Api Merapi Waspada Kembali


Kama wurung yang muncrat dari Batara Guru itu kemudian menjelma menjadi makhluk raksasa bernama Kala Dahana dengan meminjam perantara gua garba Nyi Gadung Melati. Takdir memperjalankan Kala Dahana untuk menguasai gunung Merapi, ibu dari semua gunung api di dunia. Semenjak kecil Kala Dahana memiliki kebiasaan buruk, yaitu memangsa daging manusia. Lambat laun manusia di seputaran gunung Merapi memilih untuk menyingkir guna menyelamatkan diri. Kala Dahana semakin marah. Ia mengumpat-umpat dan menendang apapun yang berada di dalam kawah Merapi. Maka terjadilah ledakan-ledakan maha dahsyat sehingga para penduduk sekitar mengistilahkan gunung Merapi sedang punya gawe, alias mengalami proses letusan atau erupsi. Terjadilah gonjang-ganjing dan goro-goro. Bumi menjadi kehilangan tata keseimbangannya.

Atas titah dan kehendak para dewata, Semar turun ke dengan menitis kepada Ki Sablak yang memperistri Dewi Uma yang pernah dicampakkan oleh Batara Guru pada saat terjadi tragedi kawa wurung. Dewi Uma sendiri setelah turun ke bumi berganti nama menjadi Dewi Gandari. Dari keluarga kecil inilah kemudian lahir seorang ksatria bernama Wala Kusuma. Ia sebenarnya adalah jelmaan dari Petruk Kantong Bolong yang diberi tugas untuk mengalahkan Kala Dahana sekaligus menjadi penguasa baru sekaligus penjaga gunung Merapi.

Pertempuran antara Kala Dahana dan Wala Salam tidak terelakkan. Kala Dahana dibantu oleh Kala Srenggi yang mengerahkan seribu ekor babi hutan atau celeng, sedangkan Wala Kusuma selain didukung oleh Ki Sablak juga dibantu oleh ratusan ekor gajah yang dipimpin oleh Gajah Geni. Singkat kata, singkat cerita, akhirnya Kala Dahana dan wadyabala pasukannya tunduk kepada Wala Kusuma.

Kala Dahana selanjutnya dijadikan raja para hantu api yang memimpin kemamang atau banaspati. Ia diberi wilayah kekuasaan di sepanjang Pantai Selatan. Kala Srenggi diberi tugas untuk menjaga sebuah telaga penguripan yang kelak dikenal sebagai Sendang Celeng. Nyi Gadung Melati, adik Ki Sablak yang merupakan ibu Kala Dahana diberikan mandat untuk menjaga hutan di seputaran lereng Merapi. Adapun Dewi Gandari bertugas menjaga bagian muara aliran sungai-sungai dari Merapi di Keraton Laut Kidul. Wala Salam yang sebenarnya merupakan titisan Petruk menggantikan tahta Kala Dahana untuk menjaga puncak Gunung Merapi hingga kini.

Kisah di atas memang bisa hanya dianggap sebagai cerita fiksi atau fantasi belaka. Tetapi di tangan Ki Dalang Budi Sardjono, kepercayaan dan kearifan lokal masyarakat Merapi yang diwarisi dari para leluhur mereka mengenai Mbah Petruk, Nyi Gadung Melati, Kyai Sapu Jagad, hingga Ratu Laut Kidul diolah dengan sangat apik menjadi sebuah sajian bacaan dongeng dengan judul “Api Merapi”. Buku setebal 410 halaman tersebut terbit dari inspirasi terjadinya erupsi besar Gunung Merapi pada akhir 2010.

Meskipun sebuah buku fiksi belaka tetapi jalinan kisah di dalam buku Budi Sardjono tersebut telah diramu dengan menggabungkan unsur cerita pewayangan dan kepercayaan lokal masyarakat Merapi, termasuk juga unsur sejarah keberadaan Keraton Mataram Kuno pada saat diperintah oleh Raja Jalunendra. Sebagaimana telah terungkap melalui penelusuran sejarah, pada sekitar tahun 1040 terjadi pralaya besar yang diebabkan meletusnya Gunung Merapi. Muntahan awan panas dan lahar dingin menyebabkan keraton dan seisi kerajaan porak poranda, bahkan ribuan jiwa rakyat jelata menjadi korban bencana. Akhirnya Raja Jalunendra memutuskan untuk bedhol kedhaton, yaitu proses pemindahan pusat pemerintahan ke wilayah timur Pulau Jawa. Maka sejarah Mataram Kuno berlanjut ke Kerajaan Medang, Kahuripan hingga Kediri dan Jenggala.

Bukan tanpa rencana dan mungkin hanya sebuah kebetulan semata, pada saat saya mengakhiri membaca buku Api Merapi justru kembali Merapi dikabarkan kembali mengalami peningkatan aktivitas sehingga statusnya dinaikkan dari normal menjadi waspada. Meskipun kewaspadaan jelas perlu ditingkatkan, tetapi saya yakin masyarakat Merapi telah memiliki pemahaman dan kearifan adiluhung mengenai sifat dan karakteristik Gunung Merapi. Bagaimanapun Merapi adalah bagian kehidupan mereka yang telah melaluinya Tuhan telah banyak melimbahkan kesuburan dan kemakmuran.

Semoga Merapi tetap baik-baik saja dan tidak mengalami erupsi yang eksplosif. Dengan demikian, sebagaimana kepercayaan masyarakat bahwa Merapi merupakan ibu dari semua gunung berapi di dunia tidak akan memicu gunung-gunung berapi yang lain untuk turut mengalami peningkatan aktivitas. Gunung Slamet, Bromo, Krakatau, Sinabung, Karangetan, Lokon dan lain sebagainya juga bisa menjalani aktivitas kegunungapiannya dengan tenang sehingga tidak membawa korban manusia namun justru semakin menambahkan kesuburan tanah dan kelimpahan materialnya yang berguna. Manusia memang sekedar harus bersahabat dengan alam, biarlah tangan Tuhan sendiri yang melaksanakan setiap kehendak-Nya.

Ngisor Blimbing, 3 Maei 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s