Jurangjero Tepi Merapi


Jurangjero1Bagi Anda yang belum mengenal, apabila diberitahu mengenai sebuah tempat yang bernama Jurangjero, apakah yang terbayang? Mungkin sebagian dari Anda akan membayangkan sebuah tempat dengan sebuah bibir jurang menganga yang terjal dan sangat dalam. Sama persis dengan bayangan saya waktu masih kecil dahulu dan kebetulan belum pernah menyambangi Jurangjero. Namun tatkala berkesempatan pertama kali menginjakkan kaki di Jurangjero, justru malah timbul pertanyaan, “dimana jurangnya?” Lho kok iso?

Jurangjero merupakan sebuah tempat di sisi barat Gunung Merapi. Tempat ini berada di tepian Kali Putih dan termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Menurut para simbah, jurang dalam nan terjal yang menginspirasi julukan nama Jurangjero dulunya memang ada. Dahulu tepian jalan setapak di bibir Kali Putih memang masih sangat dalam. Akan tetapi akibat turunnya lahar dingin dari puncak Merapi yang masuk ke hulu Kali Putih menyebabkan lama-kelamaan kedalaman Kali Putih menjadi semakin dangkal, sehingga bahkan si jurang jero itu tidak bisa lagi dijumpai pada saat ini. Tetapi apapun kejadiannya, masyarakat telah sepakat menyebut daerah tersebut dengan nama Jurangjero.

Berada di ketinggian 2000-an dari permukaan air laut, sudah tentu menjadikan hawa di Jurangjero sangat sejuk dengan hembusan lembut angin gunung. Letaknya yang tidak lebih dari 4 km dari puncak Merapi, menjadikan pemukiman yang dulu berada di sekitarnya telah bedhol desa, dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman. Bahkan menurut cerita-cerita banyak juga warga sekitar yang diberangkatkan transmigrasi ke luar Pulau Jawa.

Pada sekitar tahun 80-an, Jurangjero lebih dikenal sebagai daerah plesiran alias tujuan wisata alam di lereng Merapi. Pada hari Minggu dan hari libur lainnya, Jurangjero seringkali didatangi pasangan muda-mudi yang berkendaraan motor. Memang semenjak dahulu belum ada jalur angkutan umum yang menjangkau Jurangjero. Meskipun gunung Merapi terus aktif, tetapi kala itu kondisinya relatif adem-ayem, sehingga tidak menimbulkan ketakutan bagi siapapun yang ingin bersambang ke Jurangjero. Jurangjero seolah menjadi Kaliurang-nya Kabupaten Magelang. Bahkan pernah berembus kabar nantinya dari Jurangjero akan dibangun jalan penghubung menuju Kaliurang yang sekaligus tersambung menuju Candi Borobudur. Dengan konsep tersebut diharapkan daerah Srumbung yang berada di antara Kali Krasak dan Kali Blongkeng akan maju kepariwisataannya.

Masih pada era 80-an tersebut sudah pasti kondisi lingkungan di Jurang jero masih rungkut bin ijo royo-royo dengan dominasi vegetasi hutan pinus. Tanaman pinus memang bukan asli tumbuhan Nusantara. Tanaman pinus di Merapi kabarnya dulu ditanam oleh Belanda semenjak awal mereka menguasai Tanah Jawa. Sekitar pertengahan tahun 80-an, masyarakat dusun kami sering digerakkan untuk gugur gunung menanami pohon pinus di beberapa titik sepanjang alirang Kali Putih dan Blongkeng. Selain dimanfaatkan kayunya untuk bubur kayu yang akan dibuat kertas, kayu pinus juga dipergunakan untuk bahan papan dan batang korek api. Di samping itu, pohon pinus yang telah cukup diameternya juga biasa disadap getahnya yang ditampung pada sebuah batok kelapa, mirip dengan pohon karet. Kalau tidak salah, getah pohon pinus sangat baik untuk bahan campuran cat pernis atau plitur.

Di samping pohon pinus, di sisi barat Kali Blongkeng dulunya sangat terkenal dengan gerumbulan pohon jambu bijinya. Dulu bersama dengan kawan-kawan sekelas SD, pada liburan sekolah sangat sering kami haiking ke Jurangjero dengan membawa tas ransel kosong yang sengaja untuk kami penuhi dengan jambu kluthuk pada saat turun kembali ke dusun kami.

Adapun di sisi bagian bawah serta sebelah timur Kali Putih, gerumbulan kayu andra mendominasi vegetasi hutan. Sudah tentu di samping tiga jenis pohon yang telah saya sebutkan, di selingkaran hutan Gunung Merapi sebenarnya ditumbuhi aneka ragam vegetatif khas hutan hujan tropis, seperti sengon, akasia, sonokeling, nangka, munggur, waru, termasuk rumpun bambu.

Rimbunnya hutan lereng Merapi dan masih rendahnya pengetahuan serta kesadaran masyarakat sekitar kawasan hutan mengenai kelestarian lingkungan hidup sempat menimbulkan maraknya kasus “pencurian” kayu hutan pada masa itu. Sebenarnya mereka hanyalah sekedar “mencari” penghidupan dari potensi hutan. Mereka pada umumnya hanya melakukan pengumpulan kayu bakar maupun kembang pinus untuk dijual guna menyambung hidup. Mereka tidak pernah merusak hutan secara besar-besar dan massal.

Namun demikian, penjagaan kawasan hutan pada waktu itu sudah sangat intensif dilakukan. Pengalaman salah seorang tetangga yang kebetulan menjabat mantri hutan, tidak pernah dilakukan sanksi khusus tetapi hanya sekedar diberikan teguran saja mereka sudah sangat malu. Tindakan yang sedikit lebih keras hanya sekedar menahan sepeda onthel yang sering dijadikan kendaraan operasional. Seiring dengan program listrik masuk desa dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan kawasan hutan, berangsur-angsur tindakan pencurian kayu tersebut berkurang. Masyarakat juga banyak yang beralih menambang pasir secara tradisional untuk menyambung ekonomi keluarganya.

Ngisor Blimbing, 15 Juni 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Jurangjero Tepi Merapi

  1. Bintang berkata:

    Dhimas, sugeng riyadi.
    Wah baru sempat baca nih, ini tulisan yg kutunggu tentang Jurangjero kenangan dan kebanggaanku. Sekarang mulai ramai lagi oleh para pengemar sepeda, mereka memberi nama Jurang Jero Bike Park, banyak uploade videonya di Youtube sdh mirsani? Kalau blm coba dibrowsing. Malah ANteve sdh meliputnya.
    Semoga bisa membangkitkan kembali nama Jurangjero.
    Salam.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      terutama tahun-tahun lalu memang Jurangjero ramai dengan even2 seperti itu mas, ttp akhir2 ini frekuensinya berkurang bahkan nyaris sepi2 lagi….mungkin promo dr pihak terkait kurang intens dan konsisten

      Suka

  2. rohmad.s berkata:

    aku adalah orang jelehan srumbung yang berdomisili di banyuwangi walaupun tiap tahun q plg ke ortuku di srumbung tapi sdh lm tdk ke jurang jero, kebetulan rumahku di banyuwangi juga dekat hutan pinus yang sangat luas dengan kontur yang rata dan jalan yang mulus karena tidak ada penambangan pasir di sana, banyak dibangun taman rekreasi air di sini .

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Memang sangat disayangkan Jurangjero yang dulu menjadi wisata alam dan konon katanya jaman itu mau dikembangkan sebagaimana Kaliurang malah kini hanya tinggal menjadi tempat penambangan pasir.
      Jalanan dari Salam sari dikarenakan menjadi jalur utama truk muatan pasir ya dari dulu hingga kini senantiasa hancur-hancuran. Kalau mau naik dengan roda dua, paling enak melewati jalan Soka naik yang tembus di Gejugan itu

      Suka

  3. rohmad.s berkata:

    jalan dr dsn salam sari ke jurang jero sdh mulus lagi nggak? atau enakan lewat jenglik ngablak

    Suka

  4. Sogol Hadiyanto berkata:

    Tempat masa kecilku suka mengintip orang pacaran.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s