Menuai Kesalahan Berantai


Pernahkah kita membayangkan bahwa sebuah kesalahan kecil yang kita lakukan dapat menimbulkan permasalahan berantai yang merugikan banyak pihak secara berantai? Ibarat kata orang Jawa, kriwikan dadi grojokan. Saya hanya ingin berkisah sebuah pengalaman seorang teman yang belum lama menuai keapesan tersebut.

Kisahnya begini Saudara. Pada suatu ketika teman saya tersebut menginap di sebuah hotel yang terletak pada suatu kawasan pusat perbelanjaan di seputaran Kebun Raya Bogor. Sebagai seorang tamu hotel, ia mendapatkan fasilitas parkir mobil secara gratis. Prosedur yang harus dilakukan untuk bisa keluar dari pintu parkiran tanpa dipungut biaya parkir adalah dengan meminta semacam validasi atau klarifikasi dari bagian penerimaan resepsionis di loby utama. Pada saat akan check out, teman saya tersebut melakukan prosedur sebagaimana dimaksud. Dengan memegang kartu parkir yang telah dibubuhi cap oleh petugas resepsionis, teman saya tersebut kemudian mengendarai mobil dari area parkiran basement untuk keluar dari kawasan pusat perbelanjaan yang cukup luas tersebut.

Pada saat berada di gerbang pintu keluar, teman saya langsung menyodorkan kartu parkir yang telah dibubuhi cap tadi. Namun apa yang terjadi kemudian? Penjaga pintu parkir menahan mobil dengan tidak membukakan portal pintu keluar. Menurut dia, fasilitas gratis parkir mobil dari hotel harus dibubuhi cap dan tanda tangan oleh petugas hotel. Karena kartu parkir yang dipegang teman saya tersebut hanya dibubuhi cap saja, maka teman saya diminta untuk kembali ke hotel dan meminta tanda tangan kepada petugas hotel.

Teman saya menyampaikan bahwa kekurangan pembubuhan tanda tangan oleh petugas hotel bukan kesalahan pelanggan. Setelah melakukan prosedur sebagaimana mestinya sudah pasti pelanggan tidak bisa dipersalahkan. Oleh karena itu semestinya petugas parkiran tersebut berkoordinasi saja dengan pihak petugas hotel. Demikian kira-kira pembelaan teman saya.

Dengan nada meninggi, petugas parkir bersikukuh teman saya harus kembali ke hotel dan meminta tanda tangan sendiri. Jika kartu parkir dengan fasilitas gratis hanya dicap saja dan tanpa adanya tanda tangan petugas hotel, maka kartu tersebut dapat dianggap kartu manipulasi. Nah kan, persoalan semakin melebar, meluas, bahkan memanas.

Merasa terpojokkan yang secara tidak langsung menuduh teman saya melakukan tindakan manipulasi, teman saya juga tak mau kalah dan semakin ketus nada bicaranya. Petugas pintu parkir justru kemudian mengultimatum teman saya untuk kembali ke hotel guna meminta tanda tangan sendiri kepada petugas hotel, atau harus membayar uang parkir selama ia menginap beberapa hari di hotel tersebut.

Mendapatkan pilihan yang sama-sama tidak enak tersebut, teman saya tetap bersikeras petugas parkir saja yang berkoordinasi dengan petugas hotel. Karena sama bertahan dengan argumentasinya masing-masing, akhirnya stack-lah pembicaraan dan negosiasi diantara kedua belah pihak. Insiden kecil di pintu keluar area parkir tersebut membuat terjadinya antrean panjang kendaraan yang akan keluar di belakang mobil teman saya tersebut.

Akhirnya seorang bapak yang berada di antrian belakang kehabisan kesabarannya. Ia keluar dari mobilnya dan langsung berbicara kepada petugas parkiran, “Mas, Anda ini bekerja untuk pelayanan. Jangan begini caranya! Kalaupun ada permasalahan dengan salah satu pelanggan, buka dulu portal parkiran dan persilakan pelanggan ini memarkirkan mobilnya di luar area parkiran. Silakan permasalahannya dibicarakan dengan baik-baik. Jangan sampai pelayanan yang menjadi tanggung jawab Anda justru terganggu dan menimbulkan antrian pelanggan yang lain.”

Akhirnya pintu portal dibukakan untuk teman saya. Teman saya kemudian memarkirkan mobilnya tepat di sisi kiri pintu keluar di luar area parkir. Setelah mengatasi permasalahan penumpukan antrian yang disebabkan oleh insiden kecil yang belum menemukan pemecahan permasalahannya tersebut, alih-alih mengontak pihak petugas hotel, petugas pintu parkiran justru mendiamkan teman saya. Merasa di-PHP, maka teman saya tersebut langsung berbicara kepada petugas satpam yang berjaga mengatur arus lalu lintas keluar masuk kendaraan. Setelah menjelaskan beberapa hal, teman sayapun pamit meminta diri dan menganggap permasalah bisa diselesaikan secara terkoordinasi antara petugas parkir dan petugas hotel.

Teman sayapun kemudian melajukan mobilnya memasuki gerbang tol Jagorawi menuju Serpong. Nah, pada saat persimpangan antara dengan Jalan Lingkar Luar Jakarta, teman saya melihat ada sebuah spanduk di pinggiran jalan tol. Spanduk tersebut bertuliskan “Jalur alternatif menuju Serpong”. Membaca kata alternatif, teman saya tersebut justru berkomentar kalau yang jalur alternatif itu apa ya sampai di Serpong ya? Iapun mengarahkan mobilnya ke salah satu gerbang tol yang ada di hadapannya. Selepas membayar tarif tol, iapun kembali melajukan mobilnya menelusuri jalanan tol yang ramai lancar pada saat itu.

Kondisi jalanan yang cukup lancar, menjadikan teman saya melajukan kendaraan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Lama semakin lama, ia justru merasakan ada kejanggalan yang dirasakan. Kok banyak sekali truk-truk besar ya? Kok tol didominasi kendaraan berat ya? Kok plang-plang penunjuk arah menunjukkan tujuan-tujuan yang agak asing ya? Hingga akhirnya di kana dan kiri jalanan terdapat semacam kawasan dengan dominasi tumpukan-tumpukan kontainer besar-besar. Bahkan sebuah penunjuk pintu keluar di depan mata mengarahkan “Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok”. Ha? Teman saya akhirnya sadar bahwa ia tengah kesasar!

Akhirnya ia memutuskan untuk keluar pintu tol dan mencoba mencari putaran untuk kembali memasuki jalan tol menuju arah semula. Seorang teman yang lain yang kebetulan juga berada di mobil tersebut berkomentar, “Kalau wong Jowo menyatakan kamu sedang dipisuhi petugas parkiran tadi!” Sebuah karma perbuatan yang harus dibayar dengan tunai! Betapa kemudian waktu, tenaga, biaya dan perasaan harus dikorbankan karena setitik nila yang justru dilakukan oleh orang lain?

Entah benar atau sekedar kebetulan, komentar teman yang terakhir tersebut seolah menyadarkan kita semua bahwa sebuah nila setitik yang dilakukan seseorang bisa berakibat menimbulkan permasalahan serial yang mungkin melibatkan dan merugikan orang lain secara berantai tanpa diketahui dan disadari oleh si pemicu masalahnya sendiri. Ibarat menanam benih masalah secara tidak sengaja, ia tentu saja turut menuai dosa dari kekhilafan-kekhilafan yang dilakukan oleh orang-orang yang secara berantai menuai permasalahan yang ditimbulkan setelahnya. Maka berhati-hatilah dengan setiap amanat yang berada di pundak kita.

Ngisor Blimbing, 9 Februari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s