Keprihatinan atas Klenteng Magelang


lionghokbio   KlentengKobong

Untung tak dapat diraih, malangpung tak dapat ditolak. Itulah sebuah perumpaan yang menggambarkan betapa sebuah kehendak takdir senantiasa di luar jangkauan kekuasaan manusia untuk menolak atau menghindarinya. Ungkapan kepasrahan tersebut seringkali diakitkan dengan datangnya sebuah musibah atau cobaan kehidupan. Sebagaimana telah dilansir di beberapa media, Klenteng Liong Hok Bio yang menjadi salah satu ikon sejarah komunitas Tionghoa di Kota Magelang mengalami kebakaran. Hal ini tentu saja mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk para pemerhati pelestarian bangunan bersejarah.

Klenteng paling bersejarah di Kota Magelang ini konon dibangun pada beberapa dasa warsa setelah selesainya Perang Diponegoro (kurang lebih 1864).  Adalah seorang Tionghoa bernama Be Koen Wie atau Be Tjok Lok dari Solo yang diangkat sebagai pejabat berpangkat luitenant untuk mengurisi pajak perdagangan candu dan kegiatan rumah gadai. Atas posisi dan kedudukannya Be Koen Wie menjadi salah satu hartawan yang kaya raya di Magelang. Dalam perkembangan selanjutnya ia mewakafkan sebagian tanah di sisi utara tempat tinggalnya untuk dibangun sebagai sebuah tempat peribadahan masyarakat China. Dalam perkembangan selanjutnya, posisi klenteng berada tepat di sisi tenggara sudut Alun-alun Kota Magelang sebagaimana saat ini dapat kita saksikan bersama.

Pada Selasa malam, 15 Juli 2014, di Klenteng Liong Hok Bio tengah berlangsung sembahyang peringatan Hari Makco Kwan In. Sembahyang tersebut ditujukan untuk memperoleh keberkahan Dewi Kwan In. Usai rangkaian ibadah tuntas dilaksanakan, para jamaah umumnya sudah pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 23.00. Sebagaimana kewajibannya selaku juru kunci klenteng, Pak Edi segera membereskan segala perlengkapan peribadahan. Lilin-lilin besar dan kecil dimatikannya. Demikian halnya dengan beberapa lampu penerang di ruang utama.

Setelah dirasa semua hal telah dibereskan, Pak Edi segera membersihkan diri serta segera melangkah ke ruang peristirahatannya yang terletaki di sisi kiri dalam bangunan klenteng. Waktu itu seingat dia sudah melewati puncak malam. Belum seberapa ia berbaring di tempat tidur dan belum sempat memejamkan mata, tiba-tiba berdering telepon di kamar istirahatnya. Begitu telepon diangkat, terdengar suara Pak Gito penjaga klenteng di sisi depan. Ia menyampaikan kabar bahwa dari ruang utama klenteng keluar asap putih tebal. Ia beranggapan telah terjadi kebakaran di ruang ibadah.

Bergegas Pak Edi menuju ruang ibadah utama. Dengan bergegas ia segera membuka pintu hubung samping ke ruang utama. Begitu pintu terbuka, asap putih mengepul pekat menyembur keluar dan segera menyesakkan nafasnya. Melihat kondisi demikian, Pak Edi secara naluri ingin segera lari keluar untuk meminta bantuan pertolongan. Namun di saat ia bergegas, ia sempat tersandung sesuatu dan terjatuh di lorong. Dengan terseok-seok, akhirnya Pak Edi berhasil keluar dari kepulan asap yang pekat.

Di saat hampir bersaan, sangat kebetulan sebuah mobil patroli polis tengah melintas di ujung Jalan Pemuda. Beberapa orang segera menyegatnya. Beberapa polisi yang bertugas selanjutnya langsung menghubungi pihak pemadam kebakaran. Tak seberapa lama, beberapa unit mobil pemadan kebakaran tiba di lokasi. Namun sungguh sayang, kepulan asap putih sudah terlanjur berganti dengan bara api yang membakar ruang utama di sisi depan. Demikianlah kira-kira kronologi tragedi terbakarnya Klenteng Liong Hok Bio di sisi tenggara Alun-alun Kota Magelang pada Rabu dinihari, 16 Juli 2014 yang lalu.

Pada saat Mas Bagus dari Komunitas Kota Tua Magelang menanyakan kepada Pak Edi, apakah ada firasat atau sesuatu pertanda yang dirasakan pada saat-saat akan terjadi musibah kebakaran tersebut, Pak Edi mengungkapkan, “Dari para pengurus tidak merasakan adanya firasat demikian. Namun justru dari para jamaah mengungkapkan ada sedikit kejanggalan pada saat berlangsungnya sembahyang Makco Kwan In. Ketika dimintai keberkahan, Sang Dewi tidak mengiyakan hingga permohonan ke tujuh. Padahal kebiasaan-kebiasaan yang selalu terjadi Dewi Kwan In tidak pernah menolak permohonan keberkahan hingga pada permintaan ke dua atau ke tiga saja.”

Bagaimanapun dan apapun penyebab tragedi terbakarnya Klenteng Liong Bok Hio, semua lapisan masyarakat Magelang tentu turut berprihatin. Penyeledikan dari pihak yang berwenang semoga segera bisa mengungkap sebab-sebab pemicu terjadinya kebakaran secara obyektif. Dan hal yang paling penting, semoga puing-puing ruang ibadah utama segera dapat dibersihkan untuk kemudian dibangun kembali ruang ibadah yang baru sehingga proses peribadahan bagi saudara-saudara kita tidak mengalami gangguan secara berlarut-larut.

Lor Kedhaton, 21 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s