Gajah Masuk Kulkas


Suatu sore Pak’e si Kenyung iseng-iseng bertanya kepada anaknya, “Le, binatang apa yang paling besar hayo?”

“Gajah!” jawab si Kenyung trengginas.

Pak’e melanjutkan, “Ok, jos gandos! Bener jawabanmu. Nah, si gajah itu apanya yang besar coba?”

“Telinganya, “ sambar si Kenyung penuh keyakinan.

“Bukan! Salah, “ justru jawaban Pak’e di luar perkiraan si Kenyung yang lugu.

Si Kenyung berpikir sejenak, lalu, “ Ya perutnya dong Pak.” Kali ini dia mencoba menerka jawaban yang diinginkan Pak’e-nya.

“Masih belum bener Le. Mau tahu jawabannya gak?” akhirnya Pak’e tidak ingin berkepanjangan lagi.

Emang apaan Pak?” wajah si Kenyung nampak serius ingin segera tahu jawabannya.

“Jawabnya, gajah itu yang besar ya…. ya kandangnya….he…he”, Pak’e Kenyung akhirnya memberikan jawaban teka-tekinya. Akhirnya si Kenyungpun manggut-manggut memahami satu logika yang bisa diterima dengan nalar bocahnya.

Tak berselang kemudian meluncur sebuah pertanyaan lanjuta dari Pak’e si Kenyung,Nah tadi kan sudah tahu gajah ituyang besar apanya. Sekarang, bagaimana caranya memasukkan gajah ke dalam kulkas? Tahu nggak?”

“ Tahu lah!” sahut si Kenyung dengan cepat dan tangkas. Ia meneruskan, “Ya cari dulu kulkas raksasa Pak! Pintu kulkas dibuka, gajah dimasukkan, pintu ditutup. Sudah, gitu doing kan.”

Pak’e Kenyung mak jlek, terkaget-kaget bercampur heran mendengarkan jawaban yang tidak ia sangka-sangka dari anak sulungnya itu. Jawaban yang disampaikan si Kenyung memang seratus persen sama dengan jawaban yang diinginkannya. Tetapi ia tidak pernah membayangkan bahwa si Kenyung kecil akan sampai kepada nalar pikir tentang kulkas raksasa. Jikapun pertanyaan serupa disampaikan kepada orang dewasa, sangat mungkin justru pola pikir orang dewasa akan terbelenggu kepada ketidakmungkinan alias hal yang mustahil.

Pak’e Kenyung sangat ingat sekali. Di tahun 90-an pernah nonton tayangan kesenian tradisional di salah satu stasiun televise swasta yang tayang pada jam diri hari. Saat itu Kirun dan Bagiyo sebagai dua tokoh dagelan yang berperan sebagai abdi dalem pernah main tebak-tebakan. Pertanyaannya sama persis dengan pertanyaan terakhir yang dilontarkannya kepada si Kenyung tentang bagaimana caranya memasukkan gajah ke dalam kulkas.

Kirun bertanya, “ Cak, piye carane nglebokke gajah ning njero kulkas?”

Cak Bagiyo hanya geleng-geleng kepala. Mana mungkin badan gajah yang besarnya sak hohah begitu bisa masuk ke dalam kulkas. Imposible! Mustahil bin ngaya wara. Dia tak bisa berpikir hal yang tak masuk akal dengan akal sehatnya. Dia hanya menjawab pesismis, “Hayyah ngayawara dapurmu kuwi! Gajah mlebu kulkas? Rak mungkin!”

Tetapi namanya juga Kirun. Mau nalar nggak nalar, masuk akal tidak masuk akal, ataupun hal yang mustahil tidak peduli. Dengan raut muka setengah cuek, Kirun menjawab, “ Woo, lha yo gampang! Lawang dibukak, gajah dilebokne, lawang ditutup, bar to!

Cak Bagiyo mangkel dengan jawaban slengekan dari Kirun. Dengan cepat tangan kanan Bagiyo sudah ngaplok pipi kiri Kirun. Kirunpun hanya meringis kesakitan. Tetapi ia puas sudah mempermainkan sahabatnya.

Pak’e Kenyung jadi sedikit mikir agak dalam. Jika jawaban Kirun meskipun urutan langkah memasukkan gajah disamakan dengan memasukkan barang lain dan tanpa mempedulikan nalar seberapa besar perbandingan antara gajah dan kulkas, tetapi si Kenyung justru menawarkan konsep tentang kulkas raksasa dahulu kemudian baru prosedural cara memasukkan si gajah. Tentu saja meskipun sekilas kedua jawaban yang diberikan mirip, tetapi secara nalar dan logika keduanya sangat berbeda. Si Kenyung kecil berpikir dengan landasan logika dan nalar sehat. Maka ia ciptakan sebuah landasan logika nalar atau konsep tentang adanya kulkas raksasa yang besarnya melebihi ukuran besar seekor gajah. Dari sini nampak bahwa pemikiran si Kenyung jauh lebih advance. Ia menjawab dengan sangat cerdas dengan tanpa meninggalkan konsistensi sebuah logika pikir.

Subahanallah, pikiran anak sekarang memang kadang-kadang jauh di luar logika orang yang lebih dewasa. Mungkin Tuhan sedang langsung mendemonstrasikan cara-Nya menguak tabir pengetahuan kepada para hamba-Nya.

Lor Kedhaton, 20 Mei 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s