Melaju Menuju Mamuju


Melanjutkan kisah haru biru di Pasangkayu, pengembaraan berlanjut dengan perjalanan menuju Kota Mamuju. Mamuju merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Kota di pesisir barat Pulau Sulawesi ini kurang lebih merupakan titik pertengahan antara Makassar di Sulawesi Selatan dengan Palu di Sulawesi Tengah. Jalur transportasi menuju Mamuju dapat ditempuh melalui darat, laut maupun udara. Adapun titik awal perjalanan kami menuju Mamuju ditempuh dengan bus Trans Sulawesi dari Pasangkayu. Ada beberapa pilihan armada, diantaranya ada Damri, Pippos, dan New Liman.

Mamuju7
Setelah merapel sarapan pagi yang terlupakan dengan makan siang di warung sebelah “terminal”, kami memesan tiket bus New Liman. Bus tersebut akan transit di Pasangkayu dalam perjalanan dari Palu menuju Makassar. Tiket dari Pasangkayu ke Mamuju seharga Rp. 100.000,- untuk bus AC kelas bisnis yang tersedia. Untuk perjalanan darat sejauh kurang lebih 300 km yang akan ditempuh dalam waktu 6-8 jam, harga tiket tersebut tentu saja lumayan murah. Di samping mengingat medan jalanan dengan kondisi jalanan Trans Sulawesi yang tidak selamanya mulus dan lebar, serta suasana kanan-kiri jalan yang sebagian besar diantaranya merupakan hutan belantara, tentu saja kami tidak dapat menuntut fasilitas bus yang terlampau lengkap dan nyaman. Sudah ada bus saja termasuk sebuah keberuntungan di negeri terpencil Sulbar.
Setelah memberikan kepada para penumpang dari Palu untuk menikmati makan siang di warung yang sekaligus difungsikan sebagai agen bus, New Liman yang kami tumpangi bertolak dari Pasangkayu sekitar pukul 14.15 pada siang yang cukup terik tersebut. Sebagaimana umumnya angkutan di daerah pedalaman, di samping penumpang manusia, tentu saja muatan bus didominasi juga dengan barang bawaan yang menggunung. Bahkan bagasi samping kiri-kanan bus telah diisi penuh dengan belasan karung bagor berisi durian. Pasangkayu dan daerah Mamuju Utara pada umumnya memang dikenal sebagai sentra produksi durian lokal yang sudah terkenal hingga ke Makassar.
Mamuju8Di samping menjadi moda angkutan manusia dan barang bawaannya, saran bus antar kota antar provinsi di daerah terpencil juga berfungsi melayani jasa ekspedisi pengiriman barang, mulai dari surat, kiriman paket, hingga barang berukuran lumayan besar. Bahkan sebuah pemandangan langka sempat saya saksikan tatkala ada sebuah bus melintas dengan membawa sebuah lemari mewah yang digantungkan dengan tali di bagian sisi belakang sebuah bus.
Selama perjalanan antara Pasangkayu menuju Mamuju, pemandangan kiri-kanan jalan didominasi dengan hamparan perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit memang merupakan andalan PAD Kabupaten Mamuju Utara. Keberadaan perkebunan kelapa sawit memang secara sengaja telah menggusur lebatnya rimba raya hutan Sulawesi. Pohon besar nan tinggi menjulang, telah ditebang dan digantikan dengan rumpun pohon kelapa sawit yang ditanam baik oleh pengusaha besar pemegang hak guna lahan ataupun para petani plasma yang menginduk kepada perusahaan tertentu. Sebuah kebijakan yang sangat ironis terhadap upaya pelestarian hutan dan lingkungan hidup kita secara lebih luas.

Mamuju2  Mamuju3

Di sela-sela rerimbunan jutaan hektar tanaman kelapa sawit, terselip satu-dua kampung dan permukiman penduduk. Kebanyakan diantaranya berdiam diri pada bangunan rumah yang masih mempertahankan ciri khas dan adat budaya suku Mandar sebagai suku asli masyarakat di Sulawesi Barat. Rumah-rumah mereka memang nampak sederhana, tetapi secara kuat mampu memancarkan daya keanggunan serta kebersahajaan yang semakin sulit dijumpai dalam masyarakat yang telah tercerabut dari akar adat istiadatnya. Hanya saja himpitan hamparan perkebunan kelapa sawit seolah justru menampakkan ironi bisu potret kemiskinan yang seolah terpelihara abadi di tengah pongah para pengusaha yang semakin kaya. Di tengah kebersahajaan yang terpancar, sekaligus terungkap pula nuansa kemiskinan dan keterbelakangan. Sebuah ironi hidup yang lain lagi.

Mamuju6  Mamuju5

Jalanan Trans Sulawesi koridor barat yang melalui Sulawsi Barat menempati dataran rendah di garis pantai barat Pulau Sulawesi. Dengan demikian hamparan kelebatan perkebunan kelapa sawit juga sering diselingi dengan hamparan tanah berawa, hutan mangrove dan tepian pantai. Pemandangan inilah yang menimbulkan sensai penuh keindahan tersendiri yang sangat khas di bumi Mamuju. Tuhan seolah memang sedang memperjalankan hamba-Nya untuk berkesempatan melihat, memahami dan mungkin memetik hikmah pada salah satu hamparan bumi ciptaan-Nya ini.
Antara wilayah Mamuju Utara dengan kota Pasangkayunya dengan Kota Mamuju sebagai ibukota Kabupaten Mamuju sekaligus sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Barat sebenarnya telah dimekarkan pula Kabupaten Mamuju Tengah. Kabupaten yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Mamateng ini beribu kota di Topoyo.

Mamuju1Setelah menempuh perjalanan darat lebih dari delapan jam dan transit di beberapa check point, akhirnya pada sekitar pukul 22.00 bus New Liman yang membawa kami mulai memasuki batas Kota Mamuju. Nampak jalanan yang sedikit lebih lebar dengan lapisan aspal yang lebih mulus menyambut kedatangan kami di ibukota Sulawesi Barat tersebut. Dengan menuruni perbukitan, nampaklah Kota Mamuju terhampar pada sebuah dataran di pesisir pantai yang berhapan langsung dengan Selat Makassar. Inilah kota Mamuju, kota pusat pemerintahan yang diharapkan mampu mewujudkan janji dan impian masyarakat Sulawesi Barat menuju taraf kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera, maju dan berkeadilan. Meskipun bukan penduduk Sulawesi Barat, tetapi saya sudah pasti akan senantiasa turut mendukung setiap kebijakan dan program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, termasuk di Sulawesi Barat. Maju untuk Mamuju dan maju pula bangsaku, Indonesia Jaya!

Ngisor Blimbing, 30 Maret 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Melaju Menuju Mamuju

  1. Evi berkata:

    Serasa ikut naik Limas menuju Mamuju. Yah perkebunan kelapa sawit telah membuat hutan2 pada bopeng ya Mas

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Bus Liman mbak….memang sampai ngeluk tulang punggung je!
      tetapi ternyata jalur itu belum seberapa dibandingkan jalur menuju Mamasa….

      Suka

  2. Ping balik: Mamasa, Kota di Ujung Jalan Buntu | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s