Summer dan Puasa


Summer, bukan semar lho ya! Para bule-bule di belahan barat ataupun para bumiputera yang bicara nginggris biasa mengartikannya dengan musim panas. Mungkin kata summer setara dengan ungkapan wong Jowo untuk ketiga, sebutan untuk bulan-bulan yang jarang terjadi turun hujan. Gampangnya ya musim panas. Gitu lho!

Dari pelajaran ilmu bumi atau geografi yang pernah kita dapatkan di bangku sekolah, kita paham bersaman bahwa bumi tempat tinggal kita berbentuk bulat. Bola bumi yang bulat tersebut tidak hanya diam tetapi ia berputar pada porosnya yang dikenal sebagai rotasi bumi. Gerakan rotasi bumi menimbulkan terjadinya perbedaan waktu penerimaan sinar matahari dari titik ke titik di permukaan bumi. Bagian bumi yang menghadap ke matahari akan mengalami waktu siang hari. Adapun bagian bumi yang membelakangi matahari akan gelap gulita, alias mengalami malam hari. Waktu yang diperlukan oleh bumi untuk berotasi satu kali disepakati sebagai satuan hari, yaitu 24 jam. Secara lebih teliti dalam satuan waktu yang lebih kecil, rotasi bumi menyebabkan terjadinya perbedaan waktu dimana dari arah timur ke barat terdapat pelambatan jam.

Di samping mengalami rotasi, bumi juga beredar pada lintasan yang mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya. Perputaran ini disebut sebagai revolusi bumi yang memerlukan waktu kurang lebih 365 hari. Hitungan inilah yang disebut sebagai rentang waktu satu tahun. Satu tahun dibagi menjadi 12 bulan. Apabila rotasi bumi berpengaruh terhadap perbedaan waktu harian, maka revolusi bumi menyebabkan terjadinya perbedaan musim. Di daerah lintang rendah (sekitar khatulistiwa) pada setiap tahun pada umumnya terjadi dua musim, yaitu musim penghujan dan musin kemarau. Sedangkan di daerah lintang tinggi, terdapat empat perbedaan musim, yaitu musim panas, gugur, dingin dan semi. Di samping itu, panjangnya malam dan siang hari untuk daerah tersebut juga berubah-ubah.

Bersamaan dengan bulan Ramadhan tahun ini yang jatuh pada bulan Juli, belahan bumi utara sedang mengalami musim panas. Musim panas disebabkan garis edar matahari berada di sisi utara khatulistiwa. Dengan demikian, pada musim panas tersebut waktu edar matahari lebih panjang sehingga durasi waktu siang lebih panjang daripada waktu malam.

Berkenaan dengan ibadah puasa yang berlangsung mulai terbit fajar hingga matahari tenggelam, maka di belahan bumi sebelah utara yang pada saat kini tengah menjalani puncak musim panas, jam puasanya menjadi lebih panjang. Ada yang berpuasa selama 16 – 20 jam. Berkebalikan dengan hal tersebut, di belahan bumi selatan pada saat ini merupakan musim dingin. Jika di belahan bumi utara jam puasa menjadi jauh lebih panjang, di belahan bumi selatan justru jam puasanya menjadi lebih pendek karena waktu malam jauh lebih panjang daripada waktu siangnya. Hal yang demikian tidak pernah terjadi di daerah garis khatulistiwa.

Dengan memahami fenomena tersebut, umat Islam di daerah khatulistiwa seperti Indonesia sebenarnya sangat beruntung dalam hal melaksanakan ibadah puasa. Jikalaupun terjadi perubahan maju atau mundur waktu Imsak, pasti akan diiringi dengan maju–mundurnya waktu Maghrib. Dengan demikian, secara rata-rata waktu menjalankan puasa relatif sama.

VIC, 8 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s