Haru Biru di Pasangkayu


Pasang kayu! Kita tentu saja pernah mendengar kata-kata tersebut. Pasang kayu memang berhubungan dengan aktivitas pasang memasang kayu. Aktivitas ini sangat berkaitan dengan profesi para tukang kayu. Tetapi kali ini yang saya maksudkan dengan pasang kayu, bukanlah suatu aktivitas manusia. Pasangkayu yang akan saya bahas merupakan sebuah nama kota di pesisir barat Pulau Sulawesi. Ada memangnya kota Pasangkayu?

Pasangkayu1  Pasangkayu2

Pasangkayu memang masih merupakan sebuah kota yang sedang mekar. Meskipun sudah berpuluh tahun masyarakat sekitar telah mengenal daerah bernama Pasangkayu, namun Pasangkayu sebagai sebuah kota secara resmi hadir bersamaan dengan berdirinya Kabupaten Mamuju Utara beberapa tahun yang lalu. Pasangkayu dipilih menjadi ibukota atau pusat pemerintahan salah satu kabupaten baru yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Mamuju di Provinsi Sulawesi Barat. Jadi Pasangkayu sebagai sebuah kota, memang masih relatif sangat baru.
Meskipun pada awalnya Pasangkayu merupakan daerah yang masih sangat terpencil, namun kota kecamatan tersebut secara strategis berada di jalur lalu lintas Trans Sulawesi yang dikenal juga sebagai Poros Sulawesi. Pasangkayu terletak sekitar 300 km dari pusat pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat di Kota Mamuju. Sedangkan jika dijangkau dari Palu di Sulawesi Tengah, Pasangkayu berjarak kurang lebih 150 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama 3 hingga 4 jam.
Pasangkayu4Meskipun menyandang sebagai sebuah kota yang menjadi pusat pemerintahan sebuah kabupaten, sampeyan semua jangan membayangkan Pasangkayu memiliki fasilitas sebagaimana kota-kota maju di Pulau Jawa. Sekedar deretan toko dan kios-kios partikelir yang diusahakan penduduk tentu saja ada. Pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi juga ada. Tetapi di Pasangkayu kita belum bisa menjumpai sarana jalan aspal yang mulus dan ramai dengan lalu lalang kendaraan ataupun sarana transportasi umum. Di Pasangkayu juga masih sangat sulit ditemukan sarana kesehatan dan pendidikan. Intinya, Pasangkayu hingga di hari ini masih merupakan kota yang serba minus fasilitas umum.
Sebagai gambaran keterbatasan fasilitas umum berkaitan dengan akses transportasi menuju Pasangkayu juga masih sangat-sangat terbatas. Sebagai salah satu kota yang dilintasi jalur Trans Sulawesi koridor barat, sudah tentu Pasangkayu dilewati bus antar kota antar provinsi yang menghubungkan Makassar hingga Manado. Ada armada Damri dan New Liman yang menjadi armada andalan Trans Sulawesi. Di samping itu ada juga bus Pippos yang melayani jalur Makassar – Palu. Hanya saja masih sangat disayangkan pelayanan beberapa armada tersebut masih sangat terbatas hingga dalam sehari-semalam hanya dua bus melintas untuk masing-masing tujuan arah utara dan selatan.

Dengan masih sepinya trayek angkutan lintas kota yang melewati Pasangkayu, maka keberadaan sebuah terminal pendukung transportasi juga masih menjadi sangat minimalis. Sebuah agen bus di samping Dinas Perhubungan Kabupaten Mamuju Utara yang menjadi pangkalan atau rest area bus-bus yang melintas, dikenal secara luas sebagai “terminal”. Tentu saja di terminal ini tidak akan dijumpai loket-loket penjualan tiket, petugas retribusi, tukang parkir, ataupun para calo penumpang. Juga tidak ada para pengamen, pedagang asongan, semua masih serba sepi dan bisu.
Pasangkayu5Satu-satunya agen yang ada juga merangkap sebagai warung makan yang melayani para penumpang saat bus beristirahat sejenak dalam perjalanan yang panjang. Itupun dengan menu pilihan yang sangat sederhana dan terbatas. Sekedar rokok, minuman botol dan camilan bekal perjalanan penumpang dapat dipenuhi di warung tersebut.
Beda angkutan antar kota, angkutan di dalam Kota Pasangkayu justru lebih memprihatinkan. Satu-satunya sarana transportasi umum yang ada hanyalah becak motor alias bentor. Namun bentor hanya memiliki jangkauan yang sangat terbatas di bagian wilayah kota yang datar. Jika sudah mengarah wilayah bergunung dengan jalanan menanjak, bentor hanya bisa menyerah pasrah. Bentor pada umumnya menjadi langganan para ibu-ibu yang pulang dari berbelanja di pasar induk Pasangkayu.
Ojek? Akh, bercanda kali ya? Di Pasangkayu tidak ada ojek. Untuk keperluan bepergian sehari-hari, penduduk Pasangkayu pada umumnya telah memiliki sepeda motor. Dengan kendaraan inilah masyarakat setempat bepergian. Konon ada beberapa tukang ojek tentative yang sering mangkal di depan pasar kota, tetapi kesiapsiagaan mereka sama sekali tidak dapat dipastikan jika sewaktu-waktu seseorang ingin menggunakan jasa ojeknya.
Dengan kondisi sarana dan prasarana angkutan umum yang sangat terbatas plus jangkauan medan yang berat, Pasangkayu bisa menjadi wilayah neraka yang menyengsarakan pendatang yang berani nekad datang ke Pasangkayu tanpa membawa kendaraan sendiri. Pengalaman pribadi pada saat saya dan seorang rekan ingin menuju rumah sakit setempat untuk sebuah urusan, betapa ribet dan susahnya menemukan sarana angkutan yang bisa mengantar kami ke tujuan. Bentor tidak berani mendaki bukit dimana rumah sakit tersebut berada. Tetapi ojek juga tidak jelas keberadaannya.

Pasangkayu6
Dalam situasi terik matahari di pagi hari, kami berspekulasi berjalan menuju arah pasar. Namun demikian, informasi jarak menuju pasar yang tidak jelas semakin menciutkan nyali kami. Tatkala melewati sebuah toko baju, kebetulan di samping toko sedang sibuk dua orang anak muda bertukang batu, menata satu per satu bata merah menjadi sebuah dinding pembatas. Kebetulan pula di teras depan toko tersebut terparkir sebuah sepeda motor bebek matic warna merah. Dengan menahan rasa malu, kami memberanikan diri bertanya mengenai kemungkinan motor tersebut dapat ngojek untuk kami atau mungkin kami dapat meminjamnya.
Mungkin terdorong oleh rasa kasihan kepada kami, akhirnya ibu pemilik toko tersebut meminta para tukang batu yang sedang mengerjakan dinding rumahnya mengantarkan kami menuju rumah sakit satu-satu di Mamuju Utara tersebut. Dengan meminjam lagi sebuah motor entah dari tetangga yang mana, akhirnya kami diantar menuju tempat tujuan kami pagi itu. Terima kasih buat ibu dan para tukang batunya.
Ndilalah, saking ruwetnya berpikir mencari sarana transportasi, pagi hingga siang hari itu kami terlupa sarapan pagi. Akhirnya barulah pada beberapa jam setelah urusan kami di rumah sakit selesai, kami baru ingat bahwa perut kami tidak bisa lagi menahan rasa lapar. Pasangkayu menjadi saksi bisu haru birunya petualangan kami dalam dua hari masa tugas kami di sebuah kota kabupaten tersepi yang pernah kami temui selama ini.

Ngisor Blimbing, 28 Maret 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Haru Biru di Pasangkayu

  1. Ping balik: Mamasa, Kota di Ujung Jalan Buntu | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s