Buku dari Waktu ke Waktu


Turu BukuBuku adalah jendela dunia. Masihkah pernyataan itu valid di masa kini. Beberapa dekade yang lalu, mungkin buku memang memegang peranan utama sebagai sumber ilmu, pengetahuan , juga sumber informasi. Seiring dengan perkembangan dunia teknologi informasi dewasa ini, peranan tersebut memang sedikit banyak mulai tergantikan dengan media lain yang lebih tervisualisasikan seperti televisi dan internet.

Buku tidak bisa dipisahkan dengan budaya atau tradisi membaca. Di banyak negara maju yang masyarakatnya sudah mapan secara intelektual maupun kehidupan perekonomiannya, peranan buku sebagai media belajar sama sekali tidak tergeser dengan televisi maupun internet. Negara-negara seperti New Zealand, Jerman, Inggris, dan Perancis konon memiliki tradisi literasi yang sangat tinggi. Di Asia, mungkin Jepang dan China menduduki ranking teratas sebagai bangsa yang menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer dalam rangka membangun dasar pendidikan yang kuat.

Bagaimana dengan tradisi literasi di negeri kita? Secara jujur harus dikatakan bahwa bangsa kita belum memiliki tradisi membaca secara baik. Bahkan dengan kehadiran kemajuan teknologi melalui televisi dan internet, tradisi membaca justru semakin mundur dan seolah-olah malah ditinggalkan warga negara kita. Jangankan di kalangan masyarakat umum, di lingkungan pelajar dan mahasiswapun tradisi membaca menjadi sebuah pemandangan yang teramat langka untuk dijumpai. Generasi muda sekarang nampaknya semakin terlena dan termanjakan dengan kepraktisan internet dengan aplikasi media sosialnya maupun mesin pencarian, seperti google dan yohoo.

Sedikit atau banyak, keberadaan internet justru semakin meminggirkan semangat atau spirit memabca di kalangan anak muda. Mana ada anak muda jaman sekarang yang mau dengan tekun membaca kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf, lembar per lembar, bab per bab hingga selesai satu buah buku secara utuh, termasuk membaca buku teks pelajaran atau kuliah mereka.

Dengan adanya fasilitas e-book maupun mbah google, anak sekarang akan cenderung mencari informasi berkaitan dengan suatu kata kunci atau sup topik tertentu saja sesuai dengan yang dibutuhkannya. Hal ini tentu saja akan berdampak kepada seberapa dalam dan luas dasar pengetahuan yang bisa diserap oleh anak-anak kita. Dengan hanya fokus terhadap suatu sub tpik tertentu yang dapat ditelusur melalui kata kunci, sebenarnya sangat sulit bagi mereka untuk bisa memahami ilmu pengetahuan secara menyeluruh, detail dan mendalam. Demikian halnya, informasi yang sepotong-potong dalam jumlah banyak seringkali juga tidak kemudian dicerna secara seksama untuk menghasilkan sebuah sintesa pengetahuan yang terajut secara runut, teratur, dan substansial.

Kebiasaan melihat suatu persoalan hanya sepotong-potong, tidak utuh, serta dari sudut pandang yang kadang terlampau dangkal bukan tidak mungkin akan terbawa kepada cara dan pola pikir seseorang. Maka generasi muda yang kelak akan terbentuk juga bisa jadi memiliki wawasan yang cupet, dasar ilmu yang tidak mendalam, dan cenderung menyepelekan persoalan. Sudah pasti dalam tataran pertumbuhan pola pikir, sikap dan tindakan mereka juga akan terkungkung kepada pola ingin serba mudah, serba cepat, serba enak, bahkan sikap ego pribadi yang terlampau berlebihan. Jer basuki mawa bea. Setiap keinginan atau cita-cita hidup harus diraih dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Hal itu sebenarnya saudah menjadi kodrat alam. Namun nilai ini di masa sekarang semakin diingkari oleh sebagian banyak manusia.

Kembali kepada soal membaca buku. Tradisi membaca buku yang kuat sebenarnya memiliki dampak positif dalam kehidupan manusia. Dengan membaca, kita akan terbiasa mempergunakan kata sehingga pengetahuan kosa kata seseorang yang gemar membaca tentu saja akan sangat kaya. Dari membaca kita juga akan mengenal berbagai ragam pola kalimat dan gaya bahasa. Dengan demikian tradisi membaca akan mendorong manusia untuk memahami dan turut mengembangkan bahasanya masing-masing. Kita akan terbiasa bertutur kata dengan teratur, runut, dan mudah dipahami orang lain. Membaca akan mendorong kemampuan komunikasi seseorang meningkat.

Membaca secara berurutan dan utuh juga dapat melatih seseorang untuk untuk berpikir secara logis, komprehesif, kritis, sehingga akan melatih otak untuk senantiasa kreatif dalam menyikapi setiap persoalan kehidupan. Dari bahan bacaan berupa roman, novel ataupun kisah fiksi yang lain, pembaca akan hanyut secara jiwa dan ruhaniahnya dalam sebuah jalinan cerita yang dapat memperkaya pengalaman-pengalaman kejiwaannya untuk memetik berbagai hikmah yang kelak akan sangat berguna dalam perjalanan hidup yang masih akan panjang.

Nah, beberapa uraian singkat yang dipaparkan di atas sesungguhnya barulah sebagiabn kecil dari manfaat tradisi membaca yang bisa kita identifikasi. Manfaat lainnya tentu masih sangat banyak.

Membaca memang tidak terpisahkan dari buku. Buku merupakan media baca yang meskipun klasik namun akan senantiasa bermanfaat sepanjang jaman. Ketersediaan dan daya akses masyarakat terhadap buku bacaan mungkin memang masih sangat kurang di negeri kita. Pemerintah dan berbagai kalangan sebenarnya telah banyak yang merintis usaha mendirikan perpustakaan, taman bacaan, ataupun rumah baca. Kesadaran setiap anggota masyarakat akan peranan penting buku bacaan harusnya semakin disebarluaskan. Buku harus menjadi kebutuhan setiap individu, keluarga dan masyarakat kita. Mungkin meskipun sedikit, keluarga kita harus membiasakan menyisihkan uang untuk membeli buku bacaan. Atau paling tidak keberadaan perpustakaan di lingkungan kita harus dimaksimalkan.

Jika sedari awal kita membicarakan mengenai buku dan tradisi membaca, masih ingatkah atau tahukah Anda semua dengan Hari Buku Nasional? Keberadaan Hari Buku Nasional mungkin juga belum tersosialisasikan ke tengah masyarakat secara memadai. Konon pada 17 Mei 1987 telah ditetapkan sebagai Hari Buku Nasional. Penetapan tersebut tentu saja sebagai wujud komitmen bangsa kita mengenai pentingnya terus menggalakkan dan meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat secara umum.

Hari ini, tepat pada peringatan Hari Buku Nasional, marilah kembali kita tanamkan tekad yang kuat untuk kembali menanamkan minat baca di kalangan keluarga dan masyarakat terdekat kita masing-masing. Hanya bangsa yang memiliki tradisi membaca yang kuat akan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi bangsa yang maju, dan buku merupakan alat untuk mewujudkannya.

Ngisor Blimbing, 17 Mei 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s