Magelang-Jogja Pulang-Pergi


Penggalan catatan kisah yang menjadi salah bagian Buku MAGELANG MEMBACA#2

MM2Menjelang tengah dekade 90-an berhasil juga saya lampaui bangku sekolah menengah di samping toko Tape Ketan Muntilan itu. Melanjutkan ke sekolah yang mana, merupakan sebuah pertanyaan yang tidak terlalu mudah untuk dijawab kala itu. Sebagian teman-teman nampaknya sudah bulat untuk bedhol kelas ke satu-satunya SMA negeri di kota kecil Muntilan. Sementara saya sebenarnya lebih suka untuk meneruskan studi di sekolah kejuruan. Bukan lain dan tidak salah, tujuannya agar segera lulus dengan ketrampilan dan selekasnya terjun ke dunia kerja. Enam orang jumlah anak-anak bapak mendorong saya untuk berpikir sepraktis mungkin.
Tatkala beberapa teman nekad menyebrang untuk mendaftar ke sekolah-sekolah di tetangga provinsi, sayapun menjadi tertarik dengan ide-ide mereka. Paling tidak di benak sebagian besar warga negeri ini, tetangga provinsi tersebut sudah sangat populer dan diakui sebagai kota pelajar, kota pendidikan, sekaligus kota budaya. Itulah kota Jogjakarta di sebelah selatan wilayah Magelang.
Bukanlah sebuah perkara mudah untuk dapat bersekolah di wilayah tetangga tersebut, sedangkan status kita adalah pelajar lulusan dari lain provinsi. Di samping kuota pelajar luar daerah yang diterima hanya dibatasi sebanyak 10%, juga diperlukan beberapa persyaratan administrasi tambahan yang ribet juga pengurusannya. Ada surat rekomendasi dari dinas pendidikan tingkat kabupaten atau kotamadya, ada pula surat perwalian yang menyatakan bahwa kita memiliki orang tua wali di Jogja yang disyahkan di atas meja notaris.
Kejadian yang lucu bin menggelikan sempat terjadi tatkala saya mengurus surat rekomendasi di dinas pendidikan yang berkantor di Kota Mungkid. Di kolom alasan atau tujuan bersekolah ke Jogja yang terdapat di isian formulir yang harus diisi, saya menuliskan ingin mencari sekolah yang berkualitas dan bermutu baik. Petugas di dinas tersebut justru “mempersalahkan” saya. Ia tidak memperbolehkan saya menuliskan alasan tersebut dengan alasan di wilayah Magelang sudah ada sekolah dengan kualitas dan mutu yang terbaik di Indonesia. Tentu sampeyan paham kan sekolahan yang dimaksudkan? Sebuah sekolah semi militer dengan beasiswa dan fasilitas terbaik kala itu.
Akhirnya daripada memperpanjang masalah dan birokrasi, saya mengalah untuk mengganti alasan yang sudah tertulis. Apa kira-kira alasan yang kemudian saya tuliskan? Apakah sampeyan akan tertawa, bahkan pakai terbahak-bahak, tatkala saya beri tahu bahwa alasan yang kemudian tertulis adalah “mencari sekolahan terdekat”. Dan justru anehnya alasan itulah yang diterima oleh petugas anak buah Pak Trisman tadi. Siapa yang waras, siapa yang pethok ya jika demikian? Mungkin memang sudah mengakar bahwa seorang birokrat harus selalu benar dan menang, meskipun tata logika nalarnya jelas-jelas keblinger. Lha gimana coba, sekolah ke Jogja lebih dekat daripada sekolah di Magelang untuk seorang warga Magelang. Agak aneh bin janggal memang!
Akhirnya catatan hidup menggoreskan bahwa saya tidak jadi bersekolah di sekolah kejuruan dikarenakan jurusan yang saya incar justru menerapkan sekolah yang masuk di siang hari. Akhirnya nasib mendamparkan saya sekolah di sebuah SMA negeri di pinggiran Jalan Magelang yang dikenal sebagai SMA Empat Bhe. Bukan atas alasan atau pertimbangan yang bertele-tele lagi, tetapi dikarenakan sekolah tersebut berada di pinggir jalan yang dilewati bus antar kota antar provinsi Magelang – Jogja. Akhirnya sekolah di Jogja itupun saya jalani dengan nglaju alias pulang-pergi setiap harinya dengan menumpang bus Jogja – Semarangan.
Tatkala pada kesempatan awal, seorang guru Fisika di kelas satu menanyakan dengan agak serius kenapa memilih bersekolah di Empat Bhe, dengan asal saya jawab, “menyalurkan hobi Pak”. “Lha memang apa hobimu?” tanya Pak Parno lebih lanjut. Sayapun hanya menjawab pendek, “ngebis Pak!” Nah, loe pak gurunya jadi mlongo.
Sebenar bukan soal menjawab asal-asalan juga karena pada kenyataannya setiap hari pulang-pergi sekolah saya senantiasa naik bus AKAP. Hmmm, di kala kebanyakan anak bersekolah naik colt, kopata, engkel ataupun paling banter bus berukuran sedang, saya justru naik bus besar. Jurusan Jogja-Semarang lagi! Sesuatu yang cukup membanggakan bagi anak-anak sekolah tatkala itu. Meskipun sebenarnya untuk turun dari Tepian Merapi saya juga tetap harus naik kopata atau mbonceng Bapak hingga pertelon Gulon.
Para pelajar asal wilayah Magelang yang bersekolah di wilayah DIY sebenarnya bisa dibilang tidak sedikit. Sebagian besar diantaranya justru menjadi penglaju seperti saya. Tak heran jika di waktu pagi hari, bus-bus AKAP yang melaju selepas Muntilan akan banyak dipenuhi oleh para pelajar yang menimba ilmu di Jogja. Kebanyakan para siswa tersebut bersekolah pada sekolah-sekolah yang terdapat di pinggiran jalur utama sepanjang Jalan Magelang, mulai dari SMEA Tempel, MTsN Ngosit, SMA Medari, SMEA YPKK, STM Beran, hingga yang di dalam wilayah Kodya Yogyakarta seperti MAN II, SMA 4B, termasuk SMA Teladan di Wirobrajan. Semakin memasuki jantung Kota Jogja, pelajar dari Magelangan yang nglaju tentu saja semakin sedikit.
Suka duka pelajar yang harus menempuh jarak 30 km antar kota antar provinsi dengan kendaraan umum tentu sangat berwarni-warni dan mengharu biru. Hari Senin pagi dan Sabtu sore adalah saat-saat yang paling berat dari sisi transportasi kami. Sabtu sore penumpang bus berjejal dipenuhi para pelajar maupun mahasiswa indekos yang ingin pulang kampung mingguan ke Magelang maupun Semarang dan wilayah sekitarnya. Demikian halnya, pada Senin pagi, arus pemudik mingguan itu akan kembali berbondong-bondong memenuhi bus untuk kembali beraktivitas di Kota Pelajar. Hal yang membuat para penglaju harian ekstra berjuang dikarenakan kebanyakan bus lebih memprioritas para penumpang tak berseragam sekolah yang dikenakan tarif penumpang umum. Menumpang bus dengan sekedar berdiri, atau bahkan harus nggelantung dengan satu kaki di pintu bukanlah hal yang aneh yang harus kami jalani di waktu-waktu berat itu.
Hal yang paling menyenangkan sekaligus membanggakan adalah tatkala kami berkesempatan naik bus Ramayana Eksekutif, bus mewah ber-AC yang bertarif lebih mahal daripada bus reguler yang lainnya. Kok bisa pelajar berseragam yang seringkali hanya membayar tarif setengah harga penumpang umum bisa naik bus mewah?
Kebetulan garasi atau kandang bus eksekutif tersebut berada di pinggiran Kota Muntilan. Pada saat bus pertama kali keluar kandang, bus tersebut biasanya langsung menuju ke arah Jogja. Para sopir bus tersebut seringkali berkelakar, daripada kosong mlompong mereka lebih suka ngerit para pelajar untuk sekedar mendapatkan uang sarapan. Jadilah para pelajar yang hanya membayar Rp 200,- itu pergi ke sekolah dengan bus mewah.
Tarif penumpang pelajar untuk bus antar kota antar provinsi dari Muntilan menuju Jogja tatkala itu tergolong murah dan terjangkau. Untuk pelajar dengan tujuan Tempel, Ngosit, Medari, Sleman, hingga Beran hanya dikenakan Rp 200,-. Sedangkan pelajar tujuan sekolah-sekolah di wilayah Kodya Yogyakarta ditarik Rp 300,-. Sebagai perbandingan penumpang umum Muntilan-Jogja dan sebaliknya tatkala itu masih membayar Rp 500,-. Nah saya yang seringkali ambyur dengan pelajar-pelajar yang sekolah di wilayah Sleman tak jarang hanya ikut-ikutan membayar Rp 200,-, termasuk jika naik bus eksekutif yang wah tadi!
Nglaju jarak jauh dengan kendaraan umum, terlebih lintas kota lintas provinsi, tentu saja membutuhkan sebuah kedisiplinan yang tidak boleh lengah apalagi kendor. Meskipun jarak Muntilan – Jogja selalu dapat ditempuh selama-lemanya hanya 30 menit. Namun jika sampai tidak mendapatkan bus pada waktu yang tepat tentu saja kami akan telat sampai di sekolah kami. Hal ini seringkali kami alami tatkala berangkat sekolah di Senin pagi. Dikarenakan bus-bus yang berasal langsung dari Semarang ataupun Magelang senantiasa sudah sesak dengan penumpang, tentu mereka tidak bisa lagi membawa para pelajar yang menghadang selepas kota Muntilan. Satu-satu andalan kami di Senin pagi hanyalah bus Ramayana yang lengsung keluar dari kandangnya. Andaikan di pagi itu kami sampai terlambat mendapatkan bus, tidak jarang kami harus berbaris pada deretan yang dihadapkan para guru saat upacara bendera di lapangan sekolah, alias terkena strap.
Di samping banyak menambah teman dari berbagai sekolah yang menaiki bus bersamaan, nglaju menyusuri Jalan Magelang juga memberikan banyak kesan dan kenangan sepanjang jalan yang tak akan lekang sepanjang jaman. Secara alamiah, satu per satu kampung atau nama-nama tempat khusus di sepanjang perjalanan kamipun tanpa sengaja juga kami hafal di luar kepala. Mulai dari Gulon, Mancasan, Tabang, Prebutan, Tegalsari, Seloiring, Jumoyo, Pulosari, Babadan, Remame, Gremeng, Semen, Sucen, Krakitan, Waru, Citrogaten, Salam, Jagang, Tempel, Lumbungrejo, Palbapang, Ngebong, Ngosit, Pangukan, Medari, Murangan, Penthung, Krapyak, Sleman, Jalan Turi, Dukuh, Beran, Tridadi, Denggung, Mulungan, Sendangadi, Mlati, Jombor, hingga Karangwaru tidak pernah terlepas dari ingatan hingga kini.
Magelang, atau tepatnya Muntilan – Jogja pulang pergi setiap hari menjadi tahapan penempaan jiwa dan raga kami. Ratusan atau bahkan ribuan putaran roda bus telah membawa penggalan perjalanan hidup yang mengantarkan kami kepada asa dan cita-cita yang hingga hari ini masih terus kami geluti dan perjuangkan. Perjalanan hidup memang senantiasa penuh misteri Ilahi. Sebuah proses panjang yang entah hingga kapan harus dijalani. Di sepanjang jalan itu, terkadang naik menanjak, terkadang turun menderas, sehingga menjadi seni tersendiri tatkala menjalaninya. Di kanan dan kiri jalur perjalanan itupun tidak pernah sepi dari godaan iman yang bisa mengandaskan arah dan tujuan perjalanan.
Kini, tatkala kami hanya bisa mengenangkan masa-masa perjuangan itu, kami merasa sangat bersyukur atas segala kesempatan perjalanan pembelajaran yang sangat berharga saat-saat itu. Apakah di masa kini masih banyak pelajar Magelang, khususnya sekitaran Muntilan, yang masih nglaju pulang-pergi sekolah ke Jogja dengan bus antar kota antar provinsi sebagaimana pada masa kami dahulu? Entahlah, saya sendiri tidak tahu pasti.

Ngisor Blimbing, 12 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Magelang-Jogja Pulang-Pergi

  1. Evi berkata:

    Perjuangan cita-cita yang menuntut banyak pengorbanan. Insya Allah sekarang sudah menikmati hasilnya ya Mas

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Alhamdulillah mbak, yang penting hidup mengalir dan tidak menambah ruwet masalah di negeri yang sudah semakin ruwet ini….biar kate hidup melarat tetapi punya martabat!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s