Blogger Bicara Lingkungan


Bicara lingkungan hidup di skeitar kita, siapa yang tidak paham bahwa saat ini lingkungan hidup tersebut dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Air tercemar, udara tercemar, tanahpun tidak bebas dari  bahan pencemar. Sampah menumpuk dan berserak di sembarang tempat. Air comberan rumah tangga tercecer kemana-mana. Rusaknya lingkungan hidup sudah pasti akan berbuntut dengan berbagai bencana, mulai dari banjir, kekeringan, termasuk pemanasan global yang berdampak masif dan sangat cepat.

Usaha manusia untuk melestarikan alam sebenarnya sudah menjadi pengetahuan semua orang. Tidak boleh membuang sampah sembarangan. Buanglah sampah pada tempatnya. Berhematlah menggunakan air. Matikan tivi saat tidak ditonton. Matikan lampu yang tidak perlu. Semua uangkapan di muka merupakan beberapa hal yang telah kita ketahui sehari-hari. Namun demikian, seberapa banyak manusia yang berusaha konsisten atau istiqomah untuk terus melakukannya?

Lebih dari sekedar suatu pengetahuan bersama, pemeliharaan lingkungan hidup juga telah diatur dalam berbagai produk peraturan perundang-undangan. Perangkat undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri/lembaga, peraturan gubernur, bupati/walikota, peraturan daerah, bahkan peraturan desa, tidak sedikit yang telah memberikan landasan hukum bagi upaya-upaya pelestarian alam. Berbagai motto hidup yang menggugah kita untuk terus peduli terhadap lingkunganpun sudah menjadi santapan sehari-hari. Ada kebersihan pangkal kesehatan. Kebersihan sebagian dari iman. Termasuk ungkapan go green, pro lingkungan hidup, peduli alam dan lain sebagainya.

Pentingnya isu lingkungan hidup, bahkan telah melahirkan kelompok atau rumpun keilmuan yang secara khusus dan mendalam mempelajari setiap hal mengenai lingkungan hidup. Ekologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari ekosistem alam. Dari sinilah kemudian muncul berbagai jurusan dan program studi mengenai lingkungan hidup. Ada ilmu biologi, ekologi hingga  teknik lingkungan. Bahkan sudah banyak sekolah tinggi ataupun institut yang secara khusus menspesialisasikan diri dalam ilmu lingkungan. Selanjutnya malah dibentuk satu kementerian khusus yang memiliki tugas pokok dan fungsi utama di bidang pelestarian lingkungan hidup.

Namun demikian, adanya pengetahuan yang telah maju, perangkat peraturan perundang-undangan yang lengkap, pepatah dan petuah yang berlimpah, disiplin ilmu yang mendalam tidak secara serta-merta membuat kita semua memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian alam yang selanjutnya mampu menjadi energi pendorong untuk melakukan sesuatu hal secara konkrit dan nyata. Semua seolah terhenti di otak, tetapi tidak mengakar di sanubari hati manusia.

Beberapa hal penting tersebut sempat mengemukan pada saat Nugie, penyanyi sekaligus aktivis peduli lingkungan berbicara di depan barisan blogger dalam pagelaran “BLOGGER BICARA LINGKUNGAN”. Acara tersebut terselenggara pada Ahad, 16 Maret 2014, di Kafe Demang yang terletak di area pusat perbelanjaan Sarinah, Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat. Selain Nugie, hadir sebagai panelis pada acara diskusi yang dipandu Karel Anderson tersebut diantaranya Melanie Subono dan Hafina. Acara terselenggara atas inisiasi komunitas Blog Detik dengan dukungan penuh dari WWF Indonesia dan Kafe Demang.

Hampir senada, Hafina dan Melannie juga menekankan pentingnya memiliki kesadaran yang tinggi mengenai kelestarian lingkungan hidup. Kesadaran tersebut harus diikuti dengan tindakan nyata. Sekecil dan sesederhana apapun, setiap diri kita harus memulai dan melakukannya secara terus-menerus. Misalnya dalam hal membuang sampah pada tempatnya, memilah dan mengelompokkan sampah, juga menekan penggunaan kantong plastik. Mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini juga.

Bagi Melannie, sebelum diri kita mendisiplinkan diri untuk hidup yang berpihak terhadap alam, adalah tidak etis jika kita pedas mengkritik, memojokkan, atau menyalahkan pihak lain terhadap kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Bahkan lebih tegas nampaknya kita tidak punya hak apapun untuk ikut-ikutan menyuarakan kesadaran keberpihakan terhadap alam.

Melengkapi penyampaian dari para panelis, beberapa sahabat blogger memberikan respon serta berbagi cerita mengenai pengalaman masing-masing yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup. Pak Dian berbagi kisah mengenai pengelolaan sampah rumah tangga di wilayah tempat tinggalnya. Sampah dikumpulkan, dipilih, dipilah dan dikelompokkan untuk didayagunakan melalui proses recycle dan reuse. Sampah organik rumah tangga sengaja ditampung dalam tabung-tabung pengolahan untuk membangkitkan gas metana. Gas metana tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak di dapur. Sementara ampas dari proses degradasi tersebut dibuat pupuk kompos.

Sementara itu Bang Komarudin dari Blogger Kabupaten Bekasi menyoroti keberpihakan pemerintah yang sangat minim dalam pembangunan yang berpihak terhadap kelestarian lingkungan hidup. Atas nama kemajuan pembangunan, program yang dilaksanakan justru lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dibandingkan sisi kepentingan ekologisnya. Jakarta dengan enam ribuan ton sampah setiap hari, justru mengapa masyarakat Bekasi di Bantargebang harus menampungnya? Juga mengenai rencana reklamasi pantai utara Jakarta yang justru akan memindahkan daerah potensi genangan banjir ke wilayah Muara Gembong, adilkah bagi rakyat kecil yang senantiasa dikorbankan dan menjadi korban? Kejadian terakhir, pada saat masyarakat di pesisir pantai Bekasi terendam banjir selama tiga puluh hari dan hal tersebut menjadikan rumah-rumah mereka rusak berat karena rentah roboh,  sama sekali tidak ada perhatian serta bantuan pemerintah untuk dana rehap! Secara berapi-api, Bang Komar tidak pernah menyalahkan pemerintah, tetapi ia berpendapat betapa bodohnya pemerintah kita!

Suasana diskusi nampak santai namun berisi. Tidak hanya terhenti di meja diskusi, kita semua berharap ada tindakan atau gerakan nyata dari para blogger untuk merintis gerakan pelestarian alam di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga. Sudah bukan masanya blogger sekedar bicara soal lingkungan. Aksi nyata, tindakan nyata, gerakan nyata akan lebih menimbulkan dampak daripada sekedar bicara ataupun menulis di blognya masing-masing. Semoga!

Ngisor Blimbing, 16 Maret 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s