Tipu-tipu Kursi Bambu


Secara estetika keindahan fisik, saya pribadi termasuk pengagum jenis bambu wulung. Orang Jawa sering menyebutnya pring wulung. Di samping bambu wulung, tentu sayapun mengenal jenis bambu lain, seperti bambu petung, apus, ampel, gading, legi termasuk ori yang sedikit berduri. Raut permukaan pring wulung yang hitam legam tentu sangat khusus dan berbeda dengan jenis bambu yang lainnya. Tekstur indah kombinasi antara warna kulit hitam pada permukaan luar dengan putihnya daging batang di bawah permukaannya memungkinkan jenis bambu ini dibuat untuk berbagai kerajinan hiasan yang bertekstur indah berupa ukiran. Pernah menjumpai struktur candi Borobudur yang digoreskan di atas bambu wulung? Sangat indah bukan?

Di samping untuk karya kerajinan yang berjenis hiasan, bambu wulung juga dapat dibuat aneka ragam perabotan rumah tangga, seperti meja-kursi, tirai atau keré, anyaman gedheg atau dinding bambu, bahkan hingga untuk konstruksi tiang dan kuda-kuda bangunan rumah. Bambu yang banyak hadir di bumi Nusantara memang menyimpan kegunaan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-sehari. Nah pada kesempatan ini saya ingin bercerita sesuatu hal yang berhubungan dengan kursi bambu wulung. Penasaran dengan judul Tipu-tipu Kursi Bambu?

Begini kisahnya para Sedulur semua. Berlatar kekaguman saya terhadap keindahan bambu wulung sebagaimana telah saya uraikan di atas, saya dan istri sepaham untuk pada suatu saat ingin mengisi sekedar sudut teras rumah kami yang sempit dengan seperangkat kursi bambu wulung lengkap dengan mejanya. Di samping kesan indah dari warna hitam yang akan semakin mengkilap dengan paduan lapisan plitur ataupun pernis, meja-kursi bambu wulung juga memberikan kesan sebuah kesederhaan namun penuh daya elegan. Kesederhaan inilah sebuah sikap, pandangan, dan perilaku yang ingin kami amalkan dan kami tanamkan kepada anak-anak dalam keseharian keluarga kami.

Di samping alasan tersebut, tidak jarang kami menjumpai seorang bapak-bapak setengah baya yang di tengah terik sinar matahari terseok-seok memanggul seperangkat produk meja-kursi bambu wulung. Setengah mati ia berkeliling dari lorong suatu gang ke gang yang lain, dari sudut sebuah kampung ke kampung lain, hingga mungkin sangat jauh jarak tempuh yang dibawa oleh sepasang kakinya yang semakin renta, namun sangat jarang orang berminat dengan dagangannya. Meski tentu saja tidak dapat memborong semua dagangan yang berat tersebut, tentu saja hati nurani sayapun sering tersentuh dan merasakan kasihan terhadap penjualnya. Bagaimana ia berikhtiar dengan menanggung kelelahan fisik yang sangat luar biasa, namun seringkali rejeki yang didapatnya tidak sebanding dengan jerih payah yang dilakukannya. Tetapi selalu ada sesuatu hal yang sebenarnya saya kagumi dari para pemanggul kursi bambu wulung itu. Soal semangat, keuletan, ketabahan, kepasrahan, kesabaran, hingga cahaya keberkahan di raut muka mereka,  sering saya perhatikan dari mereka.

 Ada juga sisi ingin turut, meskipun sekedar sekali saja, menggerakkan roda usaha sektor kecil-kecilan yang semakin tergusur oleh persaingan ketat dengan mebel-mebel bercorak modern. Maka semakin kuatlah tekad kami sekeluarga untuk memiliki seperangkat meja-kursi bambu wulung yang kami dedikasikan untuk menambah kesahajaan gubug kami di Ngisor Blimbing.

Namun memang terkadang Tuhan tidak selalu menggariskan setiap niat, itikad dan keinginan kita terkabul dengan serta-merta. Semenjak tercetus keinginan untuk memiliki meja-kursi bambu wulung, justru kami malah sangat jarang menemukan penjaja yang dulu serasa seringkali hadir di depan gang rumah kami. Mereka serasa hilang ditelan jaman. Raib entah masuk ke dalam belahan bumi yang sebelah mana, hingga sangat sulit ditemukan sosok penampakannya. Bahkan sebuah pangkalan pengrajin bambu wulung yang dulu sempat hadir di pinggiran jalanan tidak jauh dari tempat tinggal kamipun kini sudah permisi entah kemana.

Pernah pada suatu ketika, saya sengaja berjalan menyusuri ruas jalanan dimana di tepiannya banyak penjual bambu-bambu batangan namun perajin perabot bambu wulung yang saya maksudkan tidak jua ditemukan. Ketika bertanya-tanya kepada beberapa penjaja bambu batangan, apakah mereka menerima pemesanan untuk membuatkan seperangkat meja-kursi bambu wulung. Tetapi betapa kami harus kecewa karena mereka tidak membuat kerajinan dari bambu. Mereka memang hanya melayani penjualan bambu batangan yang sering diperlukan orang untuk membangun rumah ataupun keperluan lainnya. Ketika saya juga menanyakan apakah ada diantara mereka yang kenal atau tahu, atau memiliki saudara atau kenalan yang mengerjakan kerajinan bambu wulung, merekapun menggelengkan kepala.

Ahhhh…..kami  memang belum menjumpai momentum ruang dan waktu yang tepat. Demikian pikir kami. Hingga pada suatu saat, Tuhan menakdirkan istri saya berpapasan dengan bapak tua setengah baya yang tengah bersusah payah memanggul kursi panjang dan dipan yang terbuat dari bambu. Dengan serta merta, istri saya menanyakan perihal meja-kursi bambu wulung. Ternyata si Bapak tersebut memang menjajakan produk kerajinan bambu wulung, termasuk mebel meja-kursi. Pucuk dicinta ulampun tiba.

Lewat si Bapak itupun kemudian istri saya memesan seperangkat meja-kursi bambu wulung. Karena kesederhaan Bapak tersebut, ia justru meminta nomor handphone kepada istri saya karena ia sama sekali tidak memiliki alat kemunikasi yang sudah serasa mainan setiap anak di jaman sekarang ini. Dengan modal trust, kepercayaan total kepada si Bapak tersebut, istri saya memesan meja-kursi bambu wulung. Beberapa hari berselang, muncul pesan sms bahwa ada persediaan seperangkat meja-kursi bambu wulung. Kamipun memastikan kembali pesanan kami dan sekaligus menyepakati harga. Akhirnya seminggu berselang, pesanan meja-kursi bambu wulung itupun hadir di teras rumah Ngisor Blimbing.

Meskipun sedikit meleset dari perkiraan kami yang membayangkan ukuran maupun desain dari meja-kursi bambu wulung yang juga banyak dibuat di kampung halaman kami, namun kami terima dan memaklumi keterbatasan tersebut. Dua buah kursi tunggal dan sebuah kursi panjang dilengkapi dengan meja mungil dengan dominasi warna hitam mengkilap. Pikir kami, hanya sekedar meja-kursi iseng-iseng.

Hari berganti hari, hingga waktu semingguan berselang. Ada sedikit yang agak aneh dengan perangkat meja-kursi bambu wulung kami. Pada awalnya saya sendiri tidak menyadari keanehan tersebut. Namun lama semakin lama, keanehan itu semakin nampak dengan nyata dan mencolok mata. Meskipun mengkilapnya plituran yang lumayan tebal masih mengesankan permukaan bambu yang kinclong, tetapi perlahan namun pasti di beberapa ruas justru timbul warna kecoklatan dan dominasi warna hitam legamnya justru meluntur. Wuaduh…..apa yang terjadi? Ternyata amanat kepercayaan kami telah diselewengkan. Kami jelas-jelas telah ditipu!

Namun demikian, kami justru merasa kasihan dan prihatin dengan mereka, para pihak yang telah  tega menipu kami. Kenapa orang kecil sekalipun sudah harus menipu untuk sekedar meraup sedikit uang. Apakah memang negeri ini memang telah benar-benar menjadi negeri para koruptor? Koruptor kelas paus, hiu, kakap, hingga kelas teri dan petho meraja lela dimana-mana? Duh Gusti, nyuwun pangaksama sedaya kalepatan sedherek-sedherek kula!

Cisarua, 10 Februari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s