Welud bin Kelud


Tidak hanya sekedar beritanya yang tersebar hingga ke wilayah barat Pulau Jawa, abu vulkanik akibat letusan Gunung Kelud juga mencapai daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Meskipun awal  letusan dahsyat sudah terjadi semenjak Kamis Malam sekitar pukul 22.00, namun Bapake si Kenyung baru mendengar kabar terjadinya peristiwa tersebut pada saat pagi harinya melalui sebuah stasiun televisi nasional. Tentu saja hal tersebut langsung menggugah memori peristiwa letusan gunung Merapi lebih dari tiga tahun yang lalu.

Tatkala sore hari selepas pulang kerja, Bapake si Kenyung langsung mendapatkan laporan pandangan mata dari si Kenyung. Hampir seharian selepas pulang sekolah, si Kenyung terus mantengi siaran tivi yang banyak memberitakan peristiwa letusan gunung Kelud. Dengan super lugu, si Kenyung membuka pembicaraan, “Pak, Gunung Welud meletus lho Pak!”

Tentu saja si Bapake pada awalnya sempat bengong penuh tanda tanya, “Gunung Welud?…..apa Le?” Namun wawasan kebapakannya segera menuntun insting dan mengkaitkan pernyataan si Kenyung dengan peristiwa gunung Kelud. Iapun segera memaklumi ucapan anaknya yang tentu belum paham beda antara welud dan kelud. Namun jika dipikir-pikir memang sungguh lucu kedengarannya. Welud versus Kelud! Hanya soal perbedaan satu huruf to?

Welud dibahasa-indonesiakan menjadi belut. Belut merupakan binatang yang hidup pada habitat lumpur. Permukaan tubuhnya yang dilapisi semacam lendir, membuatnya memiliki permukaan kulit yang sangat licin. Kelicinan inilah yang membuat belut cukup sulit untuk ditangkap. Sifat inipun kemudian dipinjam untuk menjuluki manusia yang memiliki sikap licik dan sukar diungkap terang-terangan sikap, ucapan maupun tindakannya.

Lain welud, tentu saja lain pula dengan kata kelud. Meskipun memiliki pengucapan dan penulisan haruf yang mirip, tetapi kedua kata tersebut memiliki arti yang tidak terkait satu sama lain. Jika welud adalah nama binatang, maka kelud merupakan benda sebagai alat bantu manusia yang dipergunakan untuk membersihkan kotoran, seperti debu pada permukaan benda di dalam rumah kita. Kelud dipersamakan dengan sulak, moceng ataupun kemoceng. Peralatan yang baru dikeludi biasanya nampak bersih, mengkilat bin kinclong.

Apakah kelud dalam nama gunung Kelud juga memiliki fungsi alat bebersih? Bisa ya, bisa juga tidak demikian. Akan tetapi jika kata kelud tersebut dihubungkan dengan kata kediri dimana salah satu sisi gunung Kelud berada di Kabupaten Kediri, maka beberapa benang merah dapat ditarik dari peristiwa letusan gunung Kelud kali ini. Kediri, ke-diri, ke dalam diri. Ke-diri bisa diartikan melihat kepada kedalaman diri sendiri. Ke-diri berarti berkaca diri, bercermin diri, introspeksi ke dalam diri sendiri, dan berefleksi diri. Dengan demikian, dari proses ke-diri ini, manusia akan lebih mengerti dan paham siapa dirinya masing-masing. Demikian halnya, apakah hidupnya selama ini telah menebarkan banyak manfaat ke alam dan lingkungan sekitarnya. Ataukah sebaliknya? Perjalanan hidup manusia dipenuhi dengan pekerti nista, keculasan, ketamakan, keserakahan, dan sekian banyak perbuatan dosa.

Gabungan antara kelud dan kediri bisa dimaknai sebagai sebuah proses manusia untuk melihat kembali ke dalam dirinya sendiri (ke-diri) yang dibarengi atau dilanjutkan dengan upaya untuk bebersih agar manusia juga berbenah diri. Jikapun dibalik, manusia harus membersihkan diri, jiwa-raga serta hati nuraninya untuk bisa kembali kepada ke-diri-an manusia yang sejati.

Sebagai sebuah peristiwa alam yang maha dahsyat, seperti halnya peristiwa letusa gunung Merapi  ataupun gunung Sinabung yang baru beberapa waktu berlalu, letusan gunung Kelud juga merupakan peristiwa yang sangat mengguncang bagi masyarakat sekitar yang terkena dampak langsung dari tebaran abu, pasir ataupun bebatuan yang disemburkan dari mulut gunung Kelud. Sejumlah lebih dari 60.000 jiwa terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk mencari perlindungan di beberapa lokasi penampungan pengungsi.

Pengungsi memang merupakan sebuah permasalahan yang tidak sederhana untuk ditangani. Bayangkan saja! Dalam tempo yang serba singkat puluhan ribu manusia bergerak menjauhi titik puncak gunung Kelud. Betapa jalanan kampung yang senantiasa sunyi dan lengang tiba-tiba saja menjadi hiruk-pikuk, salang-tunjang, semrawut dan macet oleh manusia yang berjubel ingin menjauhi bahaya yang bisa membawa maut. Manusia lari tunggang langgang menyelamatkan nyawanya masing-masing. Rumah, sawah, kekayaan harta-benda seolah menjadi tidak memiliki ari sama sekali dibandingkan dengan keselamatan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, betapa manusia sesungguhnya sangat kecil dibandingkan dengan kekuatan alam, kekuatan supra alam yang mengharuskan manusia merasa sangat lemah dan tiada berdaya di genggaman kekuatan Sang Maha Kuat.

Kemudian, setelah saudara-saudara kita yang tengah dicoba tersebut menghuni lokasi pengungsian, segala hal menjadi serba kekurangan. Makanan kurang, ruang tidur kurang, pakaian kurang, sarana dan prasarana apalagi. Semua serba dalam keterbatasan. Manusia harus mau dan mampu untuk saling berbagi dengan sesamanya.

Sudah pasti peranan pemerintah juga sangat menentukan. Sebagai penyelenggara kepentingan umum, pemerintah harus bertindak cepat dalam merespon sebuah kondisi kedaruratan yang ditimbulkan oleh bencana alam. Bapake si Kenyung jadi teringat kata-kata Budayawan Ainun Nadjib yang beberapa bulan lalu pernah melemparkan sebuah pertanyaan penting, “Jika negara memiliki anggaran, lebih penting mana anggaran tersebut dipergunakan untuk menyelenggarakan pesta ataukah diutamakan untuk mengevakuasi rakyat?”

Andaikan pertanyaan tersebut dikaitkan dengan berbagai bencana alam yang membutuhkan dana sangat luar biasa besarnya untuk melakukan evakuasi, penanganan pengungsi dan tindakan rehabilitasi dengan dana yang dianggarkan untuk pesta demokrasi tahun ini, manakah kira-kira yang menjadi prioritas negara? Pemilu sebagai pesta demokrasi benarkah ditujukan untuk kepentingan rakyat? Bukankah yang sering terjadi pemilu hanya menjadi alat perebutan kursi kekuasaan diantara para elit partai politik yang selanjutnya tidak lebih hanya mementingkan partai dan golongannya masing-masing.

Dalam suasana demikian, manusia sejatinya memang tengah diuji derajat kesabarannya. Apakah manusia hanya akan menyalahkan alam dan menganggapnya sebagai sebuah bencana alam yang merugikan semata? Ataukah manusia mau mengendapkan hati dan nuraninya untuk mengambil sebesar-besarnya hikmah bagi proses untuk melakukan perbaikan diri dan menjadi sosok pribadi yang lebih baik pasca bencana nantinya? Jadi pesta atau evakuasi?

Ngisor Blimbing, 16 Fabruari 2014

Gambar diambil dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s