Ketar-ketir Daftar Sekolah


Musim liburan sekolah telah tiba. Sebagian besar anak-anak tentu menyambutnya dengan gumbira ria. Bolehnya mereka “mati-matian” menghadapi semesteran kemarin memang harus ditebus dengan keceriaan datangnya masa liburan. Hal ini berlaku untuk semua siswa mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA, bahkan di bangku kuliah. Berakit-rakit dahulu, memang barulah kemudian kita berenang-renang ke tepian. Bersusah payah dahulu, maka masa bersenang-senangpun datang menjelang. Demikian barangkali nilai kearifan para leluhur yang mengajari anak-cucunya mengenai sebuah arti kerja keras dan perjuangan.

Jika kebanyakan dari sebagian anak-anak yang berasyik-maksyuk menikmati musim liburannya, ada sebagian diantara mereka yang justru disibukkan dengan urusan mencari sekolah yang baru. Ada yang baru selesai bangku Taman Kanak-Kanak yang akan melanjutkan ke bangku SD. Ada yang lulus SD akan masuk SMP. Ada yang lulus SMP akan meneruskan ke SLTA, demikian seterusnya. Demikian halnya dengan si Kenyung Kecil yang tanpa terasa sudah tuntas menjalani masa nyantriknya di TK Permata Hati.

Sebagaimana roda pedati yang berputar, maka roda kehidupan juga tidak lepas dari perputaran sang kala. Satu demi satu tangga jenjang pendidikan memang harus ditatapi dengan tatag dan mantap. Meskipun masa sedikit kurang memenuhi persyaratan usia masuk SD, namun momentum masuk SD nampaknya tidak bisa lagi ditunda-tunda karena pada kenyataannya si Kenyung sudah sedemikian lama manahan diri untuk tetap menyandang siswa TK. Maka setelah ritual wisuda dan pelepasan siswa terselenggarakan, mulailah Ibuk’e Kenyung yang kelimpungan mencari kabar pendaftaran SD untuk buah hatinya.

Dari berbagai pemikiran dan pertimbangan, Bapak’e dan Ibuk’e Kenyung sebenarnya telah memiliki pandangan sebuah SD Negeri terdekat yang sekiranya pas untuk si Kenyung. SD Indonesia Hebat, SD yang berada di belakang Kantor Kelurahan tersebut memang biasa-biasa saja. Mungkin karena faktor jarak yang tidak terlampau jauh dari tempat tinggal, rata-rata para bocah di Kampung Kosong memang bersekolah di SD tersebut. Tanpa perlu berpikir mbulet bin berbelit-belit, nampaknya logis juga bila tradisi warga tetangga tersebut perlu untuk dilestarikan.

Jauh-jauh hari sebelum kelulusan, si Kenyung sedikit banyak telah mendengar kehebatan SD Indonesia Hebat. Adalah Ikhsal dan Putra, teman sepermainan si Kenyung yang sebenarnya sudah kelas 6 di SD tersebut, sering berceloteh ngalor-ngidul tentang suka riang bersekolah di sana. Sudah pasti cerita ala anak sekolah itupun menjadi rumus jitu yang dipegang erat si Kenyung ketika ditanya mengenai kemana keinginannya untuk bersekolah selepas TK Permata Hati.

Entah karena jumlah para bocah di sekitar kelurahan kami yang tidak berimbang dari jumlah bangku siswa yang tersedia di beberapa SD yang ada, atau karena SD Indonesia Hebat memang hebat dan menjadi favorit, kenyataannya jumlah lulusan TK yang mendaftar untuk masuk SD Indonesia Hebat melebihi daya tampung. Akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, maka diberlakukanlah sistem seleksi calon siswa yang mendaftar. Kerennya, diadakanlah tes seleksi masuk.

Bayangkan sedulur, untuk sekedar masuk SD kampung saja harus ada seleksi-seleksian. Jaman Bapak’e Kenyung dulu, tentu saja hal semacam itu tidak pernah ada. Siswa TK ABA ya langsung digiring oleh Bu Guru untuk diserah-terimakan kepada Guru SD. Resmilah status siswa TK berganti haluan menjadi siswa SD. Ya, sesederhana itu memang! Lain dulu memang sudah pasti lain sekarang. Lain jaman, kondisi tentu saja tidak sama. Tetapi satu hal yang pasti, dalam segala hal di jaman modern ini, manusia semakin terdorong untuk saling bersaing satu sama lain. Suka atau tidak suka, inilah kenyataan jaman yang harus dihadapi.

Nah justru kondisi persaingan terbuka melalui sistem tes seleksi ini seringkali menjadikan para orang tua yang justru tidak enak makan tidak enak tidur pada saat mengurus sekolahan baru untuk anaknya. Termasuk hal inilah yang terjadi pada hari tes masuk SD Indonesia Hebat beberapa hari lalu. Sedari pagi tatkala matahari temaram oleh sapuan mendung tipis, para orang tua yang umumnya ibu-ibu, sudah bersiap mengantarkan anak-anaknya yang baru lulus TK untuk ikutan tes di SD Indonesia Hebat. Rata-rata raut muka mereka diwarnai guratan rasa ketar-ketir, was-was bin khawatir tentang peruntungan anaknya di hari itu. Akankah anaknya bisa lulus tes dan mendapatkan bangku di SD Indonesia Hebat?

Demikian halnya pagi itu dengan si Kenyung. Meskipun tanpa persiapan khusus, namun si Kenyung nampak nothing to loose untuk ikut-ikutan tes. Dengan mengenakan kaos olah raga TK Permata Hati kesayangan, ia bergabung dengan teman-teman genk TK-nya yang juga ingin mendaftar di SD Indonesia Hebat. Katanya ada Syahdan, Rizki, Destri, juga Pajar serta beberapa yang lain. Setelah beberapa hari mengambil formulir yang telah diisi oleh para orang tua, maka setiap calon siswa masuk ke dalam ruang tes seleksi tanpa boleh didampingi orang tua. Bahkan pintu jendela ruang tersebut ditutup rapat-rapat tanpa celah untuk sekedar mengintip. Jadilah para ibu-ibu pengantar yang nampak gelisah memikirkan nasib anaknya di dalam ruang.

Satu per satu calon siswa itupun dipanggil oleh guru penguji di depan kelas. Satu per satu pula mereka diuji membaca, menulis, hitungan tambahan dan pengurangan. Setelah selesai menjalani giliran masing-masing, setiap siswa diperkenankan keluar ruangan. Para ibu-ibu yang sudah tidak tahan menahan kegelisahan segera menghambur ke arah pintu dan menyambut putra-putrinya.

Maka berbagai ekspresi wajah anak-anak yang keluar dari balik pintu ruang ujian. Beberapa diantara calon siswa putri nampak pucat seolah baru terlepas dari tekanan yang sangat berat. Terhamburlah lontaran pertanyaan sang ibu, “ Bagaimana Nak? Bisa tidak tesnya?” Anaknya dengan lemes menjawab, “Mama-mama,…… susah ngerjainnya.” Ada juga yang berkisah, “Mama, aku malu sama Bu Guru baru.” Intinya sebagian besar siswa yang telah lolos lubang jarum ujian pagi itu diwarnai dengan rasa was-was dan tidak percaya diri.

Apakah demikian pula dengan si Kenyung. Pada saat mendapat giliran maju ke depan meja guru, Ibuk’e Kenyung sempat mencuri pandang dari balik tirai sempit. Setelah berada di depan meja guru, beberapa pertanyaan nampak dijawab sebagaimana terlihat dari ekspresi tubuh dari kejauhan. Pada detik-detik demikian, Ibuk’e Kenyung tentu juga merasakan rasa ketar-ketir penuh geregetan. Dalam batin terngiang pertanyaan, “apakah anaknya bisa menjawab dengan baik?”

Akhirnya si Kenyung selesai dan keluar ruang melalui pintu kelas. Tatkala ia membuka pintu, Ibuk’e bergegas menyambanginya dengan dag-dig-dug di dalam dada. Setelah mendapatkan Ibuk’e, si Kenyung justru sumringah ekspresinya. Dengan nada sedikit tertahan namun pasti ia, “Aku bisa!” Sangat berbeda dengan kebanyakan teman-teman tes lainnya yang justru lesu tatkala keluar ruang tes.

Ketika petang harinya Bapak’e Kenyung pulang, ia mendapatkan kisah haru-birunya si Kenyung menjalani ujian seleksi masuk SD Indonesia Hebat. Dengan dorongan rasa penasaran, Bapak’e ingin mendapatkan cerita langsung dari anaknya. Ketika ditanya langsung justru si Kenyung mengelak dan enggan bercerita. “Rahasia dong!” demikian jawaban singkat Kenyung.

Seribu satu jurus ditempuh oleh Bapak’e untuk memancing cerita dari anaknya. Tetapi justru jawaban si Kenyung mengejutkan, “Bapak berisik! Tanya-tanya wae!”

“Bapak kan dulu pernah SD, kenapa masih tanya-tanya to! Kan tes sekolah ya sama-sama saja to!” lanjut si Kenyung ngeyel.

Akhirnya perdebatan itupun berakhir dengan cerita dan penjelasan panjang lebar tentang bedanya masuk sekolah SD jaman dulu dan jaman sekarang.

Si Kenyung balik bertanya, “Kalau SD jaman mendatang gimana ya Pak?”

Dengan menekan rasa kesal Bapak’e menjawab,” Yaaaa…….. embuhlah!”

 

Ngisor Blimbing, 24 Juni 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s