Jum’atan di Jantung Eropa


Hari itu merupakan pertengahan bulan Ramadhan 2014. Jum’at siang itu tepat menunjukkan jam 12 siang. Datangnya tengah hari tersebut ditandai dengan dentangan lonceng di Gereja Katedral Stephanplatz yang gagah megah di jalur Karntnerstrasse, Malioboronya Kota Vienna. Bersamaan dengan bunyi lonceng tersebut, guyuran air hujan tumpah dari langit dengan lebatnya. Para pengunjung di jalur protokol tersebut segera berhambur mencari tempat teduh masing-masing. Kerumunan arus justru membawa kaki saya melangkah memasuki gereja. Rupanya di dalam gereja sedang dimulai sebuah misa suci.

Islamic Center1

Bukannya hari Jum’at, kok malah “mengikuti” misa di gereja? Sabar dulu sedulur! Di Vienna, Jum’atan kebetulan tidak tepat dimulai pada saat tengah hari. Jam Dzuhur di kota ini baru masuk pada sekitar pukul 13.00. Dan memang, sesuai menengok misa sayapun buru-buru menuju stasiun bawah tanah yang akan membawa diri hamba ini menuju Vienna Islamic Center. Dari stasiun Stephanplatz, perjalanan ditempuh dengan kereta bawah tanah U1.  Di stasiun Swedenplatz, perjalanan berganti dengan kereta U3 hingga mencapai stasiun Spittelau. Dari sini masih berganti dengan kereta U6 untuk mencapai stasiun Neue Donau. Beberapa jengkal dari stasiun inilah berdiri dengan megah sebuah bangunan berkubah warna hijau dengan puncak berupa bulan sabit. Inilah Masjid Islamic Center Vienna (Vienna Islamic Zentrum) yang berada tepat di tepian sungai Donau.

Semenjak di dalam kereta U6, beberapa gerbong nampak dipenuhi muka-muka orang Timur Tengah, Afrika, juga Asia yang khas. Mereka semua adalah saudara seiman yang akan menuju masjid untuk bersembahyang Jum’at. Meskipun cuaca dingin selepas guyuran hujan sangat menyengat tulang dan kulit, tetapi ada spirit dan energi yang mendorong ratusan manusia mengular di jalur menuju masjid.

Setelah mengambil air wudhu di sudut luar belakang masjid, sayapun mengikuti arus jamaah yang memasuki ruang utama masjid. Jum’atan kali ini merupakan kedua kalinya saya diperkenankan Tuhan mengikutinya di masjid termegah di Vienna ini.

Tepat sekitar pukul 13.00, muadzin segera mengumandangkan adzan yang menandai ibadah sholat Jum’at segera dimulai. Khotib segera memulai khutbahnya. Selepas mengungkapkan puja dan puji syukur, serta menyampaikan pesan-pesan taqwa, khotib menyampaikan inti khutbah masih dengan bahasa Arab. Sekedar menebak-nebak isi khutbah yang disampaikan berkaitan dengan ketawadzuan ummat Islam sebagai buah ibadah puasa Ramadhan. Selebihnya, saya tidak tahu pasti apa saja poin-poin khutbah pada Jum’atan tersebut.

Selepas khutbah pertama usai, seorang pemuka masjid segera tampil di depan untuk menyampaikan terjemahan khutbah dalam bahas Jerman. Dibandingkan dengan khutbah dalam bahasa Arab, terjemahan khutbah dalam bahasa Jerman justru sama sekali tidak bisa saya pahami. Harap maklum, saya sama sekali tidak bisa bahasa negerinya Hitler tersebut. Maka pada saat demikian, justru saya semakin manggut-manggut. Bukan, sama sekali bukan karena paham dengan isi khutbah tetapi karena kantuk mendera dengan sangat kuatnya dan terlampau sulit untuk dilawan.

Setelah terjemahaan khutbah selesai disampaikan, maka khotib naik mimbar kembali untuk memberikan khutbah ke duanya. Tidak terlampau panjang sebagaimana khutbah pertama, khutbah segera dipungkasi dengan doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh kesungguhan dan diamini dengan khusuk oleh segenap jamaah. Sejurus kemudian iqomad segera berkumandang. Jamaah segera berdiri tegak untuk mendirikan sholat.

Sedikit berbeda dengan Jum’atan tahun lalu yang saya ikuti di tempat yang sama, dalam sholat Jum’at kali justru hanya membaca surat pendek selepas Al Fatihah diamini jamaah. Tidak kurang tidak lebih, surat yang dipilih imam adalah Surat Al Asr dan Al Kautsar. Demikian sholat selesai, beberapa diantara jamaah banyak yang melanjutkannya dengan menjamakkan sholat Ashar.

Begitu rangkaian ibadah Jum’at rampung, beberapa pemuda maju ke depan mendekati mihrab imam. Setelah berbisik-bisik sesuatu dengan para pengurus masjid, seorang pemuda diantaranya diwawancarai oleh salah satu pemuka masjid. Pemuda tersebut bernama Thomas. Rupanya ia baru saja menyatakan diri untuk memenuhi panggilan kebenaran Allah SWT sebagaimana telah dirisalahkan oleh Kanjeng Rasul Muhammad SAW. Latar belakang masuknya si Thomas ke dalam agama Islam menarik para jamaah untuk merapat maju ke depan. Mereka sangat antusias mendengar penuturan saudara seiman mereka yang baru.

Setelah sharing cerita dari mualaf tersebut usai, jamaah segera berhambur keluar hingga halaman utama masjid penuh dengan kerumunan para jamaah. Pada kesempatan demikian, para jamaah memanfaatkannya untuk saling bertegur sapa dengan teman, kerabat ataupun justru saudara seiman yang baru saling berkenalan. Inilah keutamaan sholat berjamaah dalam merekatkan tali silaturahmi diantara sesama umat Islam. Ada juga kelompok jamaah yang memanfaatkan momentum perkumpulan jamaah tersebut untuk melakukan penggalangan dana, baik untuk keperluan sosial maupun kemanusiaan. Ada penggalangan dana untuk Palestina dan juga untuk Syria.

Meskipun Jum’atan siang itu diselimuti hawa dingin selepas guyuran air hujan di tengah musim panas yang kering, namun kehangatan justru mekar dari kedalaman jiwa setiap muslim yang turut menegakkan perintah Allah pada siang itu. Rasa haus dan lapar di tengah terpaan hawa yang berubah drastis dan juga durasi puasa yang sangat panjang, siang itu seolah sama sekali tidak dirasakan menjadi beban yang berat. Jiwa-jiwa mukhlis manusia beriman yang terserak di sudut-sudut Kota Vienna yang sekuler, pada siang tersebut mendapatkan siraman kesejukan yang sungguh luar biasa.

Renweg, 11 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Jum’atan di Jantung Eropa

  1. sufyanaz berkata:

    Waaah kapan yo aku isoh melu jamangah nang kono 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s