Mobil Kecil, Mobil Besar di Mata Anak Kecil


SepedariaPagi itu hari Rabu Pon, bertepatan dengan Hari Coblosan. Hari pesta demokrasi bagi rakyat yang berdaulat dan memiliki jiwa merdeka untuk menentukan pilihan politiknya. Hari pemilu tentu sangat menggembirakan. Paling tidak hari tersebut telah ditetapkan sebagai hari libur. Para pegawai kantor libur. Anak sekolah, mahasiswa kuliahan, para buruh dan karyawan pabrikpun demikian.

Sebagaimana hari-hari libur yang lain, pagi hari biasa dimanfaatkan oleh Pak’e Kenyung mengajak si Kenyung bersepeda ria. Di samping untuk berolah raga dengan melemaskan otot-otot kaki, bersepeda juga bisa menjadi ajang cuci mata ataupun melihat-lihat pemandangan di lintasan perkampungan di pinggiran ibukota. Ada deretan perumahan-perumahan yang masih baru. Ada perkampungan yang padat dengan deretan rumah-rumah yang berdiri sembarangan. Ada hamparan sawah dan ladang yang tersisa dari gusuran pembangunan. Ada pasar, sekolah, bahkan taman-taman buatan yang belum memberikan kerindangan pepohonan barunya.

Lebih dari itu, kesempatan bersepedaan dengan berboncengan merupakan momentum yang sangat strategis bagi terselenggaranya dialog antar generasi dengan gaya bebas, rileks, namun kadang sangat serius dan bernas dengan isi hikmah kehidupan. Antar ayah dan anak bisa terjadi perbincangan mengenai berbagai hal yang dijumpai di tengah perjalanan. Kadang ada obrolan mengenai pak tua yang bersusah payah berjualan caping dan bakul bambu yang terengah-engah mengayuh sepeda sambil menjajakan dagangan jadulnya. Kadang perbincangan membahas perilaku masyarakat yang seenak perutnya sendiri membuang sampah di pinggiran jalan. Kadang terjadi kisah mengenai sebuah tanah pekuburan dengan deretan pohon kamboja dan beringin angker di pojokan jalan. Dan masih banyak tema obrolan dialogis yang mungkin terjadi.

Tatkala di pagi hari Rabu Pon itu, Pak’e dan si Kenyung melintas di sebuah jalanan lebar yang di kanan-kirinya berdiri deretan ruko-ruko baru, tiba-tiba saja si Kenyung nyeletuk bertanya, “Pak, kalau laboratorium itu letaknya dimana to?”

Sambil terus mengayuh pedal sepedanya dengan santai, Pak’e menjawab, “Laboratorium ya di rumah sakit Le!”

“Bukan laboratorium yang itu Pak!” si Kenyung menyanggah jawaban Pak’e.

“Lha maksudnya laboratorium yang mana to Le?” si Pak’e mengulangi pertanyaan yang pertama kalinya disampaikan anaknya.

“Maksudku, laboratorium yang untuk meraih cita-cita Pak. Yang untuk menjadi profesor itu lho! Kayak yang di tivi itu!” si Kenyung menegaskan maksud pertanyaannya.

Pak’e-pun segera tanggap, “Oo, kalau itu ada di LIPI Le! El-I-Pe-I, LIPI! Lembaga, Ilmu, Pengetahuan, Indonesia. Tahu Le?”

Pak’e kemudian mengejakan lagi pelan-pelan sambil ditirukan si Kenyung, “LIPI, lembaga-ilmu-pengetahuan-Indonesia.”

Ooo, di sana,” si Kenyung nampak mulai paham.

Sejurus kemudian Pak’e balik bertanya, “Lha emange kenapa dengan laboratorium to Le?”

    Mercy

Si Kenyung menjawab justru dengan pertanyaan, “Emange di sana ada alat pembesar ya Pak?”

“Alat pembesar apa to Le?” Pak’e mencoba menanyakan lebih rinci maksud pertanyaan si Kenyung.

“Ya alat yang bisa membuat benda apapun menjadi besar,” tandas Kenyung antusias.

Lha terus alat pemebsar itu buat apa hayo?” Pak’e malah menjadi penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya.

“Aku kan punya mobil hotwheel. Mobil itu nanti akan aku bawa ke laboratorium prefesor Pak’e. Dengan alat pembesar di laboratorium, mobil yang kecil kan bisa dijadikan mobil besar, mobil sungguhan to Pak? Jadi aku bisa punya mobil beneran. Enak kan Pak!” si Kenyung memanjang-lebarkan maksud pikirannya.

Mendengar uraian si Kenyung, tentu saja Pak’e jadi tertawa nggleges sambil terus mengayuh sepeda di tikungan jalan.

Si Kenyung masih terus ngoceh, “Lha kalau mobil kecil bisa diubah menjadi besar dengan alat pembesar di laboratorium kan tidak perlu buang uang untuk beli mobil beneran ya Pak? Uangnya bisa buat beli barang yang lain. Atau uangnya bisa buat ditabung dan dikasihkan ke Mbah Kakung. Ya to Pak?”

Kali ini Pak’e tidak bisa lagi menahan ledakan tawanya, hingga mau tidak mau terbahak-bahaklah ia sehingga mengguncang-guncangkan laju sepedanya. Sedikit terlarut dalam arus tawa membuat konsentrasi Pak’e dalam mengendalikan sepeda mengendur hingga angin kencang yang menerpa dari arah depan menerbangkan tutup kepala yang dikenakannya. Sepedapun direm secara mendadak dan menyebabkan kepada si Kenyung terayun ke depan dan menubruk punggung bapaknya. Meledaklah tawa yang lebih menggema di pinggiran jalan yang sudah mulai dipenuhi mobil-mobil mewah yang sudah bangun dari istirahat malamnya.

Weleh,….. weleh, weleh! Khayalan bocah di jaman sekarang memang luar biasa. Meskipun di mata orang dewasa pemikiran mereka masih lugu, tetapi justru keluguan itulah yang menjadi sebuah kelucuan. Walhasil, ocehan seorang bocah bisa menjadi penghibur tersendiri bagi para orang dewasa yang mungkin terlampau lelah dan kalah dalam hidupnya.

Ngisor Blimbing, 12 April 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s