Kecil-kecil Minta Qur’an


Bayangkan! Orang tua mana yang tidak menjadi terharu manakala  anaknya yang belum mentas dari usia balita, justru sudah meminta dibelikan mushaf Al Qur’an. Bukannya merengek minta dibelikan mainan anak-anak sebagaimana umumnya anak-anak seusia dia. Ingin mobil-mobilan lah, minta hotwhels kek, ingin sepatu, tas atau mungkin sekedar es cream hingga jenis makanan luas negeri, anak saya justru ingin dibelikan kitab suci ummat Islam. Betapa sangat kelihatan tidak umumnya bukan?

Beberapa bulan terakhir, si Ponang memang sangat senang menonton serial Kera Sakti, alias Sun Go Kong. Dalam cerita serial tersebut dikisahkan perjalanan Bhiksu Tong Sam Chong yang diberi tugas mengambil kitab suci ke Negeri Bharat. Adalah Sun Go Kong, Cut Pat Kai dan Wu-Tang, masing-masing adalah murid Bhiksu Tong yang turut mengawal perjalanan suci tersebut. Di berbagai tempat persinggahan, mereka seringkali diganggu oleh berbagai macam siluman. Ada siluman laba-laba, siluman lipan, ayam, elang, gajah, macan dan lain sebagainya. Saya tidak tahu persis adakah hubungan antara kisah pengambilan kitab suci ke Bharat dengan ngebetnya si Ponang minta dibelikan kitab suci Al Qur’an tadi.

IBF1Kira-kira di umur dua tahun, si Ponang sebenarnya sudah mulai menirukan lantunan Surat Al Ikhlas. Pelan-pelan, saking ia seringkali menirukan maka lama-lama iapun hafal di luar kepala bunyi surat Qulhu tersebut. Mulai saat itu, surat-surat yang lainnyapun satu per satu dirapalnya juga. Setiap ba’da Maghrib rutinitas yang sering dilakukan si Ponang yang ngrapal surat-surat pendek tersebut. Surat Al Fatihah, An Naas, Al Falaq, Al Kautsar, Al Asr, Ayat Kursi, dan seterusnnya-seterusnya, hingga di umurnya yang ke enam ia telah menghafal kurang-lebih 20-an surat pendek.

Sebagaimana para bocah yang lain, si Ponangpun tak ketinggalan mengaji buku Iqra’. A-ba-ta-tsa-ja-kha-kho-da-dzal, dst merupakan menu keseharian ngajinya. Di samping di sekolahan, iapun turut ngaji kepada Pak Ustadz di mushola kampung kami setiap sore selepas Ashar. Ndilalahnya teman-teman ngaji di Pak Ustadz ini kebanyakan anak-anak usia di atas kelas empat esde. Maka kebanyakan diantara mereka tentu saja sudah khatam buku Iqra’ dan mulai merambah Al Qur’an. Meskipun si Ponang baru menginjak pelajaran di buku Iqra’ tingkat ke tiga, namun pencapaian teman-teman kakak kelasnya telah memacu hasratnya untuk juga segera bisa membaca Qur’an. Dari sinilah saya kira asal-usul keinginannya untuk memiliki kitab suci sendiri.

Mendengar permintaan yang di luar kebiasan tersebut, sebagai orang tuanya tentu saja saya gembira dan ingin segera mewujudkannya. Namun demikian kami hanya sanggup berjanji bahwa kami akan membelikannya nanti pada saat ada pameran buku Islam yang biasa digelar di Senayan. Semenjak beberapa tahun yang lalu, si Ponang memang hampir secara rutin kami ajak ke berbagai aneka pameran yang sering diadakan di sekitar Senayan, teruma pameran buku. Ada dua event pameran buku yang tidak pernah ketinggalan kami datangi, yaitu Islamic Book Fair dan Jakarta Book Fair.

Ada juga pada suatu sore seorang abang-abang pedagang keliling yang berjualan buku-buku, kitab yasin, kumpulan doa-doa, termasuk mushaf Al Qur’an. Pada saat melihat Qur’an yang mirip dengan milik salah seorang temannya mengaji, sebenarnya si Ponang sudah sangat ingin memilikinya. Sebuah Qur’an bersampul warna biru dengan rangkaian bunga-bunga warna-warni membingkai tepiannya. Adapun tulisan huruf Arab di bagian dalam kitab sebenarnya merupakan jenis tulisan paling sederhana dan standar. Berwarna hitam polos dengan latar kertas juga putih polos. Akan tetapi ketika ditanyakan harganya, si pedagang menyebut angka yang kurang rasional. Tidak sebanding antara uang dan barang. Maka batallah si Ponang mendapatkan Qur’an dari abang-abang tersebut.

IMG_3455Di awal bulan Maret ini kebetulan merupakan waktu digelarnya Islamic Book Fair. Ketika saya beri tahu akan adanya Islamic Book Fair di Senayan, tentu saja si Ponang girang bukan kepalang. Keinginannya untuk memiliki Al Qur’annya sendiri akan segera terwujud. Semenjak beberapa hari menjelang akhir pekan, betapa si Ponang terus memikirkan untuk segera pergi mengambil kitab suci Al Qur’annya. Akhirnya pada akhir pekan minggu lalu kami memenuhi janji kami untuk mengantarnya berkunjung ke Islamic Book Fair dengan misi utama membeli kitab suci untuk si kecil kami.

Pada saat sampai di lokasi Islamic Book Fair, betapa suasana hari itu sangat luar biasa ramainya. Ribuan anak-anak sekolahan dari berbagai sekolah negeri dan yayasan Islam seakan tumpek blek di area Istora Senayan. Dalam seminggu penuh masa pameran digelar, tentunya diiringi dengan berbagai acara lomba antar sekolah dan  beragam talk show. DI samping itu, nuansa pameran buku Islam kali ini memang nampak sekali misi untuk mengajak ummat Islam, terutama generasi mudanya untuk senantiasa bersemengat membaca. Membaca merupakan pintu ilmu pengetahuan sekaligus jendela dunia. Kejayaan peradaban ummat Islam di abad pertengahan yang pernah diraih juga tidak terlepas dari penguasaan ummat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Akh, melihat berjubelnya anak-anak dan juga orang tua yang wira-wiri mencari bahan bacaan bagi anak-anak mereka pada hari gelaran Islamic Book Fair tersebut menjadikan keyakinan ummat Islam di Indonesia akan bangkit menjadi ummat cerdas dan bertaqwa.

Kembali kepada mushaf Al Qur’an yang diimpikan si Ponang. Di banyak stand pameran tentu saja tersaji berbagai mushaf dengan beragan model, ukuran, gaya, dan tentu saja harga-harganya. Ada Qur’an yang sederhana, tulisan hitam polos, ornamen hiasan per halaman juga minimalis, dan harganya sungguh sangat murah. Ada pula jenis Qur’an yang dituliskan dalam huruf berwarna-warni yang membedakan jenis dan cara bacaan sesuai aturan tajwid. Ada juga Qur’an yang ditunjang dengan penerapan teknologi alat baca dengan ballpoint penunjuk yang bisa mengeluarkan bunyi pada setiap huruf dan kalimat yang ditunjukkannya. Untuk Qur’an jenis ini tentu saja harganya juga tidak main-main dan termasuk mahal di kantong kami. Ono rupo, tentu saja juga ono rego.

IBF3Nah setelah keliling sana-sini dari berbagai stand, tahukah tipe Qur’an seperti apa yang dipilih oleh si Ponang? Meskipun saya memberikan kebebasan penuh untuknya dalam memilih Qur’an pilihannya, namun justru yang dipilih malah sebuah mushaf paling sederhana. Bersampul dasar warna merah dengan ukiran lukisan kembang-kembang di tepiannya dan dengan huruf hitam polos di atas kertas putih sederhana, itulah mushaf yang akhirnya kami bawa pulang. Harganya termurah lagi, hanya Rp. 20.000,-. Betapa bersahajanya hati anak kami. Ia benar-benar paham isi kantong orang tuanya.

Meskipun sebuah mushaf paling sederhana yang dapat kami beli di tengah kecanggihan jenis mushaf mahal yang dipasarkan di tengah kehidupan modern saat ini,  kami tetap bersyukur seraya berdoa semoga pilihan tersebut membawa keberkahan terbukanya ilmu pengetahuan sebagai bekal anak-anak kami menjalani kehidupan dunia wal akhirat.

Ngisor Blimbing, 9 Maret 2014

Gambar Qur’an pinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s