Kelingan Tari Bondan


???????????????????????????????Lain dulu memang lain sekarang. Lain sekolah jaman dahulu, tentu saja lain pula sekolah jaman sekarang. Terlebih dengan gonjang-ganjing gonta-gantinya kurikulum yang membingungkan banyak orang. Bagi para guru pengampu pelajaran, mungkin mereka telah mendapatkan sosialisasi yang memadai meskipun saya ragu apakah mereka benar-benar paham dan mengerti untuk mengimplementasikannya di ruang kelas.

Lewat kurikulum baru, tentu saja banyak hal yang baru pula. Khusus untuk kelas satu SD misalnya. Orang tua sekarang tentu saja tidak akan menjumpai nama-nama mata pelajaran yang sama dengan jaman sekolahnya dulu. Diantara nama mata pelajaran yang masih asing adalah pelajaran T-E-M-A-T-I-K. Coba bayangkan gek isi pelajarannya tentang apa hayo?

Membayangkan sebuah nama, mungkin memang tidak mudah. Tetapi kita mungkin akan lebih cepat paham tatkala melihat contoh-contoh dari pembelajaran dalam mata pelajaran tematik ini, sebagaimana pengalaman si Ponang di SD Panunggangan pada suatu hari. Dalam suatu pembelajaran tematik, dalam halaman buku catatannya yang bersampul depan bertuliskan TEMATIK tersebut terdapat  catatan nama-nama tarian daerah yang disalin dari tulisan Bu Guru di papan tulis. Tari Serimpi berasal dari Jawa Tengah. Tari Kecak berasal dari Bali. Tari Saman berasal dari Aceh. Tari Topeng berasal dari Betawi (bener?). Tari Tor-tor berasal dari Sumatera Utara. Tari Ngremo berasal dari Jawa Timur. Tari Bondan berasal dari Jawa Tengah.

Selepas Isya’ si Ponang mulai bertanya-tanya kepada Kanjeng Romo, “Pak, yang namane tari bondan itu kayak opo to?”

Mendengar tari bondan, dalam benak Kanjeng Romo ada semacam file memori yang antara tahu dan tidak, antara ya dan tidak, ya antara ingat dan lupa. “Rasa-rasane pernah dengar nama tari bondan. Tetapi yang seperti apa persisnya ya?” demikian kurang lebih suara hati yang seolah bergejolak kala itu.

Tetapi dalam kebimbangan rasa lupa yang benar-benar mendera akut tersebut, tiba-tiba seolah terbersit seberkas cahaya yang melesat dari sudut memori. Sejurus kemudian, antara yakin dan ragu yang bercampur, Kanjeng Romo spontan menjawab, “Oooo…..yang kayak ditarikan Bude saat kecil!”

Sembil menjawab singkat itu, sebenarnya di dalam benak Kanjeng Romo terbayang kakak perempuan sulungnya yang di masa kecil pernah menari di teras depan rumah tatkala ada rombongan priksanan Posyandu dari kecamatan yang menyambangi kampung halamannya. Kala itu, sang kakak mengenakan kebaya sederhana. Rambut setengah bahunya digelung rapi dengan ditempeli sanggul yang sedikit masih kebesaran kala itu. Kemudian di pundaknya tersampir selendar sampur warna kuning yang di kedua ujungnya bermotif batik merah yang sangat khas.

Yang terbayang soal tari bondan, adalah sang kakak dengan pakaian adat itu menggendong sebuah boneka jabang bayi yang dilengkapi popok serta kemben. Sambil menggendong boneka bayi, si penari membawa payung untuk melindungi si jabang bayi dari panasnya terik matahari maupun rintik-rintik hujan gerimis yang mungkin turun. Selain itu, tangan yang satunya lagi menjinjing sebuah kendi tanah liat yang menjadi simbol bekal minum untuk ibu beserta bayinya. Inilah gambaran mengenai tari bondan yang seketika itu terlintas.

Akhirnya daripada menggantungkan rasa penasaran si Ponang yang sedang excited, maka malam itu anak-bapak itupun kemudian bertandang ke rumah mayanya Mbah Geogle. Jaman memang telah memberikan karunia kemajuan teknologi yang mampu mempermudah berbagai kebutuhan hidup manusia modern. Bandingkan dan bayangkan jika hal yang sama kita pertanyakan kepada bapak-ibu kita dua puluh atau tiga puluh tahun silam. Tentu tidak banyak pilihan. Paling banter mungkin hanya membuka kepekan dari halaman buku sakti RPUL atau HPUL.

Tidak puas hanya dengan melihat beberapa gambar dan foto para gadis cilik berpose menarikan tari bondan, si Ponang meminta dicarikan video tari bondan. Akhirnya lewat lapaknya Mbak Youtube malam itu terputarlah tarian khas Jawa Tengah yang sudah hampir terlupakan tersebut. Ndalem Ngisor Blimbing terhanyut nglangut dalam alunan gendhing yang mendayu haru biru. Duuhhhh Gusti…….rasane itu lho?

Oalah dalah, pelajaran T-E-M-A-T-I-K itu lha apa ya? Mbuh lah!

Ngisor Blimbing, 10 September 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s