sudah sangat tidak percaya diri bahwa yang diinginkan rakyat adalah pengabdian yang setulus-tuluskan untuk membangun kejahteraan bersama. Sementara di kalangan rakyat juga banyak yang prakmatis transaksional bahkan berkata “mau dipilih, wani piro?“, dan akhirnya benar-benar memilih siapa yang memberinya uang. Demokrasi macam apa jika tidak lagi dilandasi dengan kesucian hati nurani? Demokrasi kuda lumping yang mangan beling?

Jika demokrasi sudah sedemikan dimanipulasi hanya untuk kepentingan elit semata, apakah masih valid jargon bahwa demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat? Kelihatannya demokratis, bahkan banyak negara di dunia menyanjung-nyanjung setinggi langit kemajuan demokrasi di Indonesia, namun apakah realita kesejahteraan rakyat hari-hari ini dan seterusnya semakin meningkat? Bisa jadi kita tengah tertipu atau terlena dengan impian kosong tentang sebuah demokrasi yang sebenar-benarnya sama sekali bukan demokrasi. Kelihatannya demokrasi, bungkus luar serta kemasannya saja yang demokrasi, tetapi ruh sejatinya justru bertentangan dengan nilai demokrasi.

Pelajaran utama dari setiap bergulirkan proses politik di tanah air adalah bahwa rakyat harus semakin cerdas untuk membedakan mana semua dengan yang sejati, yang asli dengan yang palsu, yang pura-pura dengan yang sungguh-sungguh. Mana yang wingko mana yang kencono, mana yang sekedar kertas loyang dengan mana yang sebenar-benarnya emas. Untuk itu semua rakyat harus kembali kepada kesucian hati nuraninya, karena di dalam kesucian hati nurani rakyat yang sejati Tuhan senantiasa membimbing manusia untuk mencapai kesejahteraan, bahkan keluhurannya sebagai manusia yang beradab. Hanya dengan cara demikian rakyat akan mendapatkan para wakil dan juga para pemimpinya yang sejati pula. Para wakil dan pemimpin yang benar-benar amanah terhadap amanat rakyat!

Ngisor Blimbing, 27 September 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s