Mempertanyakan Sejarah Jalan Anyer-Panarukan


AgungBimoSejarah yang diajarkan di bangku sekolah seolah memang sudah final, given, dan benar. Yang mesti dilakukan oleh seorang siswa hanyalah menerima, atau bahkan sekedar menghafalkannya. Tidak ada hak sama sekali bagi seorang siswa untuk kritis atau mempertanyakan informasi sejarah. Meskipun akhirnya kita semua tahu bahwa sebuah fakta sejarah seringkali tidak dituliskan secara jujur dan apa adanya oleh pihak-pihak yang kebetulan memiliki kuasa dan mungkin juga kepentingan untuk mengaburkan sejarah demi kelanggengan kekuasaannya.

Salah satu informasi sejarah yang pernah kita terima di bangku sekolah adalah sejarah tentang keberadaan jalan dari Anyer hingga Panarukan yang konon sepanjang 1000 km itu. Konon jalan yang juga dikenal sebagai Jalan Raya Pos itu dibangun pada masa pemerintahan Willian Herman Daendels pada tahun 1808-1811. Meskipun dengan pengerahan kerja paksa, apakah mungkin membangun infrastruktur jalan dengan kemajuan teknologi dan peralatan di masa itu?

Pertanyaan tersebut sempat dilontarkan oleh Mas Agung Bimo dalam salah satu sesi diskusi Kenduri Cinta Mei 2014 yang mengangkat tema “Menebus Nusantara”. Mas Agung merupakan seorang penggali sejarah yang bersama Kelompok Turangga Seta sering melakukan penelitian untuk menemukan data dan fakta yang justru sering inkonsisten atau bertentangan dengan fakta sejarah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah dulu.

Teknologi teknik sipil untuk membangun infrastruktur jalan dewasa ini meskipun sudah modern namun kenyataannya masih memiliki banyak keterbatasan. Terlebih jika harus benar-benar mulai dari nol dengan membuka bentangan hutan, menguruk lembah, memotong bukit dan gunung, juga membangun berbagai jembatan yang melintang di atas sungai ataupun jurang dalam yang menganga. Untuk membangun jalan tol Semarang-Bawen yang tidak lebih dari 20 km itu saja butuh hingga 4-5 tahunan. Dulu kitapun juga masih ingat berapa lama pembangunan Tol Cipularang. Bahkan untuk sekedar menambal sulam jalanan Pantura Jawa saja tidak pernah beres bukan?

Nah, dengan demikian apakah logis seorang Daendels mampu mengorganisir dan mengerahkan manusia untuk membangun Jalan Anyer-Penarukan. Terlebih lagi suasana sosial politik pada waktu itu dalam suasana perang, sehingga ia harus mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman serangan Inggris. Dari sudut pandang nalar dan akal sehat kita, secara jernih kita tentu kini berani mempertanyakan fakta sejarah yang sudah terlanjur diajarkan di bangku sekolah hingga berpuluh generasi.

Lalu jika dengan memperbandingkan teknologi masa kini dengan pencapaikan terbangunnya Jalan Anyer-Panarukan tidak logis, logika apa yang paling mungkin mendekati kebenaran? Menurut Mas Agung, hal yang paling mungkin mendekati kebenaran adalah bahwa jalan sepanjang 1000 km tersebut sudah ada sebelum Daendels tiba di tanah air. Sangat dimungkinkan apa yang dilakukan pada masa pemerintahan Daendels itu hanya sekedar memperlebar atau bahan hanya “bebesrik” rerumputan di tepian jalanan.

Sebagaimana sebuah teori bahwa suatu perjalanan sejarah sangat ditentukan oleh kepentingan politik para penguasa yang sedang berkuasa. Pada masa kolonial Hindia Belanda, mungkin saja sangat banyak data dan fakta sejarah keunggulan bangsa Indonesia yang sengaja dibonsai, dikerdilkan, atau jika mungkin sama sekali dihilangkan. Dengan cara demikian, lambat laun sebuah bangsa akan kehilangan jati diri dan akar kesejarahannya. Apabila hal demikian bisa dicapai, maka akan semakin mudah bangsa penjajah terus melakukan penjajahan. Sebaliknya sebuah bangsa terjajah akan terus tenggelam dalam kelamnya dirampas dan diperas oleh bangsa penjajah.

Lalu jika demikian halnya, apakah masih mungkin sejarah itu diluruskan kembali dengan menggali kembali data dan fakta sejarah yang mungkin juga sudah sangat sulit untuk ditemukan kembali? Hanya waktulah yang akan bisa menjawabnya dan kemudian menjadi fakta sejarah yang akan disaksikan oleh alam dan seluruh isinya.

Ngisor Blimbing, 10 Mei 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s