Rangkaian Mudik hingga Balik


BadakanAh, bagi saya hidup di perantauan bisa jadi hanyalah sekedar terhanyut di dalam aliran misterinya kehidupan. Wis dadi pepesthening Gusti. Semua sekedar menjalani sebuah cerita kehidupan. Jauh dari kampung halaman mengharuskan saya untuk mudik dalam momen-momen tertentu. Termasuk tentu saja dalam momentum lebaran setiap tahunnya.

Mendapati kenyataan sulitnya mendapatkan tiket mudik, terutama dengan kendaraan sepur, memaksa saya harus membuat strategi jitu untuk bisa tetap mudik tahun ini. Tentu saja bersama istri dan dua cindil abang buah hati kami. Demi mengantisipasi keruwetan macetnya jalur mudik pada hari-hari menjelang Idul Fitri, maka kedua cindil abang tersebut kami ‘paketkan’ mudik awal pada pertengahan Ramadhan. Untunglah para simbah dan biyung emban cukup trengginas menerima titipan para cucu-cucunya.

Beriringan dengan tragedi amblesnya Jembatan Comal Pemalang, kami justru diperjalankan kembali menuju ibukota. Akibat efek domino tragedi Comal menyebabkan truk-truk besar dan container yang biasa merajai jalur Pantura, terpaksa merayap di jalur-jalur sempit, naik turun nan menikung di wilayah jalur tengah dan selatan Jawa. Efek kemacetanpun menjadi semakin terdistribusi merata di seantero Pulau Jawa. Bus andalan kami yang biasa melintas Panturapun, malam itu terpaksa menempuh jalur tengah via Wonosobo, Purwokerto, Banjar, Ciamis, Garut, hingga Bandung melalui Tol Cipularang untuk menuju Jakarta.

Hanya beberapa hari menikmati masa akhir Ramadhan di ibukota, ritual mudik langsung memanggil kami untuk kembali ke timur, ke bumi Jawa. H-3 lebaran, masih dengan kendaraan bus, kami kembali bergulat dengan kemacetan Pantura. Dengan nekad, bus yang kami tumpangi tetap lurus-lurus dan lugu-lugu saja menempuh jalur Cikampek dan Pantura Jabar-Jateng. Untunge, perbaikan sementara Jembatan Comal usai sehingga salah satu jalurnya sudah bisa dilalui kendaraan meski secara terbatas. Berangkat dari Jakarta jam 17.00, akhirnya kami mendarat selamat di Magelang tercinta pada pukul 12.00 pada hari berikutnya. Lumayan 19 jam perjalanan menjadi rekor perjalanan mudik terlama kami.

Kopdar BalatidarH-2 lebaran merupakan momentum kempal manunggalnya Balatidar alias sedulur-sedulur blogger Magelangan dalam suasana buka bersama yang cukup sumringah. Masih sama seperti setahun sebelumnya, acara bukber dihelat di Rumah Makan Ayam Bakar Bu Tatik berseberangan dengan Artos Magelang. Meskipun tidak segenap jajaran Balatidar hadir, namun sekitar sepuluh sedulur telah merapat untuk saling menuntaskan rasa kangen. Ada Kang Ikhsan, GusMul, Ivan, Nahdhi, Yudha, Ariev, Nikitomi, Kokoh, Andri dll. Obrolan ngalor-ngidul kas cakrukannya Balatidar berkisar dari maneges kabar dan kesibukan masing-masing, hingga ungkapan keprihatinan kendho-nya semangat ngeblog diantara teman-teman. Ayam goreng khas citarasa manis dan sajian es teh menuntaskan lapar dahaga kami pada saat dung Maghrib tepat berkumandang. Bagaimanapun momentum bukber seolah menjadi pelekat dan perekat paseduluran Balatidar yang sekian lama jarang gethukan ria di bawah rindangnya ringin tengah.

H-1 lebaran, tentu saja mundhi dhawuh Kanjeng Rama dan segenap kerabat, keluarga kecil kami merapat ke Tepi Merapi. Semenjak beberapa hari sebelumnya, Mbah Kakung sudah wanti-wanti menugaskan saya untuk mèmèt alias memanen ikan di kolam pekarangan belakang rumah. Keceriaan kekecehan  yang disertai derai tawa riang para bocah menghadirkan suasana kegembiraan yang membuncah kala itu. Para cucu Mbah Kakung dengan semangat gugur gunung, siang hingga sore itu saling bahu-membahu menangkap ikan mujahir, bawal, dan lele yang tekun dipelihara sekitar setahunan.

Masih H-1 lebaran, bedug Magrib menggema. Betapa lega segala dahaga. Momentum buka bersama di penghujung Ramadhan tahun ini kami tuntaskan dengan berkumpul bersama di Ndalem Mbah Kakung. Ada kami dari Tangerang, sedulur-sedulur dari Depok, Cilacap, juga Magelang kumpul manunggal menyambut Hari Fitri diiringi gema lantunan takbir yang berkumandang memenuhi seantero jagad raya.

Mbah Kakung & cucu    Salaman

Hari H lebaran, kesibukan pagi-pagi berkisar persiapan sholat Ied di halaman masjid kampung kami. Lelaki-perempuan, tua-muda, nenek-kakek, para bocah dan para remaja berbondong-bondong memenuhi tanah lapang tersebut. Rangkaian sholat Ied dan khutbah yang khitmad diakhiri dengan kemesraan saling bersalaman diantara sesama jamaah yang melingkar mengular. Selepas itu pesta para bocah, remaja dan pemuda mulai digelar. Ada among-among sego megono, pesta mercon hingga menerbangkan balon udara.

Saling memaafkan adalah nafas Idul Fitri. Silaturahmi diantara keluarga inti dan tetangga menjadi agenda utama di hari-hari masa lebaran. Para anak sungkem kepada bapak-ibunya. Para cucu ngabekti kepada para simbah, simbah buyut, pakde-bude, maupun paklik-buliknya. Tidak terbatas kepada saudara sedarah, silaturahmipun menjalar kepada segenap rekan handai taulan, teman sejawat, teman studi, teman main, bahkan siapapun yang dijumpai saling bersapa “sugeng riyadi“. Hal ini terus berlangsung kira-kira hingga H+5.

H+6 lebaran, suasana keceriaan dan kemeriahan lebaran sedikit berawan tatkala adik ipar harus menjalani proses kelahiran dengan operasi. Secara medis, perkembangan si jabang bayi sebenarnya terpantau normal dan sehat wal afiat. Namun, memang ndidalah sudah kersaning Gusti Allah, hingga hari-hari perkiraan kelahiran justru tak nampak tanda-tanda kelahiran. Hal ini bahkan terlewat hingga seminggu lebih. Pada pemeriksaan akhir, dokter menyimpulkan air ketuban sudah mulai keruh bahkan detak jantung si janin terekam datar lemah. Menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, diputuskanlah jalan operasi untuk proses kelahiran keponakan kami tersebut. Tepat pukul 11.00 siang kabahagiaan kami kembali berderai dengan hadirnya sosok jabang bayi baru bagi keluarga besar kami. Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.

Ratu BokoDua hari berikutnya, H+7&8 keluarga kecil kami sengaja plesiran ke Jogja. Sebagaimana cita-cita yang sudah dicanangkan, kami telah mengagendakan untuk bersambang ke Candi Prambanan – Ratu Boko, Taman Pelangi Monjali, dan Makam Imogiri. Wira-wiri sepedaan motor benar-benar mengantarkan kami sowan ke situs-situs wisata yang bernilai sejarah tersebut. Dua hari di Jogja, tentu saja terasa sangat kurang bagi kami.

Hari-hari berikutnya kami tuntaskan untuk menikmati Magelang tercinta. Alun-alun, Artos, Kebonpolo, Badakan, bahkan jalur bekas rel Payaman Secang sempat kami sambangi. Bakso krikil, sop snerek, kupat tahu, bubur terik juga bubur ketan kinco menjadi menu makan kami sehari-hari. Sungguh luar biasa dan senantiasa menimbulkan rasa kangen yang seolah tiada pernah akan tertuntaskan.

Akhirnya, setelah dua minggu menikmati liburan lebaran di kampung halaman, dengan sangat berat hati semua kebahagiaan sejati tersebut harus segera berakhir. Siklus kehidupan mengantarkan kami untuk kembali ke tanah perantauan diiringi deru roda kereta yang membawa kami menjauhi kampung halaman tercinta. Moga lebaran tahun depan diperkenankan mereguk kembali nikmatnya ritual mudik ke kampung halaman. Magelang, I love you full!

Lor Kedhaton, 11 Agustus 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Rangkaian Mudik hingga Balik

  1. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Sembilanbelas jam perjalanan mudik berarti lumayan lancar mas. Aku pas hari biasa (bukan momen mudik) pernah lewat jalur Selatan 18 jam perjalanan baru sampai Giwangan.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      wah nek kuwi jelas soal track record armada bus sing kok tumpangi sing cen terkenal “lelet”, saya juga pernah dapat cerita penumpang bus yang sama yang biasanya turun di Wates

      Suka

  2. eko magelang berkata:

    lha tenan mas….bodho itu selain ritual hayati, menuntaskan kerinduan dengan seluruh keluarga juga menjadi hal yang bakal menjadikan hidup ini penuh dengan warna,….

    selamat////Insya Alloh ketemu bodho tahun depan njih mas
    salam Bala Tidar..

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Betul sekaliMas Eko, mudik menyegarkan kembali pikiran sekaligus menggali energi untuk bekal menjalani roda kehidupan selanjutnya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s