Ulang TK Lagi


Radya TogaSetelah selama tiga tahunan “nunut” bersekolah di RA Permata Hati, akhirnya awal pekan kemarin si Kenyung menjalani ritual wisuda. Jaman memang sudah sangat hebat! Anak TK mau naik sekolah dasar saja sudah diwisuda. Jaman dulu, mungkin hanya para tukang sarjana yang berhak menjalani upacara sakral tersebut. Tetapi jaman memang telah maju sedemikian cepatnya. Mungkin juga pikiran tuwek saya yang merasakan banyak owah-owahaning jaman, padahal dalam kaca mata manusia modern hal itu sudah dianggap sebagai sebuah kawajaran.

Wisuda TK, apalagi disertai dengan langkah menaiki tangga jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tentu saja semakin membuat si Kenyung percaya diri, bahkan kadang terlampau gedhe sirahe. Tentu saja, seorang bocah dari hari ke hari dalam masa usia tumbuh kembangnya sering memberikan kejutan-kejutan spontan yang mengindikasikan bertambahnya akal si anak. Demikian halnya dengan si Kenyung paska menjalani ritual upacara wisuda.

Sore itu kebetulan Pak’e Kenyung kebetulan baru pulang dari kerja. Biasalah, sebagai tulang punggung dan cagake kluarga, tentu seorang ayah harus bekerja keras mencari nafkah. Banting tulang dan memeras keringat mungkin sudah menjadi sebuah keharusan. Kesibukan serta rutinitas penggawean di kantor sudah pasti tidak jarang membuat pikiran ataupun jiwa raga menjadi lelah, terutama jika sudah menjelang waktu pulang. Wajarlah jika hal yang membayang di benak seorang ayah adalah bagaimana cepat-cepat pulang, sampai di rumah, bertemu dengan anak-anak, bercanda gurau bersama untuk melepaskan segala rasa penat.

Sambil sedikit ngeler pakaian untuk menuntaskan keringat yang segar mengucur, duduk di depan tivi sambil menyimak acara pengantar senja memang membawa kita kepada keasyikan tertentu. Apalagi jika sang istri atau anak kita dengan antusias datang sambil membawakan minuman lengkap dengan pacitannya. Ah….segala rasa penat enyahlah!

Tetapi senja itu, ndilalahnya Ibuke Kenyung sedang ketungkul sibuk mengurusi si Genduk, adiknya si Kenyung yang terus ngowek-owek meminta air susu. Si Kenyungpun sebenarnya tengah asyik bermain menyusun serpihan-serpihan batang lego yang agaknya ingin disusunnya menjadi sebentuk menara pemantau di sebuah bandar udara.

Akhirnya Ibuke Kenyung menyeru kepada si Kenyung, “ Le, mrene sebentar. Tak bilangin

“Yaaaa……..”, teriak si Kenyung seraya bergegas menuju Ibuke yang berada di ruang tengah.

Ibuke memberikan arahan, “Tolong Bapak diambilke fanta dari dalam kulkas ya.”

“OK, siap mom”, jawab si Kenyung tangkas sambil langsung balik kanan menuju ruang pawon dimana kulkas keluarga mangkal. Iapun langsung membuka pintu kulkas. Sejurus iapun langsung mengamati seluruh kawasan dalemannya si kulkas.

Si Kenyung agak terhenyak menadapati isi kulkas yang memang sedikit berantakan senja itu. Ditutupnya kembali pintu kulkas. Ia segera berlari kecil kembali menuju Ibuke.

“Lapor! Di kulkas tidak ada fanta!” dengan lantang plus nyengir si Kenyung memberikan laporannya.

Ibuke segera menyahut, “Ada ah! Kalau mencari itu yang teliti to Le! Coba dilihat lagi, yang warna merah itu lho, di sisi sebelah dalam pintu kulkas,” sambil memberikan arahan baru.

Si Kenyunpun kembali njrantal menuju dapur. Ia buka kembali, ia amati dengan lebih teliti. Ia periksa setiap rak kulkas. Iapun mencermati sisi bagian dalam pintu kulkas sebagaimana arahan Ibuke tadi. Namun ia kembali memanyunkan bibir. Ekspresi wajahnya menggambarkan bahwa ia tidak menemukan barang yang dicarinya. Namun tiba-tiba ia memelototi pojokan sisi bagian dalam pintu kulkas. Ia melihat ada sebuah botol plastik bening berisikan cairan warna merah. Dengan pelan bibirnya bergerak seraya berkata lirih, “Ha…….big cola!” Iapun kembali bergegas menemukan Ibuke kembali.

“Fanta nggak ada! Kalau big cola ada! Dalam botol, warnanya merah”, kata si Kenyung dalam ekspresi lugu.

Mendengar keterangan anaknya, Ibuke Kenyung segera tersadar, “Oooo…..ya, ya, ya! Maksud ibumu ini ya big cola warna merah itu lho Le.”

“Huh…..”, sambil unjal ambegan si Kenyung protes keras, “Ibuk gimana to, masak tulisan big cola dibacanya kok fanta! Bisa baca nggak sih! TK lulus nggak to? Nggak diajari baca apa? Sana ulangi sekolah TK saja dulu! Masak tulisan big cola, b-i-g c-o-la kok dibaca f-a-n-t-a.”

Ibuke Kenyung hanya tersenyum kecut sambil nggumun dan tak habis pikir. Di satu sisi ia menyadari kekhilafannya yang menyebabkan instruksi yang diberikan salah, tetapi di sisi lain ia kaget dengan ungkapan anaknya agar ia mengulang sekolah TK lagi. Waduuuh, jagad dewa batara! Sayapun manggut-manggut sambil menahan tawa tatkala Ibuke Kenyung menceritakan hal tersebut selepas waktu Isya’. Oalah Le-Le, gayamu ki lho!

Ngisor Blimbing, 19 Juni 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s