Logika Total, Logika Parsial


Demikian menduduki jenjang sekolah dasar, pembawaan si Ponang dalam belajar memang sedikit banyak ada perubahan. Konon di bangku sekolah yang baru, siswa semakin dituntut untuk lebih aktif dan mandiri dalam belajar. Terlebih tahun-tahun ini masih merupakan transisi bahkan “percobaan” penerapan kurikulum pendidikan tahun 2013 yang masih kontroversial itu.

Bukan mau mengulas panjang-lebar soal kurikulum yang menjadi bagiannya para pemikir dan jajaran petinggi negeri ini, tetapi saya hanya ingin sekedar cerita pengalaman si Ponang mengerjakan sebuah tugas dari guru kelasnya. Kelas satu SD memang merupakan tangga transisi dari pola pembelajaran taman kanak-kanak ke SD. Oleh karena itu konsep belajar dengan bermain masih akan nampak dengan kental.

Suatu hari si Ponang mengerjakan suatu tugas di dalam kelas. Tugasnya sebenarnya cukup sederhana. Setiap siswa diminta menghubungkan sebuah kata benda yang merupakan bagian dari anggota tubuh kita dengan sebuah kata kerja yang menyatakan suatu aktivitas tertentu. Contohnya kata ‘mata’, bisa dihubungkan dengan aktivitas ‘membaca’.

Nah, diantara deretan kata yang menunjukkan anggota tubuh manusia yang disimbolkan dengan gambar, ada gambar ‘mata’, ‘kaki’, ‘hidung’, ‘tangan’ ada juga kata ‘mulut’. Sementara di pada deretan yang lain terdapat pilihan gambar kegiatan, seperti ‘membaca’, ‘menulis’, ‘bersepeda’, ‘seikat bunga’, ‘kue lapis’, juga ‘bola’. Perintahnya cukup jelas, setiap siswa diminta menghubungkan deretan gambar di sisi kiri dan kanan.

Perintah dari sang guru cukup jelas dan mungkin sangat sederhana. Tetapi, namanya para bocah jaman komputer modern, penafsiran atas perintah justru bisa beragam. Hal inilah yang kemudian terjadi dengan hasil pengerjaan si Ponang. Untuk gambar mata, si Ponang langsung menghubungkannya dengan membaca, menulis,  dan bersepeda. Untuk gambar kaki dihubungkan dengan bersepeda dan bola. Adapun tangan dihubungkan dengan membaca, menulis, bersepeda, seikat bunga, kue lapis, termasuk bola. Untuk hidung dihubungkan dengan seikat kembang dan kue lapis. Sedangkan mulut dihubungkan dengan membaca dan kue lapis.

Lalu bagaimana hasil penilaian dari gurunya? Semua dicoret oleh guru dengan tegas. Nol besar, alias salah semuanya! Nilai berbentuk bulat telur diberikan kepada si Ponang pada jam pelajaran tersebut. Namanya juga anak kecil dan siswa masih baru lagi, si Ponang tentu saja belum berani protes. Hanya saja nalar dan logikanya menyimpan tanda tanya besar. Kenapa hasil pekerjaaan disalahkan semua sama Bu Guru.

Barulah pada sore hari ketika Ibuke pulang kerja, si Ponang berkisah dengan nada protes. Kok saya menjawab soal disalahkan semua oleh Bu Guru, begini, begini….bla…bla….bla. Untungnya Ibuke mau telaten mendengarkan keluh-kesah buah hatinya. Akhirnya buku tugas si Ponang dibuka bersama-sama.

Pelan-pelan Ibuke mencermati coretan-coretan di atas tugas yang dikerjakan anaknya. “Mata…gambar ini kamu hubungkan membaca, menulis,  dan bersepeda, kenapa kamu hubungkan ke tiga gambar kegiatan itu Le?” tanya Ibuke pelan.

Si Ponang nyerocos tegas, “Lha kan membaca pakai mata. Menulis juga pakai mata, kalau tidak bagaimana cara nulisnya? Bersepeda juga tetep pakai mata to? Kalau naik sepeda tidak pakai mata, bagaimana melihat jalannya? Kan pasti nabrak to?”

Gubrak, Ibuke mlongo setengah pingsan.

Si Ponang terus berargumen, ” Nah kalau tangan, saat membaca kan butuh tangan untuk memegang buku atau koran kan Buk? Menulis pasti pakai tangan dan mata juga to? Tangan dipakai saat bersepeda untuk memegang stang. Tangan dipakai pada saat mengikat bunga. Kita juga mengambil kue lapis dengan tangan untuk dimakan pakai mulut kan? Bola juga ditangkap dengan tangan. Kenapa salah ya?”

Nah-nah ini dia benang merahnya sudah mulai nampak. Bu Guru memberikan perintah dengan logika pikir parsial. Melihat sesuatu hanya dengan satu sudut pandang. Sedangkan si Ponang menggunakan logika pikir yang total menyeluruh sebagai sebuah keutuhan sistem. Jawaban yang diharapkan Bu Guru hanya memasangkan satu gambar dengan satu gambar lainnya. Siapa yang salah, siapa yang benar jika demikian?

Kenapa pada saat mengoreksi jawaban, si Bu Guru tidak menanyakan alasan kenapa si Ponang memberikan jawaban yang di luar yang diharapkan Bu Guru. Kenapa hal tersebut tidak dijembatani dengan sebuah komunikasi intensif dari seorang pendidik kepada siswanya? Dan kenapa harus langsung dipersalahkan? Di titik inilah mungkin Bu Guru harus lebih bijaksana untuk bisa ngemong siswanya dengan cara saling bertukar pendapat dan memahami sudut pandang muridnya yang kebetulan berbeda dengan dirinya tersebut. Bukankah dengan jembatan komunikasi akan dapat diberikan penjelasan dan pengertian yang masuk akal dalam batas-batas yang disepakati bersama?

Meskipun seolah kurikulum 2013 mengundang berbagai keraguan atau malah rasa pesimis di kalangan masyarakat, namun semenjak saya duduk di SD dulu ada satu pegangan yang seolah tidak pernah berubah, abadi dan tak lekang oleh perubahan jaman. Apakah itu? Ya, CBSA. Cara belajar siswa aktif. Dari dulu, siswa selalu didorong untuk senantiasa aktif dalam proses pembelajaran. Ya aktif bertanya ini-itu di dalam kelas. Aktif mengerjakan tugas dan PR di rumah. Ya termasuk aktif mencari bahan pembelajaran dari berbagai sumber tambahan. Jika, siswa dituntut aktif, terus bagaimana dengan sang guru?

Sudah pasti jawabannya. Gurupun harus juga aktif dalam memotivasi, menggali minat bakat, termasuk membuat suasana proses pembelajaran yang menyenangkan dan menggembirakan. Suasana kelas yang cair akan membuat peserta didik menjadi nyaman. Hal ini tentu akan mendorong proses pembelajaran yang lebih kondusif. Bandingkan jika suasana kelas gaduh dan ribut, bagaimana bisa para siswa berkonsentrasi? Bagaimana para siswa bisa tenang dan fokus untuk berpikir secara jernih, bagaimana siswa bisa menyerap setiap materi pelajaran yang diberikan, hal ini menjadi tanggung jawab utama seorang pendidik. Di sinilah peranan guru yang harus bisa digugu lan ditiru di dalam kelas. Menjadi sebuah rule model, panutan sekaligus contoh bagi peserta didik. Guru yang aktif dalam menciptakan suasana kondusif merupakan sebuah keniscayaan dalam proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Nah perihal keaktifan guru inilah yang saya rasakan sedikit berbeda daripada jaman dahulu. Guru jaman sekarang cenderung memberikan sedikit dari hal yang mungkin juga sedikit mereka miliki. Sangat jarang ditemukan guru yang masih terus aktif untuk belajar menguasai materi dan mengembangkan muatan, metode, dan pola pembelajaran yang efektif sesuai dengan perkembangan jaman saat ini. Bisa dihitung dengan jari, guru yang masih mau menimba pengetahuan untuk meluaskan wawasan dan pengalamannya. Jika siswa masih terus dituntut untuk aktif, justru kebanyakan guru berhenti di titik kemalasan karena alasan kurikulum yang terus berubah, karena teknologi yang semakin maju, karena inilah – itulah. Semoga hal ini menjadi koreksi dan pembelajaran bagi kita bersama demi kemajuan dunia pendidikan kita.

Lor Kedhaton, 1 September 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s