Menapak Sejarah Kahlenberg


Jum’at pagi itu, sedari waktu fajar Vienna diguyur hujan deras di tengah musim panas. Siklus pancaroba yang mengawali transisi musim nampaknya sudah dimulai di pertengahan tahun ini. Selepas hujan gerimis semakin menipis, saya langkahkan kaki keluar dari apartemen tempat menginap. Trem jalur O mengantarkan saya ke stasiun Wien Pratersten. Turun dari trem, saya langsung memasuki stasiun dan mengikuti arah peron U-1. Kereta bawah tanah ini kemudian mengantarkan saya menuju Schwedenplatz.

Kahlenberg1   Kahlenberg2

Di Schwedenplatz sayapun berganti melanjutkan perjalanan dengan kereta jalur U-4. Saya memang tengah menuju stasiun terakhir jalur U-4, stasiun Heiligenstadt. Setelah melewati beberapa stasiun antara, tak lebih dari 20 menit saya sudah tiba di stasiun akhir yang saya tuju. Stasiun akhir tersebut tentu saja belum merupakan tujuan akhir perjalanan saya pagi itu. Keluar dari sisi kiri stasiun, kaki saya langkahkan belok ke arah kanan. Beberapa langkah saya sudah menenukan halte bus jurusan 38A yang saya cari. Pagi itu saya ingin mendaki bukit di sisi barat laut Kota Vienna. Bukit itu dikenal sebagai Kahlenberg.

Kahlenberg6Kahlenberg berasal dari dua buah kata dalam bahasa Jerman. Kahl berarti telanjang, sedangkan berg berarti pegunungan. Jadi pagi gerimis itu saya sedang menuju suatu titik tertinggi di lingkaran perbatasan luar Kota Vienna. Konon dari titik di Kahlenberg itulah setiap pengunjung dapat melihat hamparan Kota Vienna dengan sebulat-bulatnya, seutuh-utuhnya, bahkan setelanjang-telanjangnya sebagaimana asal-usul namanya.

Bus 38A berwarna merahpun segera melaju. Pelan namun pasti, bus menapaki jalanan berbelok-belok melintasi beberapa halte pemberhentian. Sekitar sepuluh menit, perjalanan memasuki kota kecil di pinggiran Vienna yang bernama Grinzing. Selepas Grinzing, jalanan mulai menanjak dan berkelok. Rupanya bus segera akan mendaki bukit. Dan beberapa saat keluar dari Grinzing, di kanan-kiri jalanan sudah berjajar hutan homogen yang cukup lebat nan rapat. Beberapa deretan terasiring terbuka nampak dipenuhi dengan jajaran tanaman anggur yang menghijau bagaikan sabuk gunung yang memberikan nuansa indah kepada setiap mata yang memandang.

Kahlenberg5Setelah perjalanan sekitar 30 menit, sampailah titik tujuan saya pagi itu, Kahlenberg. Ternyata perjalanan yang cukup panjang tidak menjadi sia-sia karena pengunjung segera disuguhi dengan panorama Kota Vienna yang indah dari tepian bukit yang dipangkas menjadi sebuah tebing pantau yang sangat memukau. Dari atas, kita dapat memandang lepas dataran Kota Vienna yang dibelah dengan tenangnya sungai Donau atau Danube. Konon aliran sungai inilah yang telah menginspirasi komposer besar Johann Strauss mencipta lagu Waltz the Blue Danube.

Masih dari jauh di atas bukit, tepat di pinggiran aliran Donau berdiri megah beberapa menara pencakar langit yang menandakan keberadaan Vienna International Center. Vienna International Center merupakan markas beberapa perwakilan badan PBB, seperti International Atomic Energy Agency, UNIDO, UNICEF, CTBTO, dan beberapa lainnya. Lebih dekat masih sejajar di tepian sungai Donau nampak titik kecil sebuah kubah berwarna hijau yang dipuncaki dengan menara berbentuk bulan sabit. Itulah bangunan Vienna Islamic Center yang menjadi pusat kegiatan ummat Islam di Vienna, bahkan seluruh Austria.

Kahlenberg7   Kahlenberg8

Berbicara tentang Kahlenberg tentu tidak akan lengkap tanpa menengok jejal sejarah yang pernah ditorehkan di bukit tersebut. Konon pada saat itu, 11 September 1683, pasukan Turki di bawah komando Jenderal Kara Mustafa Pasha tengah melakukan pengepungan selama berbulan-bulan terhadap Kota Vienna. Selama pengepungan, pasukan Turki juga membuat terowongan bawah tanah sebanyak 257 yang berujung di sudut-sudut bastion benteng kota. Pada ujung terowongan tersebut sudah dipasang bom mesiu yang siap diledakkan hanya dalam hitungan komando sang jenderal. Pengepungan selam berbulan-bulan itupun telah memutuskan pasokan logistik sehingga dalam waktu dekat musuh diharapkan akan segera menyerah. Dengan penuh rasa optimis pasukan Turki yakin bahwa kemenangan hanya tinggal soal waktu beberapa saat saja.

Di luar dugaan pasukan Turki, terlihat luncuran-luncuran tembakan api ke udara dari dalam benteng Kota Vienna. Hanya kemungkinan dua isyarat yang disampaikan, menyerah atau justru meminta bantuan dari luar lingkaran kepungan pasukan Turki. di luar dugaan, ternyata pada saat kesiagaan tinggi untuk segera menakhlukkan Kota Vienna yang sudah digenggaman tangan, justru pasukan Turki sudah dikepung di sisi luar oleh gabungan pasukan Jerman dan Polandia. Mereka lupa memperhitungkan keberadaan Kahlenberg yang lengah dari pengawasan sehingga pasukan gabungan bala bantuan justru berhasil mengepung dari arah belakang.

Kahlenberg4  Kahlenberg3

Kini pasukan Turkilah yang berada di ujung tanduk. Maju kena, mundurpun kena. Sejarah akhirnya mencatat kekalahan pasukan Turki yang harus menyingkir ke arah timur akibat gempuran ganda dari dalam benteng Kota Vienna dan dari lingkaran luar Kahlenberg. Hari itu merupakan pencapaian titik terjauh ekspansi Kekhalifan Turki Ustmani di benua Eropa. Sebuah masa kejayaan yang menggelarkan kekuasaan Turki yang melebihi hampir tiga kali lipat luas wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Sejak itu pulalah sejarah Vienna mencatat Jenderal Kara Mustafa Pasha sebagai seorang penjahat perang dari sudut pandang bangsa barat.

Keanggunan bukit Kahlenberg di samping nilai historis pasukan Turki, semakin menarik dengan keberadaan gereja St. Joseph. Bangunan gereja dengan dinding tebal, tinggi menjulang, berwarna kuning krem tersebut konon dibangun sebagai penanda kemenangan pasukan gabungan Jerman dan Polandia yang berhasil memukul mundur pasukan Turki melalui bukit Kahlenberg. Di puncak gereja berdiri megah menara tinggi menjulang bergaya gothic tempat digantungkanya lonceng yang setiap pagi, puncak siang dan sore hari terdengar menggema di seantero bukit. Inilah sekilas jejak sejarah Kahlenberg yang pagi itu tengah saya kenangkan.

Lor Kedhaton, 15 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s