Berjalan di Sisi Sebelah Kiri


Berjalan memang hanyalah sebuah aktivitas sederhana. Kita tentu saja biasa menggerakkan kedua kaki kita untuk berjalan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Berjalan di dalam rumah atau di lingkungan sendiri tentu saja tidak terlampau harus berpikir dan mempertimbangkan berbagai hal. Namun apakah demikian halnya jika kita berjalan di jalanan publik? Apakah ada bedanya berjalan di ranah pribadi dengan saat kita berjalan di ranah publik?

Tanpa berpikir terlampau lama dan panjang, kita pastinya bisa menjawab pertanyaan di atas dengan benar. Berjalan di dalam rumah atau di lingkungan sendiri, ya bisa saja sesuka-sukanya. Asalkan kita berjalan di lorong atau sisi ruang yang kosong tentu tidak akan menjadikan masalah bukan? Intinya jangan sampai kita berjalan dengan menabrak-nabrak benda-benda yang ada di hadapan dan sekitar tempat kita berjalan. Masuk ruangan, keluar ruangan, tentu saja kita harus melalui akses pintu yang memang diperuntukkan untuk keperluan tersebut. Jendela bukanlah akses keluar-masuk untuk manusia. Jadi akan sangat jarang jika kita berjalan memasuki atau keluar dari rumah kita dengan melompat jendela.

Beda berjalan di rumah sendiri, tentu beda pula jika kita berjalan di jalanan umum yang menjadi ranah publik. Jalan yang saya maksudnya bisa saja dimaknai lebih luas daripada sekedar berjalan kaki semata. Mengendarai sepeda, motor, hingga mobil tentu juga bisa dimasukkan ke dalam kategori berjalan atau menjalankan kendaraan di jalanan.

Sebagai sebuah sarana yang dipergunakan banyak orang, jalanan tentu saja harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan saling berbagi. Diperlukan norma atau aturan yang disepakati bersama untuk memastikan semua pengguna jalan tidak saling dirugikan. Contoh sederhana kesepakatan yang sudah kita ketahui bersama adalah berjalan di sisi sebelah kiri. Semenjak di usia anak-anak kita senantiasa diajari oleh orang tua kita untuk berjalan di sisi sebelah kiri. Bukankah demikian?

Berjalan di sisi sebelah kiri memang norma aturan di jalanan yang sangat sederhana. Namun meski bisa dibilang hanya sederhana, kesepakatan kita untuk berjalan di sisi sebelah kiri mengemban fungsi yang sangat penting. Bayangkan jika dua orang yang berjalan berlawanan arah pada sebuah gang namun masing-masing seenaknya sendiri-sendiri tanpa mau mematuhi aturan berjalan di sisi sebelah kiri, kira-kira kemungkinan apa saja yang dapat terjadi? Yang paling mungkin adalah keduanya dapat bertabrakan pada suatu titik tertentu. Meski hanya sebuah insiden kecil, sebuah peristiwa tabrakan dua orang bisa saja memicu permasalahan berantai seperti pertengkaran, perkelahian, bahkan mungkin tawuran antar kampung.

Kejadian di atas baru sebuah contoh kecil insiden tabrakan antar dua orang yang berjalan sesuka hatinya di jalanan. Bayangkan jika yang sama-sama berjalan itu sepeda, motor, mobil atau mungkin kereta api. Dari sebuah insiden tabrakan bisa jadi akan membawa korban jiwa melayang yang sia-sia. Bukankah demikian?

Jika kita pernah merenung sejenak kenapa kok kita mewarisi sebuah aturan yang sangat sederhana berkenaan pada saat kita berjalan di jalanan umum, tentu saja kita akan menemukan banyak mutiara manfaat yang sangat nyata. Kita tentu saja tidak tahu siapa dan kapan nenek moyang generasi manusia yang pertama kaki mencetuskan aturan berjalan pada salah satu sisi jalanan tersebut. Bisa jadi hal tersebut sekedar sebuah konvensi yang terlahir secara spontan dan alamiah semata. Ketika kemudian sekelompok masyarakat mengamininya, maka berkembanglah aturan sederhana tersebut menjadi sebuah nilai dan norma yang terjaga hingga di masa kini. Betapa luar biasa bukan warisan pendahulu manusia tersebut?

Khusus untuk berjalan kaki, baik di jalanan yang lebih  luas maupun di trotoar yang dikhususkan untuk para pejalan kaki, di kebanyakan negara kita sama-sama tahu memiliki kesamaan, yaitu berjalan kaki di sisi sebelah kiri. Hal demikian termasuk berlaku di negara kita. Perihal menjalankan kendaraan bermotor di jalanan, ada negara yang mengaturnya berjalan di sisi sebelah kiri, tetapi ada pula yang mengharuskan berjalan di sisi sebelah kanan. Di Indonesia, kendaraan bermotor harus berjalan di sisi sebelah kiri. Bagi kebanyakan negara di belahan barat, pada umumnya kendaraan bermotor berjalan di sisi sebelah kanan.

Kembali kepada soal berjalan kaki di sisi sebelah kiri. Di masa sekarang dimana manusia sudah sedemikian mengagungkan kebebasan individualnya, terkadang urusan kecil soal berjalan kaki di sisi sebelah kiri ini kurang mendapatkan perhatian atau bahkan diabaikan sama sekali. Tidak perlu jauh-jauh menunjuk negeri orang, di ibukota Jakarta saja sudah banyak orang yang berjalan berseliweran tanpa memperhatikan di sisi mana ia seharusnya berjalan.

Saya sendiri sering mengalami kejadian dimana pada saat berjalan di sisi sebelah kiri tiba-tiba saja sekonyong-konyong seseorang datang dari arah berlawan di jalur yang sama. Tentu saja dengan refleks saya harus segera mengerem langkah kaki saya sambil terkaget-kaget. Saya kaget, demikian pula orang yang salah jalur tersebut juga kaget. Kami sama-sama kaget! Masih beruntung jika tabrakan badan masih bisa dihindari. Apa yang akan terjadi jika tabrakan tidak terhindarkan coba? Beruntung kalau yang menabrak saya seorang gadis cantik yang kinyis-kinyis. Tentu saya tidak kuasa untuk marah dan mungkin justru menganggapnya anugerah alias rejeki nomplok. Tetapi kalau yang menabrak saya seorang bapak-bapak, gendut, bau keringat lagi, lak cilaka saya!

Meskipun kelihatannya kecil dan sepele, namun jangan pernah menyepelekan dan meremehkan soal aturan berjalan di sisi sebelah kiri ini. Ketidak taatan kita kepada aturan yang kecil dan mudah dilakukan sebenarnya sebuah cerminan betapa kita mengabaikan aturan bersama serta rendahnya disiplin di tengah masyarakat.

Soal berjalan di sisi sebelah kiri ini, saya pernah mengalami khusus di kota Osaka (mungkin ada juga di beberapa negara lain), masyarakat justru sepakat berjalan kaki di sisi sebelah kanan. Maka dimanapun kita berjalan kaki hendaklah kita taat kepada aturan atau kesepakatan masyarakat setempat. Dimana bumi kita pijak, di sana pula kita harus menjunjung tinggi langitnya. Bukankah demikian?

Ngisor Blimbing, 1 Maret 2014

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Berjalan di Sisi Sebelah Kiri

  1. Hardi Endeng berkata:

    bang berjalan di sisi berlawanan lebih aman soalnya kita bisa lebih tahu kondisi kendaraan di hadapan kita. banyak juga pejalan kaki nyawanya melayang tertabrak kendaraan karena tidak melihat kendaraan dari belakang yang mengarah ke arahnya. contohnya tabrakan di tuguh tani jakarta. bagaimana menurut abang?
    ty bang

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s