Napak Tilas Stasiun Secang


Stasiun Secang    Stasiun Secang1

Secang merupakan sebuah kota kecil di sisi utara Kabupaten Magelang. Kota ini merupakan titik penghubung jalur utama Jogja-Semarang dengan jalur tengah Jawa Tengah yang menembus Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Purwokerto. Posisi yang sangat strategis ini sudah semenjak jaman penjajahan Belanda diperankan oleh Kota Secang. Di samping jalur transportasi jalan raya yang sudah ada semenjak pemerintahan Mataram, pada masa Belanda, Secang menjadi titik perlintasan jalur kereta api yang sangat penting.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bagian tengah wilayah  Jawa Tengah sebagian besar merupakan dataran tinggi dengan hamparan gunung-gunung vulkanik yang memberikan kesuburan tanah yang tiada tara. Tidaklah mengherankan jika wilayah ini menjadi sentra budidaya pertanian, perkebunan, dan tentu saja kehutanan. Berbagai produk pertanian penting dihasilkan dari wilayah ini, seperti padi, sayur-mayur, tembakau, kopi, teh, serta aneka buah-buahan. Demikian halnya hasil peternakan, semisal lembu, kerbau, kambing, serta beragam hewan unggas.

Sebagai wilayah produsen berbagai komoditas pertanian yang penting, Belanda memandang perlu untuk membangun jalur transportasi yang berguna untuk membawa produk dari daerah pedalaman menuju kota-kota besar maupun pelabuhan utama untuk keperluan ekspor ke negara lain. Salah satu moda angkutan massal yang mampu membawa barang dalam kuantitas yang besar adalah kereta api. Inilah alasan utama mengapa Belanda membangun jaringan rel kereta api yang menghubungkan poros utara-selatan antara Jogja-Semarang, serta poros barat-timur antara Secang-Purwokerto pada masa itu.

Secang di masa Belanda memang sudah berbeda dengan Secang di era kemerdekaan saat ini. Meskipun di masa kini Secang tetap memerankan posisi strategis penghubung transportasi poros utara-selatan dan barat-timur, namun keberadaan jalur kereta api sudah tidak difungsikan lagi.  Namun demikian, bagi siapapun yang masih ingin bernostalgia ataupun menyusur bekas rel kereta api yang pernah jaya di masanya, di Secang masih terbentang beberapa ruas sisa-sisa rel yang semakin menampakkan ketuaannya.

Stasiun Secang2Apabila kita ingin menelusuri sisa-sisa jalur rel kereta api ataupun jejak-jejak sejarah kejayaan kereta api yang melintasi Kota Secang, tidaklah salah jika kita memulainya dari titik bekas Stasiun Secang. Area sisa Stasiun Secang terletak di sisi belakang Kantor Koramil Secang yang tepat berada di pinggiran Jalan Raya Jogja-Semarang. Dengan menyusuri gang sempit beraspal kita dapat menemukan sebuah bangunan tua dengan genteng tua yang bolong di beberapa bagian. Bangunan yang semakin rapuh namun nampak gagah tersebut di berbagi sisi dindingnya sudah nampak kusam, bahkan telah banyak plesteran semen coklat yang terkelupas. Di bagian halaman depan maupun belakang, sisa pelataran tua yang terhampar nampak ditumbuhi rumput liar yang menandakan sangat minimnya tindakan perawatan. Sekilas bangunan stasiun tersebut justru nampak seperti rumah tua tanpa penghuni yang angker dengan mitos hantu gendruwo penunggunya.

Di samping jalur masuk sebagaimana telah diutarakan di atas, bangunan bekas Stasiun Secang juga dapat dicapai melalui jalan sempit di sisi barat pasar, tepat di seberang Masjid Kauman Secang ke arah selatan. Dari mulut jalan hingga lokasi yang turut menorehkan sejarah transportasi kereta api tua ini kurang lebih hanya berjarak 300 meter.

Dalam posisinya seperti saat ini, Stasiun Secang seolah memiliki sisi depan di bagian timur yang berdekatan atau sejajar dengan jalanan raya. Namun bila menilik dari bekas-bekas jalur rel atau peron tempat pemberhentian kereta api, kemungkinan justru bagian depan stasiun justru terletak di sisi sebelah barat. Hal ini nampak dengan keberadaan lima lajur jalur rel yang masih tersisa hingga kini.

Saat ini Stasiun Secang memang hanya bisa dikenang. Namun apabila wacana untuk mengaktifkan kembali jalur rel kereta api Jogja-Semarang benar-benar terlaksana, pastinya Stasiun Secang akan menggeliat lagi dan menjadi titik transisi yang sangat ramai.

Ngisor Blimbing, 19 September 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s