Antara Pilih Orang atau Pilih Uangnya


pemilu-2014-2Pemilu dulunya memang digagas sebagai pesta rakyat. Berbondong-bondong rakyat dari sekalian penjuru dusun dan gunung mendatangi tempat pemungutan suara. Hari-hari yang biasanya diisi dengan kerja di sawah dan lading, pada hari coblosan sengaja diistirahatkan khusus untuk mangayubagyo hajatan negeri yang konon mengibarkan system demokrasi ini. Kantor-kantor, sekolah-sekolah, termasuk juga pabrik-pabrik juga turut menikmati liburan seharian. Bahkan pasar-pasar yang sudah selalu menyatu dengan aktivitas para simbok bakul, para pembeli, juru parkir, juga para pengemis juga menjadi sepi. Semua lapisan masyarakat terfokus segala perhatiannya kepada hajatan pemilihan wakil rakyat.

Tidak hanya pada hari H pemilihan saja suasana jalanan nampak lebih meriah dan ramai. Beberapa minggu sebelumnyapun jalanan senantiasa diramaikan dengan pawai dan konvoi arak-arakan kendaraan para simpatisan partai yang turut meramaikan kampanye terbuka. Lapangan-lapangan strategis menjadi lautan manusia yang mengelu-elukan para juru kampanye yang berapi-api menebarkan janji-janjinya. Teriakan saling dukung dan yel-yel, sesekali menggema ke seantero penjuru langit. Kemeriahan suasana panggung semakin menggelegar dengan lantunan para biduan ndangdut yang sengaja diundang untuk memeriahkan suasana. Demikian halnya berita-berita di koran dan tivi-tivi pada masa kampanye juga dipenuhi dengan liputan mengenai pelaksanaan safari kampanye para tokoh partai di berbagai daerah pemilihan.

Lain dulu memang sedikit lain dengan jaman sekarang. Kampanye dengan model pengerahan massa dan arak-arakan kendaraan semakin dibatasi melalui aturan main yang ada. Banyak kalangan partai yang lebih mengedepankan kampanye yang bersifat dialogis dan tertutup. Di samping itu banyak juga kalangan masyarakat yang sudah jenuh dengan janji-janji para calon wakil rakyat. Lebih banyak masyarakat yang acuh tak acuh dan cuek terhadap gelaran kampanye maupun hajatan pesta demokrasi yang tengah berlangsung. Bekerja dan menjalani aktivitas keseharian bagi kalangan ini dirasa lebih berharga daripada membuang-buang waktu untuk ikut-ikutan mendengar kampanye.

Di sisi lain, bagi kalangan masyarakat tertentu, waktu-waktu digelarnya kampanye justru menjadi kesempatan untuk “mendapatkan” sesuatu dari para tokoh dan kader partai yang sedang membutuhkan dukungan massa. Tidak ada makan siang yang gratis! Demikian halnya tidak ada kampanye yang gratisan! Jika di masa lalu, orang berkumpul menghadiri sebuah kampanye lebih didorong rasa simpati terhadap partai atau tokoh tertentu dengan penuh rasa sukarela, maka pada saat kini banyak diantara kerumunan massa yang mau ngumpul karena menerima bayaran tertentu. Pokoke wani piro! Hadir pada suatu kampanye bisa jadi menjadi profesi musiman yang bisa mendatangkan rupiah. Tokh bukan lagi rahasia umum jika kita tahu sama tahu, setiap kepala yang hadir di medan kampanye akan disangoni sekedar uang transport, bensin ataupun uang rokok.

Seminggu menjelang perhelatan pemilu, kebetulan saya berkesempatan menengok kampung halaman tercinta. Sebagaimana di masa lalu, anak-anak muda di kampung kami hanya satu-dua yang berminat turut pawai dan arak-arakan di jalanan. Mereka biasa mem-bleyer knalpot motor untuk membunyikan efek suara yang menggemparkan jalanan. Dandan…dandan….dandan! Demikian kira-kira bunyi suara motor yang mbleyer di jalanan tersebut.

Kelemahan setiap penyelenggaraan pemilu di tengah masyarakat yang belum dewasa jiwa demokrasinya adalah adanya pertentangan dan perpecahan yang disebabkan perbedaan pilihan dan aspirasi politik. Terlebih dalam suasana politik uang yang kian terang benderang dalam pemilu kali ini. Masing-masing tokoh kader secara terbuka terus blusukan sambil membagi janji pemberian uang jika masyarakat mau mendukung partai yang dikaderinya. Bahkan para makelar partai bergentayangan dari kampung ke kampung. Partai A berani membeli Rp 20.000,- untuk setiap suara. Partai B tak mau kalah, mereka janji membagi Rp 30.000,- jika partainya menang di TPS. Bahkan partai yang lain berani memberi uang yang lebih besar lagi.

Pada perhelatan pemilu wakil rakyat lima tahun yang silam, dusun kami termasuk kompak memberikan suara kepada suatu partai tertentu. Walhasil dari dukungan tersebut, tokoh yang kemudian benar-benar menjadi wakil rakyat di parlemen memberikan dana pavingisasi sebesar Rp 250 juta untuk tiga kampung di sekitar kami. Berbekal dari pengalaman itu juga, maka pada saat pemilu kali inipun masyarakat sudah menodong para caleg dengan tawaran harga suara yang semakin mahal.

Di tengah suasana politik praktis yang menghalalkan segala cara, termasuk suap-menyuap uang kotor, masyarakat juga tertular virus sikap praktis dan pragmatis tersebut. Di tengah ketidakpercayaan rakyat terhadap system demokrasi, kepemimpinan para penguasa serta deligitimasi para tokoh masyarakat yang kharismatik, tidak mau lagi bersusah payah mencari dan memilih calon wakil rakyat yang benar-benar bersih dan mau memperjuangkan nasibnya. Rakyat lebih berpikir jangka pendek. Yang penting jika turut memilih dalam pemilu dan menghantarkan seseorang menduduki kursi kekuasaan, maka imbalan apa yang langsung bisa langsung didapat di tangan. Orang sudah semakin malas berpikir tentang kapasitas, visi-misi dan program apa yang ditawarkan para caleg. Secara lebih tegas, berapa uang yang akan dikantongi jika turut memilih! Dasar pilihan tidak lagi dilandaskan kepada kapasitas, kapabilitas, integritas seseorang, tetapi berdasarkan uang, uang dan uang semata.

Hak pilih yang sebenarnya berkaitan dengan masa depan kehidupan rakyat pada ranah kehidupan politik, sosial, ekonomi dan budaya sudah digadaikan hanya dengan beberapa lembar rupiah. Nampaknya bicara demokrasi di tengah perut rakyat yang belum tercukupi kebutuhannya memang tidak akan pernah bisa menghasilkan kepemimpinan yang akan benar-benar mengangkat dan memperjuangkan amanat penderitaan rakyat itu sendiri. Kondisi demikian bisa jadi justru akan semakin memperbesar jumlah kalangan masyarakat yang semakin apatis dengan system demokrasi kita untuk kemudian memilih untuk tidak turut memilih.

Lor Kedhaton, 8 April 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Antara Pilih Orang atau Pilih Uangnya

  1. annosmile berkata:

    njenengan nyoblos mboten mas?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s