Plakat Pengasah Bakat


Meskipun tahun pelajaran baru bagi siswa sekolahan sudah dimulai di pertengahan bulan puasa yang lalu, tetapi si Ponang justru baru di minggu ke-2 bulan Agustus mulai sekolah. Ya dimana lagi jika tidak di SD Panunggangan 5. SD yang masuk kategori sebagai SD Indonesia Hebat. Setidaknya bagi Kanjeng Bopo yang memang dengan tekad bulat memilih sekolah terdekat untuk putra sulungnya. Percaya nggak? Wis, sing penting teko manut wae.

Angkung  Angkung1

Kok bolehnya ngalembana sekolahannya si Ponang optimistik. Lha memang menilik peningkatan solah bawane sang anak dalam mencapai beberapa hari sekolahannya, nampak terjadi perubahan-perubahan yang signifikan je. Bukan sekedar nggege mangsa atau terlampau dini jika si Ponang semenjak di taman kanak-kanak sudah mulai cas-cis-cus mbacanya tulisan. Bagaimana tidak, lha wong nguntal bangku sekolah TK-nya tiga tahun lebih!

Kemampuan si Ponang dalam dunia baca-membaca memang ngedapedapi bagi bocah sebayanya, terutama teman-teman sekelasnya. Namun hal yang sama sedikit tidak sejalan dengan kemampuannya dalam olah kanuragan tulis-menulis. Tulisan tangannya masih lebih mirip cekeran pitik. Penuh huruf abstrak, atau kadang bahkan lebih mirip huruf-huruf di batu prasasti kuno peninggalan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Namanya juga tulisan anak yang baru belajar nulis. Harus dimaklumi jika bentuk huruf masih acak kadut, sering terbalik-balik, besar-kecilnya kapital masih suka-suka, apalagi soal spasi dan tanda baca. Semua masih dalam permulaan sebuah proses yang tidak pendek. Masih perlu waktu dan juga ketekunan yang harus terus disemai. Huruf demi huruf yang digoreskan seorang bocah memang berkembang sesuai dengan perkembangan usianya. Sayapun percaya dengan teori tersebut.

Di luar hal yang sebenarnya cukup wajar bagi perkembangan tulis-menulis seseorang tersebut, dalam beberapa kesempatan justru si Ponang menampakkan kreativitas yang berhubungan sangat erat dengan proses pembelajaran tulis-menulis yang kini tengah ditempuhnya. Entah secara naluri atau mungkin meniru perilaku dari siapa, tetapi akhir-akhir ini di beberapa sudut rumah kami muncul tempelan plakat-plakat kertas kecil buah tangannya. Ada di pintu, ada di dinding, ada di jendela, ada di pintu kulkas, bahkan juga di pintu kamar mandi. Ada yang dibuat dari kertas terus ditempel dengan isolasi. Ada pula yang dibuat pada kertas post it kuning khas itu.

Lha kok elok, terus geknya plakat-plakat itu isi tulisannya apa hayo? Tentu saja bukan protes sembako mahal atau penolakan penghapusan subsidi BBM. Bukan pula protes keras hasil pilpres kemarin. Lha terus gek plakat itu mangsud dan tujuannya apa coba? Coba tengok beberapa contoh tulisan di dalam plakat-plakat mini tersebut.  Satu diantaranya, “Silahkan masuk. Tapi harus membunyikan angklung. Conto gambar angklung di sebelah sana!” Demikian sebuah kertas putih kecil yang terpampang di jendela depan teras yang tepat berada di sisi pintu masuk ruang tamu rumah kami.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s