Pulsa dan Puasa


Pulsa dan puasa? Kelihatannya sebuah judul tulisan yang ngawur bin sembrono. Jujur, bukan maksudnya menghubung-hubungkan atau sekedar othak-athik gathuk lho! Beneran! Serius, dua rius, malah ribuan rius mungkin! Lha ketemu nalar pirang perkoro hayo?

Begini sedulur. Kemarin memang hari-hari awal di bulan Ramadhan. Puasa memang mencegah atau mungkin lebih tepatnya menghindarkan diri sejenak dari berbagai kenikmatan yang sebelum-sebelumnya dapat kita nikmati tanpa mengenal batasan waktu. Makan, minum, udad-udud, pada prinsip bolah-boleh saja. Namun khusus di bulan suci Ramadhan, semua itu tidak boleh dilakukan pada sembarangan waktu. Maksudnya ya antara terbit fajar hingga matahari tenggelam. Bukankah demikian?

Lalu hubungane dengan pulsa gek kepripun ya? Ya, ini mungkin hanya sebuah kebetulan semata, tetapi mungkin juga kejadian ini memang sudah ginarising pepesthi, ketentuan dari Sing Gawe Urip. Bersamaan memasuki bulan puasa, lha kok ndilalah pulsa buat modem yang saya andalkan untuk online-an nginguk jagad maya juga pas habis. Jadi cerita kentekan pulsa to dongeng ini.

Akhirnya karena tak ingin aktivitas on-line tersendat, ya sudah tentu ngisi pulsa di salah satu minimarket kampung sebelah. Hal seperti ini sebenarnya sudah menjadi rutinitas bulanan saya. Biasa-biasa saja bin tidak ada istimewanya. Tetapi kon ndilalah, untuk transaksional pulsa kali ini ada beberapa kendala teknis yang membuat perasaan sedikit ngganjel. Padahal sedang puasa lho. Ya, ini mungkin salah satu godaan yang harus saya hadapi di awal puasa tahun ini.

Lha kok bisa? Larah-larah ceritanya gek kepripun ya? Seperti biasa, pembelian pulsa di minimarket langganan saya dilayani dengan sebuah mesin elektronik. Dengan beberapa kali pencet, pelanggan harus memasukkan antara lain nomor telepon dan nominal pulsa yang diinginkan. Tentu langkah-langkah bukan hal khusus, dan saya yakin diantara teman-teman sudah sangat akrab dengan prosedural semacam ini.

Dari beberapa langkah, pemesanan pulsa diakhiri dengan munculnya nomor transaksi yang diperlukan untuk diidentifikasi di meja kasir, mungkin untuk pencatatan sistem akuntansi dan pncetakan struk bukti pembayaran atau belanja. Nah, selesai di situ sayapun membayar di meja kasir. Kebetulan pada waktu itu saya juga membeli beberapa barang keperluan yang lain. Akhirnya saya pulang.

Sejam, dua jam, saya menunggu masuknya pulsa yang saya beli. Tetapi hingga sore hari kok pulsanya nggak nongol-nongol alias belum masuk. Nah, di sinilah masalah mulai merisaukan pikiran. Saya masih mencoba dengan sabar untuk menunggu. Namun hingga senja hari dan saat berbuka puasapun tiba, ternyata pulsa belum juga tiba. Ah, nanti juga bisa diurus lagi ke minimarket. Pikir saya waktu itu, karena kejadian serupa bukan pertama kali itu saja saya alami.

Barulah saya teringat sesuatu hal. Untuk mengurus pulsa yang belum masuk, diperlukan setidaknya struk bukti pembelian pulsa. Nah, saya baru teringat mengenao struk. Lha kok ndilalahnya struk yang dimaksud kok ndak saya temukan di kresek belanjaan siang itu. Saya bongkar-bongkar di beberka kantung plastik, bahkan sampau seisi rumah turut mencari juga tidak kunjung ketemu. Saya kok justru menjadi ragu, apakah saya memang telah menerima struk pada saat pembayaran atau justru tidak menerimanya sama sekali. Kalau saya terima langsung, biasanya struk selalu menyatu di lipatan uang kembalian yang biasanya langsung saya kantongi atau masuk ke dalam dompet. Tetapi saat saya cek di kantong celana, yang tersisa hanya beberapa lembar uang kembalian tanpa lembaran kertas putih berupa struk pembayaran. Saya benar-benar lupa!

Dengan keyakinan dari rasa loyalitas seorang pelanggan setia dan juga keyakinan bahwa minimarket langganan tersebut loyal pula memberikan layanan demi kepuasan pelanggan, saya catet nomor telepon saya pada secarik kertas. Dalam beberapa pengalaman sebelumnya dengan cukup memberikan keterangan tentang permasalahan kendala masuknya pulsa, petugas sudah langsung tanggap ngecek dan memproses.

Malam menjelang tarawehan, saya sempatkan mampir di minimarket yang memang berlokasi di seberang masjid. Nah ketika saya sampaikan permasalahan yang saya hadapi, justru sang petugas langsung menanyakan struk bukti pembayaran. Saya terangkan bahwa saya tidak membawanya. Saya sampaikan juga nomor transaksi di mesin elektronik adalah nomor delapan. Kemudian secarik kertas nomor telepon yang sudah saya siapkan saya serahkan kepada yang bersangkutan.

Setelah utak-utik sebentar saya kira permsalahan bisa segera tertangani. Namun beberapa saat kemudian, sang petugas justru bilang tidak bisa mengurusnya tanpa adanya struk bukti pembayaran. Waduh, jagad dewa batoro. Apes benar nasib saya, demikian suara batin di relung hati yang terdalam. Akhirnya saya undur diri dengan tangan hampa.

Saya justru jadi bertanya-tanya. Apakah dalam sebuah sistem yang sudah terotomatisasi tidak ada record atau rekaman yang bisa dijadikan acuan atau bukti apabila ada sedikit permasalahan. Logika saya mengatakan, pasti ada. Tetapi entahlah. Akhirnya hingga dua-tiga hari berselang dari peristiwa tersebut, saya benar-benar puasa pulsa alias tidak bisa online sebagaimana biasanya. Demikian.

Lor Kedhaton, 30 Juni 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s