Perserikatan Bangsa Nusantara


Sebagai anak bangsa Indonesia, kita tentu mengenal banyak nama-nama suku di tanah air. Mulai dari Aceh, Batak, Nias, Minang, Melayu di Sumatera. Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sasak, hingga Flores di sisi selatan Indonesia. Ada juga Dayak di Kalimantan. Ada Manado, Gorontalo, Keimana, Mandar, Makassar, Bugis, Toraja di Sulawesi. Termasuk tentunya Ambon, serta  Asmat, dan Dani di Papua. Konon di Nusantara terdapat lebih dari 200 suku bangsa dengan masing-masing adat dan tradisinya. Maka sangat relevan semboyan Bhinneka Tunggal Ikha, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Wikipedia pada halaman webnya mendefinisikan suku bangsa sebagai suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis (genetik).

Definisi ini secara teori sosio antropologis sebenarnya lebih sesuai untuk membatasi pengertian sebuah bangsa. Dengan sudut pandang yang ke dua ini, maka untuk kondisi Nusantara sebenarnya banyak terdapat bangsa-bangsa. Aceh adalah sebuah bangsa. Demikian halnya Batak, Minang, Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Dayak, Makassar, Mandar, Ambon, Asmat dan lain sebagainya. Secara historis politis, bangsa-bangsa di wilayah Nusantara yang di masa lalu sama-sama mengalami penderitaan akibat penjajahan kolonialis Belanda menyatukan diri ke dalam bangsa Indonesia. Dengan penyatuan diri tersebut selanjutnya masing-masing bangsa “berendah hati” sebagai suku bangsa. Suku dalam bahasa Jawa berarti kaki. Dengan demikian suku bangsa dapat diartikan sebagai sub bangsa yang menopang keberadaan sebuah bangsa. Peristiwa agung ini terabadikan dalam wujud Sumpah Pemuda, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

Di tengah keterpurukan negara kita saat ini, sangat relevan kita memikirkan kembali mengenai jati diri yang berakar kepada keragaman bangsa kita. Banyak tokoh pemikir yang menyatakan bahwa sumber dari segala sumber permasalahan bangsa yang mengakibatkan martabat kita jatuh, yang menyebabkan negeri ini tidak lagi berdaulat secara politik, tidak lagi berdikari secara ekonomi, serta tidak lagi berkepribadian secara sosial budaya sebagaimana pernah digaungkan Bung Karno, adalah karena kita mulai melupakan jati diri bangsa.

Di tengah alam kemerdekaan saat ini, tidak sedikit generasi bangsa yang sudah tidak mau berpijak lagi kepada asal-usul masing-masing suku bangsa. Segala adat dan tradisi selalu dikaitkan dengan nilai-nilai tradisional yang tentu saja berlawanan dengan arus dunia modern. Identitas suku bangsa adalah masa lalu, bahkan dianggap kuno dan hanya menjadi catatan sejarah yang sama sekali tidak bernilai lagi. Masa lalu adalah masalah lalu. Masa lalu sangat layak untuk ditinggalkan serta dilupakan. Jika di masa kini kita masih berbicara dari sudut pandang suku bangsa kita, kita langsung dicap sebagai orang tidak memiliki jiwa nasionalis. Benarkah pendapat-pendapat demikian?

Kembali kepada historis terwujudnya bangsa Indonesia. Menurut saya sangat relevan pemikiran Budayawan Emha Ainun Nadjib yang memandang keberadaan bangsa Indonesia tidak pernah bisa lepas dengan asal-usul berbagai suku bangsa yang rela bergabung meleburkan diri sebagai bangsa Indonesia yang besar. Keberadaan suku bangsa – suku bangsa adalah fakta sejarah dan juga fakta hari ini. Suku bangsa bukan sekedar masa lalu, tetapi ia juga hidup dan eksis di masa kini. Keberadaan suku bangsa sebagai komponen yang menyokong pondasi bangsa Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Tidak ada bangsa Indonesia tanpa suku bangsa Aceh, Jawa, Sunda, Dayak, Bali, Sasak, Mandar, Ambon, Asmat dan lain sebagainya.

Mempertimbangkan pola pikir yang memisahkan suku bangsa sebagai masa lalu dan bangsa Indonesia sebagai masa sekarang, mungkin kita perlu menanamkan  penyebutan orang Indonesia-Aceh, Indonesia-Batak, Indonesia-Betawi, Indonesia-Jawa, Indonesia-Dayak dan seterusnya. Dengan menggabungkan dua ideom sekaligus berarti kita tengah merangkai kesejarahan dan asal-usul bangsa Indonesia kaitannya dengan keberadaan atau eksistensi suku bangsa – suku bangsa yang ada. Dengan demikian generasi muda kita tidak perlu lagi malu mengakui bahwa mereka orang Jawa, orang Ambon, orang Batak, orang Sunda, orang Bali, atau suku apapun yang telah melahirkan mereka dari rahim suci ibu pertiwi.

Ibarat sebuah sistem, ia memerlukan sub sistem atau komponen sebagai pendukung eksistensi sistem itu sendiri. Sebuah mobil, memerlukan roda, memerlukan bodi, mesin, kemudi, kaca, pegas, rem, dan lain-lain. Tidak ada mobil tanpa roda. Bukan mobil jika tidak ada kemudinya. Tidak bisa dikatakan mobil jika tidak memiliki mesin, rem, pegas dan semua komponen pendukungnya. Demikian halnya dengan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak akan berdiri tanpa suku bangsa Aceh, Jawa, Dayak, Sunda, Minang, Melayu, Sasak, Manado dan lain-lainnya. Bangsa Indonesia merupakan kesatuan atau perserikatan suku bangsa – suku bangsa yang ada di penjuru Nusantara.

Pemahaman relasi, kedudukan, serta pernanan yang benar antara bangsa dan suku bangsa penopangnya sudah pasti merupakan sebuah titik awal untuk menemukan dan memaknai kembali arti jati diri bangsa kita yang terasa semakin luntur. Dengan modal ini, kita baru bisa melangkah untuk dapat menyusun kembali pastel-pastel keutuhan bangsa besar yang porak-poranda ini. Semoga.

Bandung, 16 September 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s