Summer Time in Vienna


Schonbruun1Masih melanjutkan bicara tenteng summer. Pernah dengar lagu berjudul summer time? Saya sama sekali tidak tahu persis siapa pengarang atau komposer lagu tersebut. Tetapi beberapa kali pernah mendengar lagu tersebut dinyanyikan secara jazzy oleh beberapa pemusik jazz, seperti Beben Jazz dengan Komunitas Jazz Kemayorannya.

Nah, maaf-maaf saja. Sebenarnya apa yang mau saya tulis tidak ada hubungannya sama sekali dengan lagu summer time, tetapi benar-benar berkaitan dengan summer time sebagaimana bahasan postingan sebelumnya yaitu tentang musim panas pada bulan puasa seperti yang saat ini tengah berlangsung di belahan bumi sisi utara khatulistiwa. Nah memang sebuah kebetulan, pada saat puasa seperti sekarang ini kok ndilalah saya malah diperjalankan ke Vienna, jantung benua Eropa.

Sebagai orang Nusantara yang notabene bangsa khatulistiwa tulen, tentu saja menjalani puasa di musim panas seperti di Vienna ini merupakan tantangan tersendiri yang tidak ringan apalagi mudah. Coba sampeyan bayangkan. Siang hari di sini jauh lebih panjang daripada malam harinya. Rata-rata jam Imsak datang pada pukul 03.00 dini hari. Adapun waktu Maghrib saat matahari tenggelam baru terjadi pada sekitar  jam 21.00. Paling kurang puasa di kota Vienna tahun ini dijalani selama tidak kurang dari 18 jam.

Bukan semata-mata durasi puasa yang panjang yang sudah pasti menuntut perut harus lebih tahan melilit. Ada beberapa hal yang justru lebih berat daripada soal yang satu itu. Yang pertama soal kondisi cuaca yang cukup ekstrim. Bayangkan saja, pada saat pagi hari suhu udara termasuk dingin menusuk tulang. Mungkin sekitar 10-12 derajat. Demikian halnya pada saat menjelang waktu Maghrib. Di sisi lain suhu udara pada saat tengah hari sangat terik, bisa mencapai kisaran 30 derajat. Nah ini dia nih, yang harus sangat diwaspai jika lidah serta kerongkongan yang super kering dan bibir pecah-pecah karena sangat hausnya.

Di samping kondisi suhu yang cukup signifikan perbedaannya, pada pagi dan petang tiupan angin juga sangat kencang. Tidak jarang angin yang kencang juga dibarengi dengan gerimis lembut yang semakin mencekam tulang. Keadaan perut kosong dalam kondisi demikian harus ekstra dijaga kalau tidak ingin kebanyakan menelan dan memakan angin hingga bisa menyebabkan masuk angin, bahkan angin duduk.

Jika tantang yang saya kategorikan di atas masih berkaitan dengan ketahan fisik raga pada saat menjalani puasa, maka tantangan ke dua justru berkaitan dengan stabilitas ketahan batin manusia. Nah apa pasalnya coba?

Musim panas bagi para kaum bule adalah hari-hari liburan panjang. Pada bulan-bulan demikian, dunia pariwisata memang sedang dalam puncak ramai-ramainya. Orang hilir-mudik dari satu tempat wisata ke tempat yang lain. Dari satu kota melintas ke kota lain. Dari kota merambah desa, hutan dan gunung. Yang dari gunung turun ke kota, meninggalkan suasana sepi dan bersantai di tepi pantai.

Jika biasa para bule terbiasa dalam kondisi udara dari sangat dingin hingga sejuk, maka pada musim panas sudah pasti mereka seolah tersiksa oleh udara yang panas. Jika merasa kedinginan para bule wedok tersebut brukut dengan pakaian hangat atau jaket bulu mereka, maka jika kepanasan dapat dibayangkan to? Coba saja bayangkan cacing yang kepanasan? Nah kalau sudah demikian, sampeyan tentu bisa membayangkan seperti apa model pakaian mereka, khususnya para wedokan bule-bule tersebut. Yang pasti semriwing you can see everything. Sudah demikian, mereka ngeler wudel bin aurat yang di jalam-jalan, ya di taman-taman, ya di dalam bis kota dan kereta. Nah urusan inilah yang paling berat menggoda mata dan iman. Kepripun coba?

VIC, 9 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Summer Time in Vienna

  1. Melinda Budiarti berkata:

    Hahahaha makasih infonya😊 tulisannya bagus, ringan dan mudah dicerna👍

    Suka

  2. Melinda Budiarti berkata:

    Makasih mas post nya brmnfaat😊 tulisannya jg bgus, ringan dan mudah dicerna👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s