Allah Islam, Allah Kristen, Allah Budha


Petang itu seolah malam turun semakin cepat seiring datangnya mendung yang menggulung. Pak’e Kenyung bergegas mengikuti langkah si Kenyung yang semangat memenuhi panggilan adzan dari mushola sebelah. Untuk mempercepat tiba di tempat tujuan, si Kenyung kecil sengaja memintas jalan melalui sebuah lorong sempit. Lorong waktu, demikianlah beberapa bocah di kampung itu menamai sebuah gang sempit selebar bahu orang dewasa yang menghubungkan dua gang melalui celah sempit diantara beberapa deretan rumah warga.
Berjalan sambil bercanda, sambil berbincang dan ngobrol semaunya adalah salah satu kebiasaan si Kenyung. Setiap hal yang dilihat, ditemui maupun dirasakan di tengah jalan yang kebetulan menarik hatinya tentu akan ia komentari kalu tidak dipertanyakan. Bocah yang satu ini memang terlihat selalu maneges terhadap segala hal yang nyangkut di otaknya.
Sebagaimana saat waktu sempit di “lorong waktu” petang itupun si Kenyung iseng bertanya, “Pak kalau di Inggris, peri itu malaikat ya?” Mungkin ia terpengaruh dengan kata angel yang tidak terterjemahkan dengan tuntas dalam bahasa Indonesia karena terkadap diartikan sebagai peri, tetapi di lain waktu juga dimaknai sebagai malaikat.
Si Kenyung meneruskan omyangannya, “Malaikat kan pembantunya Allah ya Pak? Nah kalau Allah Kristen apa juga punya malaikat?
Allah Kristen?” batin Pak’e Kenyung sambil geleng kepala.
Pertanyaan pertama belum sempat terjawab si Kenyung melanjutkan berondongannya, “Kalau Allah Budha? Apa Allah Kristen di London? Apa Allah Budha asalnya benar dari India?”
Jika manusia diwajibkan memiliki agama sesuai keyakinannya masing-masing, mungkin di benak si Kenyung juga membayangkan bahwa masing-masing agama memiliki Allah-nya masing-masing juga. Dengan demikian ada Allah Islam, Allah Kristen, Allah Budha dan seterusnya. Gila! Jika menuruti logika seorang bocah yang lurus, lugu dan serba mengandalkan logika kanak-kanaknya, mungkin bisa menyebabkan manusia dewasa yang mendengarkannya benar-benar puyeng kepala jika tidak sampai benar-benar gila.
Sosok seorang bocah sejatinya memang guru sebanar-benarnya bagi para orang dewasa di sekitarnya. Rasa keingintahuan, rasa penasaran maupun berondongan pertanyaan kritisnya justru memicu pikiran manusia dewasa untuk menggali ilmu dan pengatuhan baru, paling tidak untuk bisa menjawab serta menuntaskan ras penasaran seorang bocah yang kritis. Hati seorang bocah yang tulus, logika berpikirnya yang lurus dan obyektivitas hitam-putihnya mungkin menjadikan Allah menanamkan ilmu pengatahuannya langsung melalui mekanisme “perwahyuan” di dalam cipta, rasa dan karsa seorang bocah. Bagaimana? apakah Sampeyan juga mempercayainya? Entahlah, wallahu’alam!

Ngisor Blimbing, 29 april 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s