Dongeng Sebelum Tidur


Akh, bocah mana sih yang tidak akan khusuk saat mendengar sebuah dongeng yang menghanyutkan mereka ke alam fantasi. Pendongeng yang handal mendramatisasi sebuah kisah akan membawa segenap pikiran dan jiwa para bocah untuk seolah-olah secara nyata hadir, hanyut dan  menyatu dengan alur cerita yang sedang dijalani sang tokoh utama. Demikian yang saya rasakan pada saat di masa kecil dahulu biyung tuwo alias nenek saya sering mendongengkan berbagai dongengan yang sarat dengan pesan moral ataupun budi pekerti yang mendalam. Ada dongeng tentang Ande-ande Lumut, Kisah Beruk Popok, Joko Tarub, Jaka Kendil, Keong Emas, Timun Emas, bahkan legenda asal-usul nama tempat di sekitar dusun kami. Ada pula cerita mengenai perjuangan para sesepuh dan pendahulu di kampung kami melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Selain mendengar dongeng dari orang-orang terdekat, anak-anak di masa lalu juga banyak mendapatkan cerita dari para guru di sekolah. Bahkan untuk pelajaran agama, anak-anak selalu antusias mendengarkan Pak Muhsin mendongeng mengenai kisah si Kucing Anak Durhaka. Lain lagi dengan Pak Umar Fatah, beliau spesialis mengisahkan riwayat para nabi dan rasul. Ada juga guru pelajaran bahasa daerah yang banyak mendongeng kisah pewayangan, baik episode Ramayana maupun Mahabarata.

Di samping mendengar dongeng dan cerita dari penuturan langsung para pendongengnya, masa kecil saya cukup beruntung dengan kahadiran acara Sanggar Cerita di berbagai stasiun radio. Minggu pagi ataupun Minggu sore, banyak radio yang menyiarkan acara tersebut. Beragam cerita, mulai dari kisah fabel dengan tokoh-tokoh binatang, kisah pangeran dan sang puteri kerajaan, hingga dongeng seribu satu malam mengenai Abu Nawas dan Sultan Harun Ar Rasyid, hingga Lampu Aladin yang ajaib itu.

Labih dari itu, radio sebagai media informasi dan hiburan andalan keluarga di era 80-90an juga banyak menyiarkan dongeng dalam kemasan sandiwara radio. Kisah yang paling terkesan dan terkenang hingga saat ini adalah cerita pengembaraan Brama Kumbara dan Dewi Mantili dalam Saur Sepuh. Setelah itu beberapa sandiwara yang senantiasa tidak ketinggalan disimak para bocah hingga orang dewasa antara lain Babad Tanah Leluhur, Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Bende Mataram, Misteri Gunung Merapi, Puteri Cadar Biru, hingga Kaca Benggala. Bahkan ada juga beberapa serial berbahasa Jawa yang sangat terkenal, seperti Macan Kembar dan Joko Sungsang. Meskipun demikian, anak-anak di masa kecil seperti saya belum cukup beruntung dengan kelimpahan buku atau majalah dongeng sebagaimana model anak-anak jaman masa kini.

Tidak berbeda dengan masa kecil saya yang doyan dengan sajian dongeng, si Ponang kecil juga menunjukkan gejala doyan dongeng. Semenjak umur beberapa bulan, meski baru sekedar bisa melotat-melotot kami sudah mentodorinya dengan buku dongeng bergambar. Masih sangat sederhana dengan cerita singkat mengenai berbagai kisah binatang di hutan, namun dengan gerak tubuh dan coletahannya, si Kecil sudah menampakkan antusiasme yang luar biasa. Kebiasan tersebut berlanjut dengan keceriaan yang selalu tersungging di bibirnya pada saat ia kami ajak ke toko buku maupun pameran buku. Dengan penuh semangat dan kadang sampai lupa diri ia terlihat sangat menikmati membolak-balik buku, majalah anak, terutama berbagai ragaam dongengan.

Umpan pancingan semenjak usia dini tersebut ternyata berlanjut. Kini setelah sedikit-sedikit si Ponang mulai lancar membaca kalimat, ia senantiasa menodong Bapaknya untuk mengantarkannya dengan dongeng sesaat sebelum melelapkan diri dalam tidur malam panjangnya. Maka kini bertambahlah agenda kewajiban saya sehari-hari dengan ritual berdongeng sebelum tidur kepada si Ponang. Banyak dongeng yang telah kami bagi bersama. Ada dongeng mengenai kisah Petir Nagaseta, Sunan Giri, Wahyu Gagak Emprit, beberapa kisah para Nabi, Gunung Tidar, Gunung Kodok, Legenda Kali Putih, bahkan kisah keajaiban mantra manjada wa jadda si Alif di Negeri Lima Menara.

Menurut para ahli pedagogik maupun psikolog, dongeng merupakan media yang sangat penting dalam proses pengembangan kepribadian seorang anak. Selain sebagai sebuah hiburan ringan, dongeng juga bisa dijadikan media dalam membentuk karakter, jati diri, budi pekerti dan mental. Berbagai nilai luhur dapat diinternalisasi kedalam sanubari seorang bocah melalui dongeng. Kejujuran, kelembutan, persahabatan, persaudaraan, rasa welas asih, suka menolong, gotong royong, merupakan contoh sikap dan perilaku yang dapat dicontohkan dari sebuah dongengan.

Beberapa tahun silam, saya pernah sedikit bersinggungan dengan aktivitas kawan-kawan Komunitas Rumah Pelangi di kawasan Gunung Merapi yang menggelar Festival Tlatah Bocah pada liburan kenaikan kelas di pertengahan tahun. Pada waktu itu festival yang digelar mengambil tema Tutur Tinular, tuturing atur tinularing pekerti. Perhelatan saat itu sengaja mengangkat fungsi dan kegunaan budaya bertutur dalam dongengan untuk membentuk budi pekerti yang luhur di lubuk sanubari para bocah-bocah pemilik masa depan.

Dalam kesempatan lain, saya juga pernah bertemu dengan seorang aktivis pendongeng anak yang tergabung di Komunitas Takita, cerita kita. Takita merupakan salah satu komunitas yang konsen terhadap gerakan dongeng sebelum tidur. Anak-anak bagaikan kain kanfas yang masih putih, suci nan bersih. Dengan berbagai arus tantangan jaman yang semakin meminggirkan nilai, moralitas dan budi pekerti saat ini, anak-anak seringkali terampas hak-hak asasinya untuk mendapatkan peluang maupun lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya mentalitas serta kejiwaannya secara baik, benar, dan terarah menuju masa depannya yang bahagia lahir batin. Dongeng merupakan salah satu media dalam menanamkan budi pekerti luhur dan sesungguhnya menjadi hak yang harus dipenuhi oleh setiap orang tua maupun orang dewasa di lingkungan keluarga masing-masing.

Mengingat betapa sangat strategis peranan dan fungsi dongeng bagi perkembangan jiwa dan batin anak-anak kita, alangkah bijak apabila para orang tua kembali bisa meluangkan waktu untuk mentradisikan kembali dongeng kepada anak-anaknya. Lima belas menit, sepuluh menit sebelum si Kecil terlelap dalam tidur indahnya pasti akan sangat berarti jika kita sedikit mau berbagi dongeng dengan mereka. Tentu pilihan waktu tidak harus menjelang si Kecil tidur, bisa kapanpun yang sesuai dan lebih kondusif. Namun intinya adalah kita harus kembali berdongeng dan mendongeng. Anda sepakat dengan saya? Monggo!

Ngisor Blimbing, 22 Fabruari 2014

Gambar dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dongeng Sebelum Tidur

  1. Ping balik: Deklarasi Forum Dongeng Nasional | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s