Biopori: Saatnya Kita Menabung Air


Biopori1Fakta di tanah air dalam beberapa minggu ini memperlihatkan tingginya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Tingginya curah hujan yang berlangsung cukup panjang tersebut bahkan telah menghadirkan bencana banjir di banyak tempat, seperti Jakarta, Pantura Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah Manado dan Sulawesi Tengah. Air memang menjadi kebutuhan hidup yang sangat mendasar bagi kita. Akan tetapi jika kemudian air hadir secara terlalu berlimpah di lingkungan sekitar kita, maka bencanalah yang kita tuai.

Perkembangan kondisi lingkungan hidup dewasa ini memang telah mengalami banyak pergeseran,  perubahan mulim dan iklim. Ilmu pranata mangsa sudah tidak lagi sinkron dengan kenyataan musim dari bulan ke bulan. Bahkan ilmu-ilmu cuaca, iklim, meteorologi dan perbintangan yang paling modernpun seakan semakin tidak mudah untuk memberikan penjelasan secara gamblang dan tuntas mengenai fenomena-fenomena penyimpangan alam tersebut. Pergantian antar musim, dari musim kemarau ke musim hujan seringkali sulit diprediksi. Di samping itu, dewasa ini juga sering terjadi fenomena musim yang sangat esktrim. Musim kemarau terlalu sangat kering, sedangkan musim hujan terlalu sangat tinggi curah hujannya. Akibatnya di musim kemarau terjadi bencana kekeringan yang menimbulkan paceklik panjang. Adapun di musim hujan, tingginya curah hujan menimbulkan banjir bandhang di mana-mana.

Belajar dari kenyataan, di musim kemarau begitu sangat sulit kita mencukupi kebutuhan akan air dan sebaliknya pada waktu musim penghujan justru kita terendam dalam genangan banjir, kita harus bersikap dengan tepat dan benar. Pada saat kita diberikan kelimpahan apapun, sudah sepantasnya jika kita bersyukur dan senantiasa mengingat bahwa di saat yang lain kita sangat berkekurangan akan sesuatu hal tersebut. Jika pada saat kita berkelimpahan uang, maka kita harus ingat bahwa pada suatu waktu mungkin kita akan mengalami kesulitan mendapatkan uang. Sementara itu, kebutuhan hidup harus senantiasa terpenuhi dan hidup harus terus berjalan. Oleh karena itu, manusia yang bijak akan menabung atau menyisihkan uang pada saat ia berkelimpahan sebagai simpanan untuk mengantisipasi kekurangan uang pada waktu lain yang mungkin sangat tidak terduga dan mendadak datangnya. Sikap yang demikian juga sangat cocok kita terapkan dalam hal kelimpahan curahan air hujan yang kini tengah kita alami di sebagian besar wilayah tanah air.

Pada musim hujan yang ekstrim seperti saat ini bukankah air sangat berlimpah di sekitar kita? Sungai, danau, bahkan seakan lautpun tidak sanggup untuk menampung air yang berlimpah turun dari langit tersebut. Apakah dalam keadaan demikian, kita tidak bisa mengambil  langkah untuk menabung atau menyimpan air? Jika bahkan gunung Sinabungpun sanggup menabung sekian juta tenaga potensial kegunung-apiannya dalam rentang sekian ratus tahun untuk kemudian menghentakkannya dalam beberapa serial letusan pada beberapa bulan ini, apakah tidak mungkin manusia juga berupaya menabung air pada saat berlimpah sebagai cadangan kebutuhan air pada saat kemarau nanti?

Biopori3Ungkapan menabung yang sengaja saya sampaikan tersebut sangat mungkin tidak perlu dimaknai secara wantah atau mentah-mentah. Ide utamanya adalah bagaimana kita melakukan upaya pengelolaan atau konservasi air. Tentu saja hal ini sangat berkaitan dengan tindakan kita untuk mengalirkan air yang berlimpah saat ini ke dalam wilayah tampungan air yang dapat berwujud danau, rawa, bahkan langsung masuk ke dalam tanah untuk dicadangkan menjadi air tanah.

Beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menunjang usaha menampung atau menabung air tersebut dapat kita lakukan dari skala pribadi hingga gerakan massal yang melibatkan banyak pihak, seperti penanaman pohon, penghijauan hutan kembali, normalisasi daerah aliran sungai, bahkan pembuatan lubang biopori di sekitar rumah kita masing-masing.

Penanaman pohon, baik di sekitar rumah kita maupun wilayah hutan yang gundul tentu sangat cocok dilaksanakan pada musim hujan seperti sekarang ini, sehingga kebutuhan air oleh tanaman baru akan tercukupi dengan baik. Untuk tindakan normalisasi sungai mungkin sebagai warga kita hanya bisa mendukung pemerintah dengan tidak membuang sampah di kali dan memanfaatkan daerah aliran sungai untuk kegiatan yang tidak bertentangan dengan upaya konsernasi lingkungan hidup. Dalam skala kecil dan mencakup wilayah local, kita mungkin dapat bekerja bakti dengabn tetangga-tetangga untuk memperbaiki dan membersihkan got ataupun gorong-gorong saluran air di lingkungan kampung kita.

Biopori2Nah untuk pembuatan lubang biopori, menurut saya adalah langkah yang sangat praktis, dapat dilakukan dalam skala pribadi dan sesungguhnya tidak memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang besar. Ide pembuatan lubang biopori adalah pembuatan lubang di permukaan tanah dengan kedalaman antara 80-100 cm. Lubang yang banyak akan berfungsi laksana pori-pori yang mengalirkan tanah permukaan ke dalam lapisan tanah dan batuan yang lebih dalam. Melalui saluran pori-pori ini, air permukaan tanah selanjutnya akan dialihkan menjadi air tanah yang akan berfungsi sebagai cadangan air yang mendukung kelestarian mata air-mata air, termasuk sumur-sumur kita. Di samping memberbesar cadangan air tanah, biopori juga berfungsi ganda dalam mencegah terjadinya genangan air yang dapat berakumulasi menjadi banjir, termasuk mencegah terjadinya kerusakan struktur atau kesuburan tanah, bahkan turut mencegah potensi bencana tanah longsor.

Kecuali untuk upaya pengelolaan dan konservasi air, lubang biopori juga dapat difungsikan untuk pembuatan pupuk organik yang akan menambah tingkat kesuburan tanah. Pada lobang biopori dapat diisi dengan bahan-bahan atau sampah organik yang selanjutnya akan mengalami proses penguraian menjadi unsur-unsur hara yang sangat membantu dalam penyuburan tanah.

Untuk membuat lubang biopori sebenarnya dapat dilakukan dengan murah-meriah seperti mempergunakan linggis, batang kayu ataupun bambu. Namun seeorang pemerhati lingkungan hidup dari salah satu perguruan tinggi di tanah air pernah menggagas sebuah peralatan khusus untuk membuat lubang biopori tersebut. Alat tersebut berupa suatu batang bor manual dari batangan besi sekitar 1 m dengan pangkalnya berupa pegangan tangan yang membentuk huruf T. Pada ujung bor, terdapat pelat runcing yang apabila diputar searah jarum jam akan melesak masuk ke kedalaman tanah dan dapat mencengkeram bongkahan tanah untuk ditarik ke atas permukaan tanah. Hanya dengan peralatan yang cukup sederhana tersebut, apabila kita serentak secara missal membuat lubang biopori di lingkungan kita masing-masing, maka kita telah turut menabung air sebagai cadangan air tanah kita pada saat musim kemarau kelak. Apakah Anda berkenan juga membuat lubang biopori di sekitar rumah kita? Monggo saatnya kita semua peduli dan bergerak bersama!

Lor Kedhaton, 4 Februari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Biopori: Saatnya Kita Menabung Air

  1. jarwadi berkata:

    Tata kelola air itu perlu pemikir tingkat dewa pak. Hehe… rumit

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Jane ya selalu ada bagian yang sederhana-sederhana sesuai kapasitas di lingkup rumah kita masing-masing juga, terutama yang bersumber dari nilai kearifan lokal.
      Bukannya di GK banyak contoh kearifan sejenis, semisal konsep tentang Jatipalakrama, pelestarian “luweng” dll kang?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s