Merdeka atau Merdesa?


Dirgahayu HUT RI Ke-69! Rupanya bangsa ini sudah sekian dasawarsa mengenyam nikmat kemerdekaannya. Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia mampu lepas dari belenggu penjajahan selama lebih dari tiga setengah abad. Api revolusi dan keinginan luhur para pejuang negeri ini telah membuahkan satu jembatan emas bagi cita-cita luhur untuk menggapai kesejahteraan secara adil dan merata. Namun apakah di hari ini segenap komponen bangsa, terkhusus wong cilik yang hidup di akar rumput, telah benar-benar mengenyam manisnya buah kemerdekaan?

Lihatlah sekeliling kita! Tengoklah setiap sudut dan penjuru Nusantara! Jelajahilah dusun dan desanya! Apakah benar rakyat telah merdeka? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, dari kelaparan, dari ketidakadilan, dari kesewenang-wenangan penguasa. Tanyakanlah pertanyaan maha penting ini ke dalam lubuk hati dan dasar nurani terdalam kita!

Sang Kiai Mbeling bersabda, “Negeri ini telah cukup lama merdeka hingga lupa bagaimana mengerjakan kemerdekaan itu. Sekian lama pandangan kita senantiasa kabur atas nilai kehidupan, hingga kita kemudian tidak memiliki pegangan nilai yang hakiki dalam menjalani hidup.”

Manusia Indonesia yang sudah merdeka ternyata kemudian hanya terjebak kepada pramagtisme hidup. Hidup sedemikian tereduksi hanya sekedar menggapai kejayaan material tanpa mempedulikan unggah-ungguh tata pergaulan manusia. Kekayaan adalah segala-galanya cita-cita luhur dan telah dituhankan oleh banyak kalangan diantara kita. Para penguasa negara tidak lagi berorientasi bagaimana mewujudkan kesejahteraan dan keadilan yang serata-ratanya bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, melainkan bagaimana kekuasaan digenggamnya erat-erat untuk pemenuhan ambisi pribadi dan memperkaya diri sendiri. Maka sesungguhnya, dalam arti yang sejati, negeri ini terjajah oleh bangsanya sendiri.

Merdeka adalah lepasnya sebuah bangsa dari belenggu ketertindasan penjajahan bangsa lain. Merdeka diambil dari kata “mardikers”, sebutan bagi suatu kelompok pejuang yang menuntut kemerdekaan(persamaan derajat) di Eropa pada abad 18. Dalam hal ini makna kemerdekaan lebih sebagai suatu kebebasan berpolitik untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebuah bangsa yang merdeka adalah sebuah bangsa yang mampu berdikari, berdiri di kaki sendiri, untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memakmurkan segenap komponen anak bangsa.

Namun apakah sebuah bangsa yang dibentuk dengan sistem yang secara sistematis memperkaya segolongan dan kelompok tertentu, sementara di sisi lain secara sistematis pula memiskinkan dan memarjinalkan kelompok anak bangsa yang lain, bisa disebut sebagai bangsa yang merdeka? Ataukah hal ini bisa disebut sebagai penjajahan sekelompok anak bangsa terhadap kelompok anak bangsa yang lain? Ataukah ini memang penjajahan gaya baru, sebuah penindasan modern melalui suatu sistem yang seolah-olah terlegitimasi namun sesungguhnya terjadi pengingkaran nilai demokrasi?

 

Kalangan para pejuang kemanusiaan  di awal dan pertengahan abad 20 terbelah menjadi dua aliran besar. Aliran pertama menempuh jalur struktural dengan melenyapkan pemerintahan penjajah dan menggantikannya menjadi suatu negeri yang berkedaulatan secara politik. Puncak perjuangan kelompok ini adalah tercapainya kemerdekaan. Kemerdekaan adalah jembatan emas sekaligus pintu gerbang untuk mensejahterakan rakyat secara lebih adil dan merata. Termasuk dalam kelompok ini adalah Soekarno, Hatta, Nehru, Kemal Atatur, Che Guavara, Josef Bros Titto, hingga Fidel Castro.

Adapun kelompok kedua lebih fokus kepada gerakan kultural atau budaya. Perjuangan utama adalah mengangkat harkat dan martabat menusia untuk mendudukkan hak asasi secara sederajat diantara sesama manusia. Puncak cita-cita perjuangan kemanusiaan dirumuskan sebagai “merdesa”. Merdesa mengandung makna yang lebih luas daripada merdeka. Merdesa berarti kemerdekaan yang membebaskan, kemerdekaan yang mensejahterahkan, kemerdekaan yang mencerdaskan, memakmurkan, meratakan keadilan dan segala hal yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Merdesa diambil dari makna desa secara sosiologis antropologis, dimana masyarakat desa dalam banyak sisi, ternyata lebih mempertahankan nilai dan sikap kemanusiaan. Tepo sliro, gotong royong, kebersamaan, keguyuban, welas asih, dan seribu satu kebajikan yang lain. Gerakan merdesa lebih luas dan mendalam cakupan perjuangannya, tidak hanya khusus dalam bidang sosial budaya, namun sesungguhnya mencakup politik, ideologi, ekonomi, dan lain sebagainya. Bahkan kerasulan dan kenabian yang turun di muka bumi bertujuan untuk mencerahkan manusia sesuai kodrat dan hak asasi yang telah diberikan oleh Tuhan, manusia yang berperikemanusiaan.

Pelopor gerakan merdesa di abad 19 dan 20-an diantaranya Mahatma Gandhi, Ahmad Dahlan, hingga Hasyim Asyhari. Bahkan di era saat ini tokoh seperti Gus Dur, Romo Mangun, Rendra, Buya Syafii, Emha, Gus Mus, Paus, Bunda Theressa dan lainnya menggebrak penyadaran manusia akan hakikat menusia di ranah gerakan sosial budaya. Bagaimanapun Nusantara secara “politik” memang telah menikmati kemerdekaannya, namun dalam arti kedaulatan manusia atas hak asasinya, kita sama sekali belum “merdesa”.

Nusantara adalah negeri seribu satu impian yang dianugerahi limpahan curahan surgawi. Bagaimana bumi, air, udara dan segala sumber daya alam yang terkandung di dalamnya sangat berlimpah ruah dan sangat berpotensi untuk menjadikan bumi Nusantara sebagai bangsa besar pengusung kemajuan peradaban manusia sebagaimana nenek moyang kita di masa peradaban bangsa Atlantis dan Lemurian mencapai masa keemasannya. Nusantara adalah sang perkasa rajawali sakti, garuda raksasa yang sanggup menjelajahi dimensi ruang dan waktu, memiliki pandangan visi dan misi yang tajam menembus segala jaman.

Namun sayang seribu sayang, bangsa ini baru mencapai sebagian “kemerdekaannya”! Hal ini yang kemudian “mengempritkan” sang rajawali sakti. Bagaimana sebuah bangsa yang besar hanya bersikap laksana burung emprit di percaturan pergaulan antar bangsa di dunia? Kita terlalu menunduk dan dibodohi oleh banyak bangsa lain di belahan bumi atas nama kepentingan sekelompok elit tertentu. Kita menjadi bangsa yang seolah loyo karena digerogoti pengkhianatan anak bangsanya sendiri. Maka mulai detik ini bersikaplah dengan sepenuh kepercayaan diri untuk lebih mandiri dan berdaulat. Moga kita akan “merdesa” di masa yang tidak terlalu lama lagi! Merdesa bangsaku, jayalah negeriku!

Ndalem Peniten, 16 Agustus 2010

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s