Tiga Usia Manusia


Kita semua tentu saja sadar bahwa sebagai manusia kita hadir di muka bumi ini hanya dalam rentang waktu yang terbatas. Lahir merupakan titik awal kehidupan seseorang, sedangkan mati menjadi titik akhir kehidupan seseorang di dunia. Rentang waktu antara kelahiran dan kematian inilah yang kita pahami sebagai pencapaian usia atau umur hidup kita. Sebagai makhluk yang beriman kepada Tuhan dan percaya kepada adanya alam kemudian, masa hidup kita tentu akan sangat menentukan bagaimana kelak kita akan hidup kembali di alam akhirat. Apakah di sana kita akan menemukan kesenangan abadi ataukah justru di sana kita akan menjalani kesengsaraan hidup yang juga abadi.

Menyimak sang khatib yang siang tadi menyampaikan khutbahnya di masjid belakang, ada hal menarik yang beliau sampaikan berkaitan dengan usia manusia. Berdasarkan bagaiamana seseorang menjalani masa hidupnya, usia manusia dibedakannya menjadi tiga macam, yaitu usia biologis, usia sosiologis, serta usia historis. Kira-kira Sampeyan semua dapat menebak apa yang dimaksudkan dengan tiga macam usia manusia tersebut?

Usia biologis manusia merupakan rentang waktu kesatuan sel, jaringan, organ dan system organ bilogis manusia berfungsi atau hidup. Ciri utama dari masa hidup manusia adalah ketika masih terdapat perpaduan antara raga dan nyawa atau ruh. Antara manusia, tumbuhan dan binatang memiliki definisi usia biologis yang sama persis. Semua ciptaan Tuhan yang bernama makhluk hidup memiliki pengertian usia biologis yang sama. Ketika ruh terpisah dari raga, maka secara perlahan dan pasti sel-sel di dalam raga makhluk hidup juga terhenti pertumbuhannya. Titik inilah yang disebut sebagai kematian. Jadi usia biologis makhluk hidup, termasuk manusia, dibatasi oleh kematian.

Namun demikian ada banyak hal yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia memiliki akal untuk berpikir. Dengan akal dan pikirannya inilah manusia menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meninggikan derajat dan martabat hidupnya dibandingkan dengan binatang ataupun tumbuhan. Berbeda dengan binatang dan tumbuhan, manusia menciptakan budaya dan peradaban hidup yang dari masa ke masa senantiasa mengalami perkembangan serta kemajuan. Hal inilah yang selanjutnya mempengaruhi adanya pengertian usia manusia selain usia biologi, yaitu usia sosiologis dan historis.

Usia sosiologis dapat dipahami “hidupnya” seseorang diantara orang-orang lain sezamannya, meskipun secara jasadiyah atau biologis orang yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Contohnya pada saat orang tua kita meninggal dunia, anak-anak dan para cucu atau tetangga tentu saja masih akan terus mengenangkannya hingga masing-masing anak, cucu atau tetangga tersebut mengakhiri hidupnya. Kita masih terkenang bagaimana raut muka dan sosok tubuhnya. Bagaimana kebiasaan, kegemaran, atau sifat-sifat welas asih dan kasih sayangnya kepada seluruh keluarga. Bagaimana nasehat, petuah dan petunjuk orang tua yang telah meninggal akan tetap tertanam dan hidup di sanubari para anak cucunya. Hal ini tentu saja dapat diperluas kepada siapapun di luar lingkaran keluarga, kerabat dan para tetangga.

Adapun istilah usia yang ke tiga adalah usia historis. Jika seseorang yang telah meninggal namun masih dikenang atau “hidup” di sanubari orang-orang yang mengenal dan hidup sezaman dengan dikatakan memiliki usia sosiologis yang lebih panjang daripada usia biologisnya, maka usia historis melampaui segala zaman. Kenangan dan hidup seseorang yang telah meninggal tidak hanya dimiliki oleh orang-orang segenerasi atau yang pernah mengalami hidup sezaman, bisa melampaui kurun waktu yang sangat panjang, bahkan tercatat di dalam khasanah sejarah perdaban manusia. Manusia tipe seperti inilah yang bisa dikatakan memiliki usia yang sudah meng’historis’ alias memiliki usia historis.

Siapakah contoh manusia historis tersebut? Banyak tokoh dapat dikategorisasikan memiliki usia historis yang seolah abadi dalam sejarah ummat manusia, mulai dari para nabi dan rasul yang dikabarkan lewat kitab suci berbagai agama, tokoh sejarah, politik, budayawan, ilmuwan, juga para pahlawan. Mereka biasanya adalah orang-orang istimewa dan memberikan kontribusi sangat besar bagi perjalanan sejarah peradaban manusia. Sekedar menyebut beberapa nama ada Adam, Ibrahim, Musa, Daud, Isa hingga Muhammad yang dikenal khususnya oleh ummat Islam dan penganut agama samawi. Ada juga tokoh-tokoh antagonis sejarah, mulai dari Qubil, Kan’an, Namruz, Fir’aun, hingga Abu Lahab ataupun Abu Jahal. Di bumi Nusantara kita bisa menyebut nama-nama Mulawarman, Purnawarman, Ratu Shima, Airlangga, Ken Arok, Gadjah Mada, Hayam Wuruk, Raden Patah, Hadiwijaya, Senopati, Sultan Agung dan Hamengku Buwono IX sebagai para petinggi kerajaan yang senantiasa kita kenang. Ada pula deretan para pahlawan yang merintis, merebut, mempertahankan, hingga mengisi kemerdekaan republik kita.

Di samping nama-nama tersebut, manusia pemilik usia historis yang selalu dipelajari, digali dan dikenali kembali termasuk pula nama-nama ilmuwan dan para penemu teknologi. Ada Socrates, Plato, Pytagoras, Archimedes, Thomas Alva Edison, James Watt, Alexander Graham Bell, Wrigt Brothers, Albert Einstein, Sigmun Fred, bahkan Bill Gates.

Hal yang melandasi perbedaan prinsipil orang-orang biasa yang hanya memiliki usia bilogis dibandingkan orang-orang istimewa yang senantiasa hidup dan dikenang sepanjang masa adalah kontribusi ataupun pengaruh masing-masing terhadap kehidupan atau peradaban manusia. Semakin seseorang menanamkan jasa yang memiliki kemanfaatan sepanjang jaman, maka akan semakin dikenanglah sosok tersebut sebagai orang besar atau berjasa. Sebaliknya, amal perbuatan seseorang yang menimbulkan kesengsaraan, kerusakan dan kemudharatan besar terhadap peradaban dan perjalanan sejarah ummat manusia, maka diapun dikenang sepanjang masa sebagai tokoh yang dibenci. Semua sangat tergantung kepada pengaruh amal perbuatan manusia. Dengan demikian manusia sesungguhnya memiliki pilihan untuk menanamkan amal sholeh yang akan senantiasa dikenang dan hidup di sanubari setiap generasi manusia lintas jaman sehingga sampai kapanpun pahala kebajikannya akan terus mengalir, ataukah kita memilih menjadi manusia tanpa arti ataupun penjahat bagi peradaban manusia yang terus menuai dosa jariyah? Tentukan pilihan kita secara cerdas mulai saat ini. Khoirunnas anfauhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberikan kemanfaatan kepada menusia lainnya. Monggo!

 Lor Kedhaton, 14 Maret 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s