Pilpres dan Puasa


Pra JKSelain bersamaan dengan penyelenggaraan Piala Dunia di Brazil, Ramadhan tahun ini juga bersamaan dengan saat Pemilihan Presiden di negara kita. Untuk pertama kalinya semenjak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Pilpres yang dilakukan secara langsung untuk memilih presiden dan wakil presiden jatuh pada bulan Ramadhan. Bukan hal tersebut cukup istimewa? Lalu adakah Tuhan sengaja menitipkan pesan-pesanNya dengan hal tersebut?

Ibadah puasa merupakan bagian dari Rukun Islam. Secara sederhana, puasa merupakan amalan ibadah yang dilakukan dengan cara menahan tidak makan, minum, dan semua hal yang membatalkannya, mulai pada saat waktu fajar hingga Maghrib tiba. Inti puasa adalah imsak, yaitu menahan dari sesuatu. Dengan demikian puasa bisa juga dimaknai secara lebih luas sebagai tindakan menahan, menghindar, atau menunda sesuatu yang sebenarnya secara prinsip tidak ada larangannya.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat negara besar seperti Indonesia sudah seharusnya atau sewajarnya dipimpin oleh seorang pemimpin yang juga berkelas sebagai negara besar. Namun sebagaimana kita ketahui bersama, hingga kepemimpinan presiden yang ke enam, kita sepertinya belum mendapatkan pemimpin nasional yang benar-benar amanah dan mampu membawa bangsa besar ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia sesuai dengan harapan rakyat. Jika keharusan atau kewajaran tersebut belum juga kunjung tiba. Bukankah rakyat Indonesia dalam hal ini juga masih “puasa”?

Nusantara adalah cuilan surga yang ditempatkan Tuhan di muka bumi. Tanahnya subur dengan taburan abu vulkanik yang sangat cocok untuk budidaya berbagai jenis tanaman. Hutannya rimbun. Ada kayu, rotan, juga getah-getahan yang sangat berguna. Lautnya sangat kaya dengan potensi ikan, rumput laut, hingga teripang dan siput. Lapisan dalam bumi kita juga sangat kaya dengan beragam jenis mineral, seperti minyak bumi, gas, timah, emas, besi, nikel dan lain sebagainya. Intinya kita semua sepakat adn sepaham bahwa negeri kita adalah negeri yang sangat kaya dengan potensi sumber daya alamnya.

Dengan kekayaan sumber daya alam tersebut adalah logis jika rakyat sudah seharusnya hidup dengan serba kecukupan, bahkan juga kaya. Tetapi kenapa negara kita nyaris menjadi negara miskin? Jika seharusnya kehidupan rakyat kita sejahtera, tetapi justru yang kita rasakan adalah kesulitan dan kesusahan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok kita, bukankah kita juga berpuasa? Puasa dari hak kita untuk hidup berkecukupan!

Pendidikan juga menjadi hak setiap warga negara. Konstitusi kita bahkan menyatakan bahwa penyelenggara negara harus menjamin terselenggarakan pendidikan bagi setiap tumpah darah Indonesia. Namun jika hak bersekolah, hak mendapatkan pendidikan yang baik, hak untuk menjadi pandai, hak untuk tidak menjadi orang yang bodoh, belum juga diberikan secara merata oleh negara, apa namanya jika rakyat tidak sedang berpuasa dari hak pendidikan?

Demikian halnya dengan kesehatan, dengan perumahan, dengan hak hukum, keadilan, keamanan, bahkan hak kebebasan memeluk dan menjalankan agama sesuai keyakinan juga sering terlanggar. Hebatnya, ternyata negara belum bertindak sebagaimana mestinya untuk mewujudkan, menjamin, dan memberikan hak-hak konsitusi setiap warga negara sebagaimana mestinya. Di benak banyak rakyat di akar rumput, mungkin segala hal harus mereka perjuangkan sendiri tanpa ada pemihakan dari negara. Dalam banyak hal negara tidak hadir. Dalam berbagai segi rakyat berpuasa terhadap keberadaan negara.

Sangat berbeda dengan puasa Ramadhan yang dilakukan atas niat dan kesadaran masing-masing umat Islam, puasa yang satu ini justru lebih banyak unsur keterpaksaan keadaan dari sisi masyarakat kecil. Lalu jika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia masih “memaksa” rakyat untuk terus berpuasa dan berpuasa lagi, kapankah tibanya saat untuk berbuka puasa?

Harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik setidaknya seiring sejalan dengan harapan akan hadirnya sosok-sosok pemimpin yang benar-benar amanat dalam menjalankan amanat penderitaan rakyat. Dalam sistem demokrasi sebagaimana diant oleh negara kita, harapan berbuka puasa tadi setidaknya sering muncul bersamaan dengan kesempatan pemilihan wakil rakyat maupun pemimpin pemerintahan. Lewat pemilihan anggota dewan, melalui pemilihan lurah, bupati atau walikota, gubernur, hingga presiden, rakyat senantiasa berharap waktu untuk berbuka tadi akan segera tiba.

Seiring pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan segera tiba dan yang sangat kebetulan bersamaan dengan kehadiran bulan Ramadhan kali ini, setidaknya kita diberikan harapan oleh Allah untuk kembali berharap akan hadirnya sosok pemimpin yang benar-benar akan membawa masyarakat, bangsa dan negara Indonesia berbuka puasa. Dengan demikian semoga hidangan berbuka berupa kesejahteraan, keadilan, penegakan hukum, kemakmuran, dan semua bentuk kemajuan akan segera dapat kita nikmati bersama.

Setidaknya kita harus bermunajat kepada Allah SWT, siapapun pasangan capres dan cawapres yang akan terpilih pada 9 Juli nanti, semoga mereka akan benar-benar membuka gerbang berbuka bagi puasanya rakyat Indonesia yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Ya atau tidak bahwa kita akan segera berbuka bersama sebagai keluarga besar bangsa Indonesia, tentu saja waktu yang akan menjawabnya.

Ngisor Blimbing, 6 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s