Arti Akar Sejati Kepemimpinan


NanangHPSeorang dalang muda penggagas wayang urban malam itu bersabda, “Dalam sebuah pementasan  pagelaran wayang, wayang baru dikatakan benar-benar hidup jika para penonton sudah tidak lagi melihat siapa tokoh dalang di balik pagelaran tersebut. Lebih luas dalam konteks kepemimpinan Indonesia ataupun Nusantara, negeri ini baru bagus jika sudah tidak lagi penting siapa yang menjadi pemimpinnya karena yang dilihat dari seorang pemimpin bukan lagi bibit, bobot, atau bebet juga bukan soal kapasitas, kapabilitas, dan legalitas, tetapi semata-mata yang dilihat hanyalah karya nyata pengabdiannya kepada negara.”

Terus terang saya sangat terkesima dengan pembandingan dua panggung sandiwara dunia tersebut. Wayang bermakna bayang-bayang atau bayangan. Kisah wayang merupakan bayang-bayang atas refleksi kehidupan manusia di panggung dunia. Di jagad pewayangan ada karekter kebaikan dan kejahatan, kebajikan dan keburukan, kejujuran dan kebohongan, keserakahan dan kedermawanan. Intinya ada jagad hitam dan putih, kekuatan kebaikan dan kejahatan. Pentas panggung kehidupan pada intinya merupakan perseteruan abadi antara dua kekuatan tersebut.

Wayang, di samping merupakan pementasan sebuah karya seni yang tumbuh menjadi sebuah tontonan, ia juga mengemban misi sebagai tuntunan. Pencapaian dwifungsi wayang ini memerlukan kontribusi dan peranan dua pihak sekaligus, dalang dan penonton. Karakter wayang bisa benar-benar hidup di tangan seorang dalang yang mumpuni. Di samping memiliki kapasitas kemampuan mendalang yang handal, seorang dalang juga dituntut mampu menebar, menanam, atau mentransfer atau bahkan menginternalisasikan nilai-nilai luhur kepada para pemirsa setianya.

Sebagai sentral pementasan, dalang juga memerankan diri sebagai seorang pemimpin. Ia mengatur lelakonnya kisah pewayangan. Ia mengurutkan fragmen per fragmen yang menjalin sebuah lakon wayang. Ia pula yang mengkomandani para niyaga penabuh gamelan. Dalang juga menunjuk gending ataupun waranggono yang harus mengalunkan sebuah lagu pada suatu waktu. Hidup dan redupnya sebuah pementasan memang sangat ditentukan oleh dalang. Dalang menjadi sentral sekaligus penentu utama dalam pencapaian fungsi wayang untuk tidak sekedar menjadi tontonan namun sekaligus juga menjadi tuntunan. Dalang adalah akar wayang.

Jika dalang  menjadi pemimpin dan yang lainnya menjadi daulat yang dipimpin, maka para penonton juga menjadi bagian yang dipimpin dan diarahkan oleh dalang. Penonton bisa jadi akan hikmat menyimak nasehat para pendeta yang memberi suluh pelajaran kepada para ksatria pembela kebenaran. Di saat lain, penonton juga bisa gemas melihat tipu muslihat dan akal licik para penganut nafsu angkara murka untuk memerangi para ksatria kebajikan. Tak salah pula, penonton juga bisa tertawa ngakak bahkan terbahak saat dalang mementaskan fragmen punakawan yang bersenda gurau selepas detik-detik goro-goro.

Pada kenyataannya jumlah dalang yang ingin eksis saat ini juga teramat banyak untuk sekedar dihitung dengan jari. Masing-masing memiliki karakter dan kekuatan masing-masing. Ada dalang yang dipuji karena penjiwaan terhadap masing-masing karakter tokoh wayang. Ada juga dalang yang kesohor karena gaya sabetan yang lincah bagai orang yang kesetanan. Ada juga dalang yang digandrungi karena keberaniannya memadukan unsur tradisi dengan modernitas sehingga mampu mengintertaint pementasan. Maka jangan heran jika ada sebutan-sebutan seperti dalang edan, dalang setan, dalang gaul dan lain sebagainya.

Di samping jajaran para dalang yang terkenal, tentu lebih banyak dalang yang belum berkesempatan dikenal luas oleh masyarakat. Nah sayangnya, penilaian bagus atau jeleknya sebuah pementasan wayang banyak yang dipersandingkan dengan terkenal atau tidaknya dalang yang memainkan wayang. Meski hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi hal ini menunjukkan ketergantungan para penonton terhadap dalang yang tinggi. Senada dengan hal tersebut, hal ini juga menggambarkan ketergantungan rakyat terhadap pemimpin karena penonton juga simbolisasi rakyat dan dalang melambangkan kepemimpinan.

Dalam demokratisasi kekuasaan pemerintahan, pemegang kedaulatan tertinggi sebuah negara adalah rakyat. Rakyat adalah pemimpin sejati dari kedaulatan sebuah bangsa. Adapun pemerintahan dan segenap aparaturnya adalah para pelaksana rumah tangga negara. Mereka tak lain adalah “pembantu rakyat”.

Rakyat adalah akar sejati dari sebuah kepemimpinan atau kekuasaan. Ibarat sebuah pohon, akar memiliki peranan yang sangat vital dalam mewujudkan pertumbuhan setiap unsur pohon. Batang bisa berdiri tegak dan kuat karena ditopang akar yang kuat pula. Dahan dan ranting bisa terus tumbuh karena jasa akar. Daun bisa lebat juga tak lepas dari peranan akar. Bunga bisa mekar dan berkembang menjadi buah juga karena asupan sari pati bumi yang disadab lewat akar. Akar meskipun tak tampak, berada pda strata yang terendah, terpendam di dalam tanah, namun ia sangat penentukan tumbuh matinya sebuah pohon.

Akar, sebagai sebuah subsistem yang memerankan sebuah fungsi, jelas tidak boleh tampak, tidak boleh naik kepada kedudukan yang lebih tinggi. Akar tidak boleh berubah menjadi batang, dahan, ranting, daun, bunga apalagi buah. Sekali akar mencoba tampil ke permukaan, ingin menonjolkan jasa-jasanya maka habislah kehidupan sebuah pohon.Punahlah pula kehidupan.

Pun demikan pada sebuah negara. Rakyat sebagai akar kepemimpinan sejati yang memegang kedaulatan tertinggi, mungkin memang dipandang rendah, terpendam, tak tampak, tenggelam, terpinggirkan, bahkan dianggap tidak ada, namun sesungguhnya peranannya dalam tegak dan berdirinya sebuah negara sangat nyata. Maka apabila kepemimpian di pemerintahan melupakann akar kepemimpinan sejati ini, maka habis dan tamatlah riwayat kepemimpinannya. Tercabutlah amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Catatan ini merupakan pemaknaan secara luas dan bebas terhadap pernyataan seorang Nanang HP, sang dalang wayang urban, pada salah satu sesi diskusi Kenduri Cinta Edisi September 2014 di Taman Ismail Marzuki yang mengusung tema “United Nations of Nusantara”.

Ngisor Blimbing, 13 September 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s