Kenal Raden Saleh


Entah kesambet hantu pahlawan darimana, malam itu si Ponang tiba-tiba nyeletuk bertanya kepada Kanjeng Bapak, “Pak, Bapak kenal dengan Raden Saleh?

Yang ditanya sedikit kaget sehingga kepalanya njenggelek serius. Bukannya langsung menjawab dengan jawaban yang diperlukan anaknya, Kanjeng Bapak malah balik bertanya, “Lha emange kamu itu gek ngerti Raden Saleh darimana to Le?

Ya dari Bu Guru. Kata Bu Guru, Raden Saleh pelukis ya Pak? Benar ya dia melukis penculikan Pangeran Diponegoro?” si Ponang cerdas menjawab dan langsung memberondong Kanjeng Bapakanya dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang lain.

Memang semenjak masuk sekolah di SD Panglima alias Panunggangan Lima satu setengah bukan yang lalu bolehnya mletik pikiran anaknya memang lumayan pesat. Untuk ukuran anak sekolah jaman kini tentu tidak mengecewakan, bahkan justru sebaliknya membuat gumbira bin terbombong kedua orang tuanya. “Anakku lanang, alhamdulillah nampaknya senantiasa nyanthol dengan bahan-bahan pelajaran yang semangkin memperkaya pengetahuannya”,demikian batin Kanjeng Bapak penuh rasa syukur.

Kembali ke soal topik Raden Saleh. Hal yang membuat Kanjeng Bapak langsung terkonek dengan sebuah kenangan sejarah yang pernah menyinggahinya lewat pelajaran sejarah adalah soal lukisan penculikan Pangeran Diponegoro. Bagaimana tidak terpatri dengan sangat kuat peristiwa perundingan yang berakhir dengan penangkapan pemimpin Perang Jawa itu jika tidak karena perundingan itu terjadi di Kota Magelang. Atas bujuk rayu Jenderal de Kock, Diponegoro bersedia hadir untuk berunding damai dengan Belanda di Kantor Residen Kedu. Apa daya jika kemudian pihak Belanda justru menodai kesepakatan dengan langsung menangkap Pangeran Diponegoro begitu tidak ada kata sepakat setelah berembug dengan sangat alotnya.

Sebagai seorang bocah yang wutah-getihnya di Magelang, sudah pasti Kanjeng Bapak pernah mengajak si Ponang bertandang ke Museum Diponegoro yang menyatu dengan eks Kantor Residen Kedu yang kini difungsikan sebagai Kantor Bakorwil Kedu-Surakarta. Di ruang bekas tempat perundingan memang tergantung sebuah lukisan yang mengilustrasikan pada saat Pangeran Diponegoro dirangket di pendopo Karesidenan Kedu untuk selanjutnya dibuang ke Manado dan Makassar.

Beberapa tahun setelah peristiwa penangkapan Dipongoro, Jenderal de Kock konon mengkomisikan pesanan sebuah lukisan kepada seorang pelukis ternama di Eropa bernama Nicolaas Pieneman untuk membuat ilustrasi akhir dari perundingan di Kantor Residen Kedu di atas. Untuk menutupi kelicikan siasat Belanda yang curang dalam menangkap sang Pangeran, lukisan Pieneman diberi judul “Penyerahan Diponegoro”. Ilustrasi lukisan menggambarkan seolah-olah Diponegoro dengan segenap wadyabalanya datang ke Kedu untuk menyerahkan diri dengan suka rela.

Dalam kurun waktu itu kebetulan Raden Saleh tinggal di Eropa untuk masa sekitar dua puluh tahun. Pada suatu ketika ia melihat lukisan “Penyerahan Diponegoro” karya Pieneman di Jerman. Sebagai seorang putera Nusantara yang juga memiliki jiwa nasionalisme, jiwa Raden Saleh menggugat. Cintanya kepada tanah air, kepada kebebasan dan kemerdekaan harkat martabat manusia, membuat ia berontak. Ia kemudian membuat ilustrasi lukisan akhir dari perundingan antara Diponegoro-de Kock yang berakhir dengan “Penangkapan Diponegoro”.

Berbeda dengan lukisan Pieneman yang menggambarkan pasukan Diponegoro seolah secara suka rela menyerahkan persenjataannya kepada Belanda, lukisan Raden Saleh justru memperlihatkan betapa Diponegoro sepasukannya sama sekali tidak bersenjata karena menghormati itikad baik perundingan damai yang juga kebetulan dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Selain itu, perbedaan yang paling mencolok adalah sudut pandang sisi pelukisan. Jika Pieneman mengambil sisi kanan Diponegoro yang memasuki pendopo Kantor Residen untuk menyerahkan diri dengan suka rela, justru lukisan Raden Saleh memotret sisi kiri Diponegoro yang menggambarkan ia baru keluar ruang perundingan namun segera ditangkap oleh pasukan Belanda.

Raden Saleh yang memiliki nama lengkap Raden Saleh Sjarif Boestaman dilahirkan pada tahun 1807 dan wafat pada 23 April 1880. Ia merupakan sosok pelukis bergaya romantisme kelas dunia yang pernah dimiliki bangsa Nusantara. Konon ia pernah menetap di Eropa selama dua puluh tahun dan menjadi pelukis istana di beberapa negara, mulai dari Belanda, Jerman, Austria dan Italia. Karya-karyanya dikenal sebagai hiasan-hiasan pada dinding-dinding istana Eropa yang mewah dan megah. Kita semua tentu saja sangat bangga pernah memiliki pelukis sekaliber Raden Saleh. Tidaklah salah jika ia ditetapkan sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia yang meletakkan dasar-dasar pengembangan lukisan bercorak Nusantara yang sangat khas.

Ngisor Blimbing, 20 September 2014

Sumber lukisan dari sini, sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s