Mamasa, Kota di Ujung Jalan Buntu


Mamasa7  Mamasa9

Masih berlanjut ekspedisi di Sulawesi Barat. Setelah Pasangkayu, Mamuju, Majene, Polewali-Mandar, tibalah saatnya kami harus memasuki pedalaman daerah Mamasa. Mamasa merupakan kesatuan administrasi pemerintahan setingkat kabupaten. Kabupaten Mamasa merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Polewali-Mamasa (Polmas) yang terbentuk sekitar tahun 2002 silam. Dengan demikian usia kabupaten baru tersebut relatif lebih tua dibandingkan dengan Provinsi Sulawesi Barat sebagai induknya.

Secara administrasi Kabupaten Mamasa berbatasan dengan Kabupatan Mamuju di sisi utara dan barat, dengan Kabupaten Polman di sisi selatan, sedangkan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang, Provinsi Sulaesi Selatan. Dari sisi jalur transportasi, Kota Mamasa merupakan daerah pedalaman yang masih penuh dengan misteri akan seperti apakah perkembangannya di masa depan.

Mamasa1  Mamasa2

Sebagai daerah pedalaman jantung Pulau Sulawesi, topografi Mamasa didominasi rangkaian pegunungan yang aslinya merupakan hamparan hutan hujan tropis yang sangat lebat. Jumlah penduduk yang belum melebihi angka 200.000 jiwa pada umumnya tersebar di dusun-dusun yang berjajar di lereng-lereng pegunungan dan pada hamparan lembah yang lebih datar. Mayoritas penduduk menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, perkebunan dan sektor kehutanan. Komoditas paling terkenal di daerah ini adalah kopi dan kakao. Di samping itu Mamasa juga menjadi penghasil ternak sapi, kerbau, kuda dan babi. Sebagaian besar warga Mamasa memeluk agama Kristen Protestan.

Secara garis besar, adat, tradisi dan budaya masyarakat Mamasa memiliki banyak kemiripan dengan suku Toraja di Sulawesi Selatan. Bentuk rumah adat, baju tradisional serta beberapa jenis upacara adat sama dengan suku Toraja. Hal ini tidak lepas dari asal-usul masyarakat Mamasa yang memiliki akar leluhur yang sama dengan masyarakat Tana Toraja. Jarak perjalanan darat antara Kota Mamasa dan wilayah Tana Toraja sebenarnya hanya terbentang sekitar 90 km. Kesamaan banyak hal dengan Tana Toraja ini telah mendorong pemerintah setempat untuk mengembangkan sektor pariwisata, khususnya wisata budaya dan alam. Di Mamasa banyak terdapat aliran sungai yang memiliki air terjun tinggi dan laju alirannya yang deras sangat sesuai untuk pengembangan wisata air seperti arung jeram. Pada tahun 2011, Pemerintah Kabupaten Mamasa bahkan pernah mencanangkan tahun kunjungan wisata.

Mamasa3  Mamasa4

Saat ini, Kabupaten Mamasa bisa dibilang masih merupakan daerah yang paling tertinggal dibandingkan dengan wilayah pemekaran yang lain di Sulawesi Barat, seperti Kabupatan Mamuju Utara ataupun Mamuju Tengah. Satu-satunya akses jalur darat menuju Kota Mamasa yang “layak” dilalui adalah jalur Polman – Mamasa yan berjarak kurang lebih 90-an km. Adapun jalur tembus ke Mamuju melalui Mambi konon hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Kondisi jalanan yang berkelok, mendaki dan menurun tajam dengan posisi di lereng-lereng tebing yang rawan longsor memiliki tingkat risiko yang tinggi. Hal ini ditambah lagi dengan keadaan jalan yang rusak parah, penuh dengan lobang dan aspal yang tidak tersisa lagi. Kita seolah-olah tengah mengarungi aliran sungai yang mengering. Jarak antara Polman-Mamasa yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam memerlukan waktu tempuh tidak kurang dari 6 jam. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan dan membuang banyak waktu maupun tenaga.

Perjalanan di daerah pegunungan, terlebih jika keasrian hutan di kanan-kirinya masih terjaga, pasti akan membawa suasana kesejukan ditambah dengan bonus pemandangan alam dengan dominasi warna hijau daun yang menentramkan. Tetapi sungguh saying, hutan di sepanjang perjalanan menuju Kota Mamasa sudah tidak lagi terjaga. Dari pepohonan rimbun di tengah rimba raya, hanya tersisa tonggak dan pokok pohon yang menandakan semakin kritisnya lahan yang ada. Suasana asri keprawanan alam telah berganti dengan hawa panas yang terpantul dari tanah-tanah yang gersang tak berpohon lagi. Perjalan ke Mamasa terasa bagaikan pengembaraan ke neraka jahanam yang panas membara.

Kondisi jalanan akan semakin menebar aroma maut jika turun hujan. Guyuran air dari langit akan membuat jalanan berdebu berubah menjadi becek dan penuh dengan kubangan besar yang sangat membahayakan pengendara yang melintas. Belum lagi jika sampai terjadi longsoran tanah perbukitan yang dapat memutus jalur jalan. Bisa-bisa pengendara akan menginap di jalanan dalam hutan yang tak bertuan. Panas tidak nyaman, hujanpun tidak aman. Demikian kira-kira gambaran akses utama menuju Kota Mamasa. Hal ini menjadikan para pelintas lebih sering berjalan di siang hari untuk menghidari segala macam kemungkinan risiko yang menghadang di tengah jalanan “liar” di rimba Sulawesi ini.

Mamasa6  Mamasa5

Diantara titik Polman dan Mamasa hanya terdapat satu titik peristirahat yang layak untuk bersinggah. Tempat itu bernama Sumarorong. Sebuah “kota” kecamatan yang masih lebih mirip sebuah desa di tepian jalanan yang berdebu. Warung makan terbesar yang selalu menjadi titik peristirahatan para pelintas adalah Warung “Ilham” Jawa Timuran. Di sini kita dapat menikmati sajian menu mulai dari bakso, ikan bandeng, gado-gado, atau rica-rica bebek ala Mamasa.

Tidak jauh dari titik peristirahatan, di Sumarorong sebenarnya telah beroperasi lapangan udara perintis. Jalur perintis ini sebenarnya dimaksudkan sebagai pintu gerbang utama memasuki Kota Mamasa. Hanya saja hingga saat ini, jalur penerbangan yang dilayani jenis pesawat ATR ini baru melayani penerbangan seminggu dua kali, yaitu pada hari Jum’at dan Selasa. Jarak antara Sumarorong ke Mamasa yang hanya tinggal sekitar 18 km ternyata belum memberikan tanda-tanda kondisi jalanan yang membaik sehingga masih harus ditempuh dalam 2 jam.

Memasuki tapal batas Kota Mamasa, jangan membayangkan suasana akan hingar-bingar dengan ramainya arus lalu-lintas di jalanan protokol. Mamasa merupakan segaris kota yang menempati tepian sebuah sungai di lereng perbukitan yang cukup curam. Memang sebagai sebuah ibukota kabupaten, Mamasa telah mulai dilengkapi dengan fasilitas perkantoran dan prasarana umum lainnya. Namun keterbatasan lahan datar yang lebih luas telah menghambat perkembangan kota yang tidak beranjak dari tepian sungai yang semakin padat dan kurang penataan.

Mamasa10  Mamasa11

Sebagai kota pegunungan yang memiliki ketinggian lebih dari 700 m dari permukaan laut, Mamasa sebenarnya sangat cocok dikembangkan sebagai daerah wisata peristirahatan. Alam yang dingin nan sejuk juga sangat potensial untuk mengembangan beragam jenis sayuran dan buah-buahan yang dapat menunjang industri pariwisata.

Infrastruktur jalur darat yang masih sulit, akses transportasi udara yang sangat terbatas, serta keterbatasan pemerintah setempat dalam menggali dan mengembangkan potensi daerah merupakan faktor penghambat kemajuan Kabupaten Mamasa. Mamasa di mata saya masih merupakan “kota di ujung jalan buntu” dengan segala keterbatasan akses transportasi dari dan ke sana. Entah untuk lima atau sepuluh tahun ke depan.

Lor Kedhaton, 1 April 2014

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s