Jokowi Nggege Mangsa


Nggege mangsa dapat diartikan terlalu dini. Dalam konotasi lebih dalam nggege mangsa bahkan dimaknai “mendahului takdir”. Takdir memang sebuah ketetapan final yang menjadi hak prerogratif Tuhan. Namun demikian, sebelum sampai kepada keputusan yang ditetapkan sesungguhnya manusia memiliki peluang dan kesempatan untuk “menuliskan takdirnya” masing-masing. Hal inilah yang disebut sebagai ikhtiar atau usaha manusia.

Konteks nggege mangsa sengaja saja penulis kaitkan dengan fenomena pencalonan Jokowi sebagai calon presiden kali ini. Mengapa penulis berpendapat Jokowi kok nggege mangsa? Tidak mengurangi rasa hormat dan kagum saya kepada Beliau Joko Widodo atas prestasi-prestasinya saat menjabat Walikota Surakarta, namun ada beberapa hal yang menurut penulis kurang trep, kurang pas, juga mungkin kurang pantas dalam tatanan unggah-ungguh budaya dan nilai ketimuran kita.

Begini sedulur semua, pada saat Jokowi dicalonkan partainya untuk turut mengikuti pilgub DKI Jakarta di tengah masa jabatannya yang kedua, segenap masyarakat Kota Solo merelakannya sebagai bentuk penghormatan atas prestasi-prestasinya dan juga partisipasi rakyat Surakarta yang merelakan putra derah terbaiknya untuk turut ngudari ruwet atau mengatasi dan membangun Ibukota Jakarta. Rakyat Jakartapun kemudian mendapatkan harapan akan hadirnya seorang pemimpin yang mau benar-benar bekerja untuk membawa kemajuan Jakarta. Jokowi sepenuhnya taat atas amanah partai yang telah membesarkannya. Akhirnya bersama Ahok, Jokowi berhasil meraih kursi puncak pimpinan pemerintahan DKI Jakarta.

Cara kerja Gubernur Jokowi yang sering tanpa canggung blusukan ke tengah masyarakat telah menumbuhkan semangat di kalangan semua lapisan masyarakat ibukota bahwa permasalahan-permasalahan yang kompleks di Jakarta, semisal kemacetan, urbanisasi, anak jalanan, kriminalitas, dan lain sebagainya akan teratasi secara bertahap. Optimisme tumbuh, harapan besarpun tersandar di pundak Jokowi. Bisa dikatakan dalam berbagai kebijakan barunya, masyarakat akar rumput berada di belakang Jokowi-Ahok.

Akan tetapi ketika bola politik bergulir semakin panas dengan segala sudut pandang kepentingan partai dan golongan masing-masing, kembali atas nama amanat partai Jokowi didorong-dorong dan akhirnya benar-benar dideklarasikan sebagai calon presiden. Lho kok? Lalu bagaimana dengan janji-janji dan program yang dicanangkannya untuk membangun Jakarta? Jika seandainya ia nanti terpilih dalam pilpres sebagai Presiden RI, sudah pasti ia akan meninggalkan kursi Gubernur DKI Jakarta. Apa makna sebuah sumpah jabatan yang diikrarkannya untuk masa jabatan lima tahun ke depan? Bukankah ini sebuah tindakan tidak menepati janji?

Alasan penunjukan dirinya mencalonkan sebagai presiden yang merupakan amanat partai justru menurut penulis telah mengkerdilkan kewibawaan dan prestasi Jokowi. Bagaimanapun juga pada saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, seorang Jokowi adalah milik publik Jakarta. Kepentingan publik harus dijunjung lebih tinggi daripada kepentingan partai ataupun golongan. Publik bisa saja memiliki pendapat bahwa ungkapan Jokowi memenuhi amanat partai, apapun perintah partai akan dijalaninya, justru menunjukkan seorang Jokowi tidak lagi memiliki independensi personal dan sikap ksatria dalam rangka memegang janji dan sumpah jabatan. Akan terkesan pula bahwa dirinya dan partainya sengaja menggunakan aji mumpung, mumpung populer, mumpung ada kesempatan, maka kesempatan untuk meraih posisi jabatan kekuasaan yang lebih tinggi jangan sampai terlewatkan.

Dalam masa pemerintahannya yang baru berlangsung 1,5 tahun di DKI Jakarta, pastinya belum banyak janji-janji dan program pembangunan yang dikampanyekannya pada saat pencalonan gubernur berhasil disentuh, apalagi benar-benar terwujud menjadi kenyataan. Bisa dikatakan ketokohan dan kaliber Jokowi sebagai gubernur otomatis belum teruji, serta belum juga menorehkan track records yang baik. Apakah pengalaman sebagai Walikota Solo, kemudian menjabat gubernur seumur jagung telah membentuk seorang Jokowi menjadi tokoh yang bisa dipandang memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mengatasi permasalah bangsa yang jauh lebih berat, lebih kompleks, dan syarat dengan berbagai tarikan kepentingan politik? Hal inilah yang penulis maksudkan dengan nggege mangsa, terlampau dini!

Dari sudut pandang etika ketimuran kita, langkah Jokowi dalam menempuh karirnya seolah hanya dilandasi sikap oportunis dari kalangan orang-orang, kelompok, golongan ataupun partai untuk mengusung kepentingan-kepentingan masing-masing. “Ibarat seorang suami yang telah menikah dengan satu orang istri lalu tiba-tiba saja ada wanita cantik lain yang menyatakan diri sedia dinikahi, maka ia tanpa atau belum sempat menalak istri pertamanya tiba-tiba saja sudah menggandeng wanita lain sebagai istri barunya”, demikian pernah diungkapkan Budayawan Emha Ainun Nadjib pada satu kesempatan yang pernah penulis dengar.

Alangkah jauh lebih elegan seandainya Jokowi menuntaskan dulu janji-janjinya untuk masyarakat Jakarta sampai memetik pengalaman memimpin masyarakat yang lebih kompleks daripada permasalahan di Kota Surakarta. Pada saat pengalaman dan track records sudah mengantarkannya sebagai tokoh berkaliber nasional yang pantas dicalonkan menjadi pimpinan negara, maka sudah pasti rakyat akan mendukung dengan penuh kepercayaan disertai harapan akan terjadinya perubahan di Negara kita menuju ke arah yang lebih baik.

Sekali lagi tulisan ini bukan bentuk kampanye hitam untuk Jokowi. Penulispun tidak memiliki tendensi mendukung tokoh lain. Tulisan ini hanyalah ungkapan yang lahir dari rasa keprihatinan seorang wong cilik atas perilaku elit-elit politik kita yang bersikap oportunis terhadap kursi kekuasaan. Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari fenomena politik yang seringkali di luar nalar rakyat di akar rumput.

Lor Kedhaton, 17 April 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s