Menepi ke Makam Imogiri


Imogiri1Entah atas dorongan kejiwaan apa, semenjak ijir dan bisa mikir, si Ponang kecil selalu antusias bertanya tentang makam. Dia akan lebih excited jika benar-benar diajak ke suatu makam. Di samping makam para mbah buyut leluhurnya, tercatat ia pernah bersambang ke beberapa makam yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Makam Kyai Raden Santri Gunungpring, Makam Sunan Ampel Surabaya, Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Makam Sunan Kudus di belakang Masjid Menara, Makam Sunan Muria di Gunung Muria, Makan Sunan Gunungjati Cirebon, Kuburan Cina Gremeng, dan yang terakhir pasca lebaran yang lalu ke Makam Raja-raja Mataram di bukit Imogiri.

Adalah pagi itu, kami berkendara roda dua menyusuri sebuah ruas jalan yang menjauhi kota Jogja ke arah tenggara. Jalanan saat matahari naik ke angkasa dipenuhi para warga yang berangkat menuju tempat aktivitas masing-masing. Ada para pedagang yang menuju pasar, ada pegawai kantoran yang berangkat ngantor, ada para pelajar yang menuju sekolah, bahkan deretan sepeda onthel yang mengantarkan para buruh berangkat makarya. Banyak pula pak tani yang tengah menuju sawah ladang di bulak-bulak tepian jalan. Bahkan ada pula gerobak sapi yang berjalan tersendat tertinggal oleh modernitas perubahan jaman. Jalanan yang padat ramai tersebut memberikan nuansa gambaran gerak hidup para manusia yang tengah menyonsong jalan rejekinya masing-masing.

Setelah berkendara kurang lebih setengah jam menapaki jalanan beraspal yang berkelok, tibalah kami di daerah Imogiri. Imogiri merupakan salah satu wilayah administrasi kecamatan di bawah Pemerintahan Kabupaten Bantul. Letaknya di sisi tenggara dan berbatasan dengan wilayah barat daya Kabupaten Gunung Kidul. Wilayah ini terdiri atas tanah perbukitan kars yang merupakan kesatuan deretan Pegunungan Seribu yang membentang hingga wilayah Pacitan di sisi barat pantai selatan Jawa Timur.

Kunjungan kami kala itu memang sudah melampaui lebih dari seminggu pasca lebaran. Di samping itu, waktu itu bukan merupakan hari-hari yang khusus banyak kunjungan peziarah seperti malam Selasa Kliwon maupun Jum’at Kliwon. Maka sangat wajar jika suasana sepi nan lengang kami temukan di seputaran terminal yang biasa menjadi titik kedatangan para peziarah. Hal yang sama juga kami rasakan pada saat memasuki pos parkiran para abdi dalem sebelum jalanan menanjak. Di pos ini hanya nampak dua-tiga orang para simbah abdi dalem yang tengah duduk-duduk sambil bercakap ringan. Kepada salah seorang dari mereka saya numpang permisi untuk menitipkan parkir motor.

Dengan berjalan santai, si Ponang kecil nampak bersemangat menapaki jalanan berundak dengan anak tangga yang lebar-lebar. Pelan namun pasti jalanan berundak yang melingkar di sisi kaki bukit tersebut kian menanjak. Di sisi kanan jalanan kami melihat deretan warung-warung sederhana yang mulai berbenah di pagi itu. Sementara sisi sebelah kiri merupakan lereng bukit yang masih asri dengan rimbunan pepohonan berwarna-warni. Di beberapa sisi lereng mulai berderetan batu nisan – batu nisan yang berderet dalam pagar nan rapi. Dugaan saya, makam-makam tersebut merupakan makam para abdi dalem atau kerabat jauh, atau bisa juga makam warga dusun Pajimatan secara turun temurun.

Imogiri2   Imogiri3

Tak lebih dari sepuluh menit berjalan, di sisi kiri ujung jalanan berundak terbentang gerbang yang menghadap pelataran datar yang cukup luas. Lurus di tengah pelataran berderetan anak tangga-anak tangga yang menanjak menghubungkan langsung ke area pemakaman utama di atas bukit. Di sisi kiri terdapat bangunan masjid bercorak arsitektur khas Jawa dengan atap tumpang tiga sebagai perlambang Islam, iman dan ikhsan. Bangunan masjid berada pada ketinggian sekitar tiga meter dari pelataran utama yang dihubungkan dengan anak tangga. Antara tangga naik dan pendopo masjid terbentang kolam yang ditujukan untuk bersuci bagi siapapun yang akan memasuki masjid.

Sedangkan di sisi kanan pelataran terdapat pendopo dimana dua orang abdi dalem nampak duduk lesehan. Keduanya berpakaian khas seorang abdi dalem keraton berupa baju beskap dan kain jarik lengkap dengan blangkon. Menilik pakaian mereka, keduanya merupakan perwakilan abdi dalem dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Dengan gupuh dan ramah, kedua simbah itu menyalami kami. Sejenak kamipun terlibat perbincangan seputar asal-usul dan keberadaan Makam Imogiri.

Di sudut kiri tangga utama, terdapat miniatur tugu golong-gilig yang melambangkan manunggaling kawulo lan gusti, kebersamaan antara raja sebagai pemimpin dan rakyatnya. Pada bagian atas tugu sisi bagian terdapat radyalaksana sebagai simbol Kasunanan Surakarta dengan tulisan PB X di bawahnya. Tugu tersebut dipuncaki dengan mahkota raja. Tugu peninggalan Paku Buwono X tersebut seolah menjadi penanda bahwa makam-makam para raja Kasunan Surakarta menempati sisi barat area pemakaman utama Imogiri.

Tepat di sisi belakang tugu golong-gilig tergantung sebuah peta silsilah raja-raja yang menurunkan Dinasti Mataram Islam, hingga keberadaan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X dan tentu saja juga Ingkang Sinuwun Paku Buwono XII saat ini. Pada peta silsilah para raja tersebut terpasang lambang larpraba atau mahkota bersayap yang merupakan simbol Kasultanan Yogyakarta. Keberadaan simbolisasi radyalaksana dan larpraba seolah mengukuhkan bagaimanapun Mataram Islam terpecah akibat tipu daya bangsa penjajah, namun sesungguhnya mereka adalah satu trah, satu darah, satu kerabat keluarga besar. Maka semenjak dari sangkan hingga paran, dari bibit leluhur, dari lahir hingga meninggal, trah agung itu tetap dipersatukan di area pemakaman yang sama.

Imogiri7   Imogiri8

Untuk mencapai area pemakaman para raja di atas bukit, peziarah harus menapaki  tangga selebar 5 meter yang menanjak hingga kemiringan 45º. Satu per satu anak tangga harus ditapaki dengan penuh rasa dan makna. Menapaki anak tangga dari bawah menuju ke atas seolah kita sedang menjalani perjalanan dunia menuju akhirat, dari alam fana menuju alam kekal, dari alam jagad bawah menuju ke jagad atas. Tidak hanya pengembaraan rasa, namun proses yang sedang dijalani sekaligus merupakan perjalanan raga yang sangat menguras tenaga. Jumlah anak tangga yang konon mencapai 409 merupakan ujian kekuatan fisik dan raga. Dibutuhkan stamina dan nafas yang prima jika kita ingin benar-benar mencapai atas bukit. Anak tangga dan perjalanan yang harus ditempuh juga bermakna kerja keras, usaha dan ikhtiar yang harus dilalui oleh setiap insan manusia jika ingin menggapai kemuliaan.

Area pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri dibangun atas prakarsa Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1632. Beliau adalah raja Mataram yang ke-tiga. Ia adalah cucu dari Panembahan Senopati yang merupakan raja Mataram pertama. Sultan Agung merupakan raja Mataram terbesar. Di bawah pemerintahannya, wilayah Mataram hampir meliputi keseluruhan Pulau Jawa. Ia juga dikenal sebagai raja yang gigih melawan penjajahan bangsa Kompeni Belanda. Pasukannya pernah menyerang Batavia berturut-turut pada tahun 1625 dan 1626. Serangan tersebut bahkan berhasil menewaskan Gubernur Jenderal J.P Coen.

Imogiri4Area pemakaman raja-raja di Imogiri ini dibagi menjadi tiga area utama, masing-masing makam Sultan Agung Hanyokrokusuma di bagian tengah, makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta di sisi timur, serta makam raja-raja Kasunanan Surakarta di sisi barat. Area makam ditandai dengan keberadaan gerbang gapuro berbentuk bentar yang terbuat dari batu bata merah. Bentuknya yang khas mengingatkan kita kepada gaya bangunan gerbang warisan Majapahit. Memasuki gerbang pertama makam, kita akan berada di sebuah pelataran yang tida begitu luas yang di kanan-kirinya terdapat pendopo para juru kunci makam, masing-masing merupakan abdi dalem Kasultanan dan Kasunanan.

Antara pelataran dan gerbang makam Sultan Agung dihubungkan dengan tangga menanjak. Area dalam makam dibatasi dengan pintu gerbang yang tidak setiap saat dibuka. Di lereng kedua sisi anak tangga tersebut tepat di bawah kerindangan pohon asem terdapat masing-masing sepasang gentong air yang bernama Kyai Mendung, Nyai Siyem, Kyai Danumaya, serta Nyai Danumurti. Gentong ini biasa diisi air untuk bersuci bagi peziarah yang akan sowan ke atas. Pada Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon minggu pertama bulan Suro, gentong-gentong tersebut akan dikuras sekaligus dibersihkan. Air kurasan banyak diyakini membawa berkah tersendiri.

Imogiri5   Imogiri6

Pada hari-hari biasa, pengunjung hanya bisa sampai di luar tembok pagar makam. Peziarah diperkenankan memasuki area dalam makam hanya khusus pada hari-hari tertentu, semisal Senin pukul 10.00-13.00, Jum’at pukul 13.30-16.00, tanggal 1 dan 8 Syawal pukul 10.30-13.00, dan untuk tanggal 10 Besar pukul 10.30-13.00. Untuk masuk ke dalam makam, peziarah harus mengenakan pakaian adat peranakan yang telah ditentukan oleh masing-masing juru kunci. Mengingat makam, mengingat kematian adalah salah satu cara manusia untuk belajar mempersiapkan bekal kelak di alam baka.

Ngisor Blimbing, 11 September 2014

 

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s