Sepak Bola dan Puasa


Bulan Ramadhan tahun ini menurut saya termasuk sangat istimewa. Bukan karena di salah satu malamnya terdapat Malam Laulatul Qodar, malam yang kebaikannya lebih baik daripada seribu bulan. Kalau soal itu sih, insya Allah setiap tahun selalu akan hadir sebagaimana janji-Nya kepada setiap umat-Nya yang mengimaninya. Nah terus, apanya yang ngistimewani? Ya sepak bola! Bukankah sangat-sangat jarang perhelatan Piala Dunia yang digandrungi masyarakat seluruh dunia bersamaan waktunya dengan bulan puasa. Setuju nggak?

Berhubung penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia di negara Brazil, maka sangat kebetulan jika jam-jam siaran pertandingan langsung yang disiarkan beberapa tivi swasta bertepatan dengan jam tengah malam dan menjelang waktu sahur, bahkan hingga waktu Subuh. Sudah pasti bagi para penggemar bola yang cukup fanatik oleh candu sepak bola akan dibela-belain begadang untuk menonton pertandingan tim kesayangannya. Akibatnya tentu saja waktu-waktu untuk beribadah malam sebagaimana malam-malam bulan Ramadhan di tahun-tahun yang lain menjadi sedikit terkurangi atau bahkan sangat terganggu.

Sangat mungkin demi nonton sepak bola, orang Islam kendor semangat tarawehannya. Mungkin ada yang “mencicil” tidur agak lebih awal agar malam harinya bisa njenggelek alias melek dan begadang untuk nonton bola. Yang biasanya tadarusan, karena sepak bola, menjadi berkurang sangat drastis. Yang biasanya tengah malam bangun untuk sholat malam, mungkin lebih mbelani nonton bola. Bahkan makan sahur juga disambi nonton sepak bola. Tentu saja sholat Subuh dan kuliahnya juga menjadi lebih sepi karena jamaah kebanyakan tengah asyik nonton sepak bola. Kira-kira begitu nggak ya? Atau mungkin hal demikian hanya terjadi pada diri saya dan di lingkungan kampung tempat tinggal saya saja ya?

Meskipun sebagaimana sunnatullahnya ibadah malam di bulan Ramadhan, semisal sholat taraweh, pada saat awal datangnya Ramadhan masjid senantiasai penuh sesak bahkan hingga meluber keluar karena saking banyaknya jamaah. Namun dari hari ke hari,  jamaah semakin menyusut dan mengalami kemajuan shofnya. Mungkin sekali ada semacam benang merah yang bisa ditarik antara sepak bola dan puasa (dalam hal ini sholat taraweh). Kok bisa demikian?

Begini sedulur semua. Ibaratnya awal Ramadhan merupakan babak putaran pertama sebuah pertandingan pada turnamen sebagaimana Piala Dunia, maka peserta pertandingan masih sangat banyak. Babak penyisihan pada Piala Dunia setidaknya terdapat 32 negara bukan? Pada malam awal Ramadhan, jamaah sholat taraweh masih sangat banyak. Tidak hanya sesak saling berdesakan, tetapi seringkali jamaah sholat meluap hingga pelataran masjid. Untuk sepak bola, selepas babak penyisihan ada babak enam belas besar, delapan besar, empat besar atau semi final, hingga puncak final yang menyisakan dua kesebelasan terbaik.

Demikian halnya  pada kasus sholat taraweh. Di malam-malam pertama, ratusan bahkan ribuan jamaah memenuhi masjid-masjid atau mushola untuk menunaikan sholat taraweh. Tetapi secara berangsur-angsur, babak penyisihan tarawehan juga beranjak ke babak semifinal hingga final. Dan secara berangsur-angsur namun pasti barisan jamaah mengalami kemajuan alias semakin berkurang jumlah jamaahnya. Kira-kira, kenapa terjadi demikian ya?

Ngisor Blimbing, 3 Juli 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s