Reunian Kecil-kecilan


Dua puluh satu tahun merupakan rentang waktu yang lumayan panjang. Waktu itulah yang telah saya dan teman-teman seangkatan lewati selepas tuntas menyelesaikan bangku SMP. Sebuah SMP sederhana di ujung Jalan Pemuda Muntilan yang tepat bersebelahan dengan Toko Tape Ketan. Sampeyan tahu SMP 1 Muntilan? Di sanalah dulu saya sempat nyantrik selama tiga tahun.

SMP 1 MuntilanSekolah saya itu konon merupakan sekolah tingkat SMP tertua di Kabupaten Magelang. Bayangkan saja sedulur, sekolah kami berdiri sejak 1945. Hanya beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dilakukan oleh Bung Karno – Bung Hatta. Oleh karena itu tidak berlebihan jika di masa lalu SMP 1 Muntilan lebih populer sebagai SMP Perintis. Sebagai sekolah tertua, sejarah memang kemudian mencatatkan sekolah kami menjadi sekolah terdepan dalam prestasi pembelajaran, bahkan hingga saat ini. Maka tidak berlebihan jika sekolah tersebut hingga kini masih menjadi sekolah favorit di wilayah Kabupaten Magelang.

Tiga tahun bergumul di bangkus SMP tentu saja menyisakan banyak kenangan haru biru ala anak putih biru. Mulai kisah klasik tentang sesama teman sekolah, para guru, dan segala sesuatu suasana, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian unik masih terpatri kuat di ingatan saya. Soal teman-teman sekelas, paling tidak saya masih ingat dengan nama-nama maupun alamat rumah mereka. Sebut saja nama-nama seperti Marjiono, Kuntaryadi, Haryana, Handoyo, Erwin, Johan, Gunawan, Mahbub, Heru, Muhtar, Sarip, Rolid, Irwan, Doni, Triyono, Makruf, Isnaeni, Ibnu, Ratno, Agung, juga Beni Himawan. Untuk nama-nama siswa putri tentu saya masih ingat dengan nama-nama Etika, Erni, Sita, Ida, Siti, Yuni, Purwati, Almum, Nanik, Winarsih, Indria, Riyanti, Maya, Nila, bahkan tentu saja nama Islamiyah. Mungkin masih ada yang kelewat, tetapi pada intinya nama-nama sebagian besar diantara teman sekelas hingga kini masih teringat.

Bergaul sekian lama dengan teman-teman seperjuangan dalam menuntut ilmu tentu saja menorehkan seribu satu kisah. Ada kisah tentang keluguan para bocah ndeso yang baru mengenal kota. Ada cerita tentang mbolos pelajaran, cerita tentang nggarapi guru, cerita tentang hukuman guru BP, kisah tentang saling contek pada saat ulangan, juga guru yang ngambek tidak mau masuk kelas kami. Semua kisah itu menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terhapus dari rekam jejak setiap tahapan kehidupan kami masing-masing.

Dalam kesempatan lebaran tahun ini, bebera rekaman abadi tersbeut sempat terputar kembali seolah baru terjadi hari-hari kemarinnya. Ceritanya begini sedulur!

KunMenjelang seminggu lebaran bergulir, saya sengaja menyambangi Kuntaryadi yang kini tinggal di Bakalan, dekat Terminal Bus Muntilan. Rencana semula, saya ingin juga bersilaturahmi ke rumah Marjiono dan Haryana di Tersan Gede.  Namun pada kesempatan justru, mereka sedang plesiran angon bocah di Gembiro Loka. Akhirnya saya siang selepas Dzuhur mendarat di rumah Kun yang sudah didiaminya hampir dua tahun ini. Sebelumnya, Kun yang masih bujang kerja di Semarang dan hanya sesekali pulang ke rumah orang tuanya (seringkali bahkan hanya pada saat lebaran saja). Fakta kisah perjodohannya justru ia yang bekerja di Semarang mendapatkan istri asli Semarang yang bekerja di Muntilan. Akhirnya wira-wirilah Kun setiap akhir pekan Semarang – Muntilan.

Nah, semenjak kunjungan saya ke tempat Kun di Bakalan tahun lalu, saya langsung mengingatkannya kepada nama-nama teman SMP yang asli anak Bakalan. Ada nama-nama seperti Sarip, Ibnu, dan Kristi. Pada kesempatan saya mengingatkan kembali nama-nama tersebut, Kun langsung tergugah untuk menyambangi rumah Sarip. Konon ia pernah selintas bertemu wajah Sarip di toko bangunan Pak Kuri yang ada di ujung gang rumahnya.Dari pemilik toko, ia sempat diberikan ancer-ancer tempat tinggal Sarip.

Akhirnya selepas Ashar, kami berdua memasuki sebuah gang yang mengarah ke rumah Sarip. Ketika sempat bertanya-tanya kepada seorang remaja tentang nama Sarip, justru remaja tersebut balik bertanya, “Sarip BRI nggih Mas?”

Sarip BRI, ah tentu saja kami kurang tahu. Tetapi yang kami ingat kawan kami tersebut memiliki nama lengkap Sarip Lukmawan. Akhirnya kami berdua diantar ke sebuah rumah mesteran setengah jadi yang di depan terasnya terdapat sebuah sumur timba kecil. Setelah seorang perempuan muda keluar dari balik pintu, kami bertanya apakah benar rumah tersebut tempat tinggal Sarip. Si Mbake justru membenarkannya. Jadilah kemudian kami berdebar menunggu apakah Sarip yang akan keluar menemui kami adalah Sarip yang benar-benar Sarip kawan kami.

Sejurus kemudian mbedunduk nongol sesosok wajah. Muka bulat agak lonjong dengan perawakan tinggi ramping, dan belahan rambut sisir tengah. Tak salah memang, dialah Sarip teman kami. Dengan serta-merta ia tentu saja langsung dapat mengenali Kun yang notabene kini menjadi tetangga seberang jalan. Nah ketika sengaja dia saya pancing untuk mengingat saya, diapun tanpa terlalu lama berpikir langsung bisa menyebutkan nama saya. Kamipun berjabat erat setelah dua puluh satu tahun sama sekali tidak pernah bertemu. Sungguh pada saat itu saya merasakan sebuah kenikmatan terjalinnya tali silaturahmi yang menentramkan hati kami masing-masing.

SMP 1 MuntilanCerita punya cerita, ternyata selepas kelulusan SMP sempat nyangkut sekolah di STM Muhammadiyah Blabak. Setahun di sana ia justru ndaftar sekolah ulang di STM Cawang. Lulus dari sana ia sempat bekerja pada sebuah perusahaan elektronika. Namun malang tak dapat ditolak, bersamaan dengan goro-goro krismon, perusahaannya gulung tikar hingga iapun kehilangan pekerjaan. Sempat ngalor-ngidul mencoba berbagai usaha, kini Sarip menjadi penjaga malam di BRI Unit Blondo. Jadilah ia manusia malam, sang penganut ilmu kelelawar sakti dari cerita Babad Tanah Leluhur.

Hanyut ngobrol ngalor-ngidul tentang perjalanan hidup kami masing-masing dan tentu saja tentang nostalgia masa sekolah dulu menjadikan kami sedikit melupakan waktu. Sejenak setelah menikmati hidangan nasi goreng gurih-pedas buatan istri Sarip, saya dan Kun ngglandhang Sarip untuk turut menemani ke sebuah butik pakaian di samping toko Pak Kuri. Kono di sanalah tempat tinggal kawan kami yang lain, Kristi atau dipanggil juga Yulis.

Tak seberapa lama beranjak dari rumah Sarip, kami segera ketok pintu pada sebuah toko pakaian di pinggir jalan utama kampung Bakalan. Ibarat kisah kepancal sepur, Ibuke dan saudara Kristi yang menjumpai kami justru menceritakan bahwa anaknya baru balik kembali ke Jakarta tengah hari beberapa saat sebelumnya. Meski kami sedikit kecewa tidak menjumpai teman lama, tetapi setidaknya kami bisa berkenalan dengan keluarga teman kami dan yang pasti kini kami sudah tahu pasti dimana tempat tinggalnya. Mudah-mudah pada kesempatan lain kami bisa dipertemukan.

Selepas dari Bakalan, Sarip menantang untuk sowan ke Bu Yayuk, guru bahasa Inggris kami. Guru kami tersebut menurut Sarip kini tinggal di perumahan Taman Agung yang hanya beberaka jengkal dari Kampung Bakalan. Hanya perlu bertanya sekali kepada tetangga Bu Yayuk, akhirnya senja itu kami dipertemukan kembali dengan salah seorang guru yang cukup favorit bagi siswa-siswinya.

Bu Yayuk   Erwin

Bu Guru yang satu ini nampak tidak banyak berubah. Dari raut muka, postur tubuh, bahkan gerak-gerik serta ucapannya masih serupa dengan dua puluh satu tahun yang lalu. Hanya saja ia kini sudah menjadi seorang hajah yang tentu saja menambah kelembutan tata bahasa dan perilakunya. Satu per satu kami ditebak-tebak buah manggis oleh Ibu Guru kami. Beruntung setelah dengan beberapa pancingan cerita, Ibu dapat juga menganali saya. Untuk Kun dan Sarip, akhirnya Ibu menyerah dan meminta keduanya ngaku nama masing-masing.

Tepat bedug Maghrib kami bertiga mohon diri setelah sebelumnya sempat meminta berfoto mengabadikan silaturahmi kami. Selepas Maghrib, anjangsana dilanjutkan ke belakang SD Gunungpring 4. Di sanalah kami menjumpai Erwin, sang mantan ketua kelas kami. Dengan Erwin kamipun ngobrol menuntaskan rasa kangen setelah sekian lama. Tanpa terasa hari kian larut dan kamipun saling berpisah untuk menjalani rutinitas masing-masing kembali. Duh Gusti, moga paseduluran kami tetap senantiasa terjaga sepanjang masa.

Lor Kedhaton, 14 Agustus 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s