Keciblon Kali Blongkeng


Blongkeng2Manusia mana mungkin dipisahkan dengan alam, apalagi anak-anak. Alam adalah ruang bagi anak untuk bermain. Belakangan, terutama di lingkungan perkotaan, alam sebagai ruang bermain untuk anak justru semakin terbatas bahkan hilang sama sekali. Anak-anak jaman sekarang semakin jauh dan terasingkan dari alam. Maka dengan semboyan back to nature, anak-anak kota kini banyak meminati aneka permainan berbasis alam yang dikemas dalam kegiatan out bond.

Out bond? Dari istilahnya yang menggunakan bahasa linggis (maksudnya sih English), terkesan out bond menjadi sangat modern dan mengkota. Padahal kalau kita lihat aktivitas-aktivitas anak-anak yang dikatakan sebagai out bond ya tidak jauh dari ngguyang kebo, mandi lumpur, mbajak sawah, main eggrang, gondal-gandul tali, juga penekan wit. Lho kok? Kalau contoh-contoh itu semua kan aktivitas yang sangat akrab bagi bocah dusun? Lha memang! Berarti memang out bond itu proses kembalinya manusia kota ke desa, dengan segala sifat alamiahnya. Secara luas, ya back to nature tadi!

Bagi wong ndeso, perilaku anak-anak kota yang out bond itu justru diarani ndeso. Hal yang menjadi kebiasaan sehari-hari mereka justru menjadi sebuah kekaguman, keluarbiasaan yang kayaknya sesuatu banget dech! Jika demikian bukankah sebuah nilai komparasi antara kota-desa dalam sudut pandang ini justru sudah terbalik? Kota yang identik dengan kemajuan, kemewahan, juga keunggulan, justru kini mengekor kepada desa.

Di sisi lain, masyarakat desa justru harus semakin bersyukur bahwa ukuran kemajuan dan keunggulan yang sejati sesungguhnya adalah apa yang telah mereka miliki selama ini. Hidup rukun, saling welas asih, kesederhaan, kebersamaan, guyub, gotong royong, justru menjadi semakin bernilai di tengah globalisasi jaman yang semakin menyeret manusia menjadi semakin tidak manusiawi. Keseluruhan sifat dan sikap hidup masyarakat desa itu sebenarnya merupakan refleksi timbal balik interaksi mereka yang intens dengan alam di sekitarnya. Dan manusia kota kini mau membayar berapapun untuk memiliki rasa dan perasaan sebagaimana orang desa yang senantiasai dekat dengan alam tersebut. Dunia memang sekedar cakramanggilan, roda kehidupan yang terus berputar.

Blongkeng5    Blongkeng6

Bercermin dari kenyataan tersebut di atas, alangkah sangat ruginya masyarakat desa yang hingga kini belum tersadar dan mengkiblatkan diri kepada semua hal yang berbau kota. Bukankah banyak diantara orang tua masa kini di lingkungan perdesaan yang justru merasa minder dengan “kedesaaan” yang mereke miliki. Dolanan tradisional dianggap kuno. Berjalan kaki atau ngepit onthel dianggap ketinggalan jaman. Anak-anak kampungpun jika tidak paham dengan play station, games hp atau ipad, tidak tahu facebook dianggap ndesit. Padahal jika kita resapi secara mendalam, semuanya itu hanya sekedar sawang-sinawang yang bersifat sangat relatif.

Bagi saya pribadi, sebagai orang tua, saya akan senantiasa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya bagi anak-anak yang ingin bergelut atau bergumul sedekat-dekatnya dengan alam. Ingin ciblon di kali, ingin mandi lumpur bersama kebo, ingin nguber banyu blumbang, ingin main layangan, ingin blusukan di semak belukar, ingin nyuluh manuk, ingin turut ngluku-garu di sawah, juga angon sapi ndak masalah. Justru saya akan teramat sangat bangga jika anak-anak mau menyelami dan menghayati kehidupan bersama alam karena dari sanalah budi pekerti luhur, karakter serta kepribadian yang kuat dapat tumbuh sengan subur.

Blongkeng3    Blongkeng4

Maka demi memberikan kesempatan yang semerdeka-merdekanya kepada buah hati dan seorang keponakan, di sela-sela kunjungan keliling untuk bersilaturahmi ke beberapa simbah dan pakdhe pada lebaran kemarin, saya sempat angon bocah menikmati kesejukan air Kali Blongkeng yang berhulu di gunung Merapi. Aliran air yang jernih tanpa sampah, batu-batuan endapan erupsi yang halus dan licin, ditambah semilir angin sore yang sepoi-sepoi menjadikan kegembiraan kami semakin memuncak. Kami ambyur ke badan air dengan sebebas-bebasnya. Basah-basahanpun meninggalkan keasyikan tersendiri yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Intinya, Kali Blongkeng telah menenggelamkan kami dalam luapan kebahagiaan batin yang tiada tara.

Ulah si Ponang yang berpose ala petapa sakti yang tengah kungkum banyu mengharuskan saya untuk selalu ngguya-guyu tanpa henti. Demikian si Tia yang tekun menyusuri bebatuan sambil mencari lumut-lumut hijau untuk bahan masak-masakan benar-benar membuat hati trenyuh. Mereka nampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Sesekali suasana gemericik aliran air diselang-selingi kecipak batuan kerikil yang saling dilempar oleh kedua bocah tersebut. Cengar-cengir, kadang mrengut, tetapi yang lebih sering terjadi adalah derai tawa riang yang lepas. Ah, betapa saya sungguh sangat bahagia menyaksikan detik-detik kegembiraan hari itu.

Blongkeng1  Blongkeng7

Ternyata untuk merasakan sebuah kebahagiaan tidak perlu harus jauh-jauh apalagi berbiaya mahal. Di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, kita dapat kok menemukan sebuah suasana maupun wahana untuk menghadirkan sebuah kebahagiaan. Semua dihamparkan Tuhan sebagai anugerah alam terindah bagi segenap manusia. Maka nikmat apalagi yang masih kita ingkarkan dari-Nya?

Lor Kedhaton, 12 Agustus 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Keciblon Kali Blongkeng

  1. Agus Mulyadi berkata:

    Kadang jadi sangat kontradiktif yo mas.. cah-cah dusun do diopahi kon angon kebo, mbasan cah kota malah do mbayar biaya outbond mung rek iso angon kebo… Oalah…

    Suka

  2. Ivan Purnawan berkata:

    Nyata menjadi kemunduran utuh je mas, mbiyen asring ciblon nang kali manggis, blumbang, gendhing ugo icip-icip pisangan. Saiki…wis gari cerito anak bojo lan poro konco. Andalane cah-cah kampung podo nyekeli gadged…ngenet…ngebir lan nonkrong. Tibane ngenes awak kebak tato, abab nogo, ra jelas ijih perawan opo joko.

    Alhamdulillah wis sarapan soto babat, tanduk meneh… 🙂

    Suka

  3. Pemuda Polengan berkata:

    ayo ciblon ,,,ayoooo mengenang masa kecil … 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s