Berkunjung ke Saung Angklung


Angklung1Bambu, siapa yang tidak mengenal tanaman khas Indonesia yang satu ini. Bagi para sedulur yang tinggal di pedesaan, mungkin sangat akrab dengan tanaman beruas-ruas ini. Bahkan pada umumnya, keberadaan sebuah padusunan dipagari dengan tumbuhan bambu di pinggirannya. Ada jenis bambu petung yang besar-besar.  Ada bambu apus yang biasa digunakan untuk anyam-anyaman. Ada pula bambu wulung dengan khas warna hitam mengkilatnya. Ada lagi bambu gading dengan kulit kuning gadingnya. Masih ada bambu ampel, ori, dan tentu saja masih sangat banyak jenis yang tidak bisa disebut satu per satu.

Di samping banyak ragam dan jenisnya, bambu juga memiliki banyak kegunaan. Sebut saja hasil kerajinan tangan yang terbuat dari bambu, semisal wakul atau bakul nasi, tampah, tedho, kalo, irik, enthik, tenggok, krombong, kronjot, kranjang, juga capil. Ada juga perlengkapan bangunan rumah yang dapat dibuat dari batang bambu, mulai dari gedhek sebagai dinding pembatas, saka atau tiang, blandar, bahkan usuk dan reng untuk memasang genteng.

Selain itu, bambupun bisa dibuat menjadi peralatan musik. Anda percaya? Monggo diingat, ada seruling bambu, angklung, celung, karinding, celempung, genggong, termasuk arumba alias alunan rumpun bambu yang bisa disebut juga sebagai gambang bambu. Tentu saja masih banyak khasanah alat musik tradisional Nusantara yang terbuat dari batang bambu.

Khusus alat musik angklung, masyarakat sudah sangat mengenalnya sebagai alat musik tradisional asli Jawa Barat. Tidak begitu jelas sejarah asal-muasal alat ini, namun Suku Baduy dalam konon telah menggunakannya secara turun temurun untuk mengiringi upacara persembahan kepada Dewi Sri pada saat musim tanam padi maupun ketika memasukkan panenan padi ke dalam lumbung penyimpanan. Sejarah kemudian mencatat kemunculan angklung buncis pada tahun 1795 di kampung Cipurut, Desa Baros, daerah Arjasari, Bandung. Masa-masa berikutnya angklung mengalami perkembangan yang cukup pesat, terbukti dengan kehadiran jenis angklung seperti angklung gubrag, bungko, hingga angklung modern atau padaeng. Jenis angklung terakhir ini dikembangkan oleh Daeng Soetigna yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Angklung Dunia.

Membicarakan angklung di Kota Bandung, tentu tidak bisa dilepaskan dari Saung Angklung Udjo. Udjo Ngalagena, demikianlah nama lengkapnya, adalah sosok pelestari dan pengembang alat musik tradisional angklung khas Jawa Barat. Dialah sosok yang mempelajari secara seksama musik angklung dari maestro Daeng Soetigna.

Pada tahun 1966, Mang Udjo bersama Uum Sumiati (istri) mendirikan sebuah sanggar atau padhepokan seni angklung yang kini dikenal sebagai Saung Angklung Udjo. Saung yang terletak di Jalan Padasuka 118, Kota Bandung sisi timur,  merupakan perwujudan nyata Mang Udjo terhadap tanaman bambu dengan segala potensi kegunaannya. Di berbagai sudut halaman atau pekarangan saung tumbuh dengan teduh berbagai macam jenis tanaman bambu, diantaranya ada bambu wulung, gombong, gading, ori, serta ampel. Keberadaan rumpun bambu inilah yang menjadikan suasana sejuk nan sepoi senantiasa dirasakan oleh setiap pengunjung yang datang.

Pada kesempatan akhir Agustus lalu, saya berkesempatan turut berkunjung ke Saung Angklung Udjo. Di tengah teriknya panas matahari Kota Bandung, kami diantar dengan sebuah bus memasuki pelataran Saung Angklung. Suasana panas yang semula menyengat, perlahan namun pasti berkurang menjadi semakin sejuk tatkala kami memasuki halaman Saung Angklung yang dipagari dengan berbagai jenis tanaman bambu. Kedatangan rombongan kami disambut dengan sangat hangat oleh pihak saung. Satu persatu tamu yang datang disambut dengan senyuman para neng geulis sambil mengalungkan sebuah angklung mini.

Ruang terdepan dari Saung Angklung merupakan sebuah ruang workshop hasil berbagai kerajinan tangan yang terbuat dari bambu, juga segala macam merchandise yang berkaitan dengan Saung Angklung. Ada kaos dengan berbagai motif khas saung. Ada miniatur wayang golek, kalung, gantungan kunci, peralatan main tradisional, beberapa jenis batik, dan yang sudah pasti aneka angklung baik yang dijual sebagai satuan maupun dalam wujud seperangkat angklung lengkap hingga beberapa oktaf atau rentang nada. Dibandingkan dengan keunikan maupun proses pembuatan yang memerlukan ketekunan dan ketelitian yang ekstra, berbagai produk souvenir karya seni di saung tersebut tentu saja tergolong relatif murah.

Sambil menunggu waktu pertunjukan, kami serombongan dijamu dengan hidangan makan siang di saung dapur. Meski menu yang disajikan cukup mengundang selera, namun sayang seribu sayang kami sama sekali tidak menemukan sajian khas sayur rebung maupun lumpia isi irisan rebung yang menurut kami sangat identik dengan bambunya Saung Angklung.

Tiba giliran menu utama Saung Angklung disajikan. Apalagi jika bukan sajian pertunjukan seni musik angklung yang sudah mendunia lewat Saung Angklung Udjo. Sebagai tambahan informasi, bersama dengan Saung Angklung Udjo, musik angklung telah dipentaskan di berbagai penjuru dunia, baik di Asia, Eropa, maupun Amerika. Bahkan, melalui UNESCO, PBB telah menetapkan angklung sebagai salah satu warisan budaya dunia asli Nusantara. Bukankah kita semua sepatutnya turut bangga dengan angklung, warisan agung dari nenek moyang kita sendiri.

Mengawali rangkaian pertunjukan, sepasang MC muda-mudi memberikan berbagai penjelasan dan informasi yang berkaitan dengan angklung, Saung Angklung, dan beberapa seni tradisi serta budaya khas Sunda atau Jawa Barat. Rangkaian pertunjukan angklung siang itu terdiri atas demonstrasi wayang golek, helaran, tari topeng, arumba, bermain angklung bersama, angklung orkestra, serta menari bersama.

Dari keseluruhan rangkaian pertunjukan angklung, setiap sesi memberikan kesan yang sangat mendalam di sanubari masing-masing penonton. Betapa setiap orang hanyut, terlarut hingga menjadi satu kesatuan bagian dari pertunjukan itu sendiri. Inilah barangkali mukjizat bahwa angklung bisa menyatukan manusia dari beragam latar belakang menjadi sesama saudara dalam paduan sebuah kebersamaan yang terbalut dalam semangat dan suasana yang sangat harmonis, sebagaimana dicita-citakan para penggiat angklung. Bukankah kita sangat beruntung memiliki beragam aset kekayaan seni budaya? Bagaimana mungkin justru kita seringkali kehilangan jati diri dan lebih mengagungkan produk budaya dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa kita? Mohon monggo kita renungkan kembali.

Bandung, 27 Agustus 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s