Barongsai Melenggang di Mall


Semenjak hadirnya era reformasi di Indonesia, Tahun baru China atau Imlek diperkenankan untuk diperingati secara terbuka. Adalah pemerintahan Presiden Gus Dur yang secara resmi memberikan pengakuan eksistensi warga keturunan Tionghoa di tanah air. Setelah sekian era, eksistensi identitas, tradisi dan budaya Tionghoa terpendam di bumi Nusantara. Kini masyarakat luas justru dapat lebih mengenal dan mengetahui aneka ragam budaya warga etnis tersebut. Hal ini sekaligus meneguhkan bahwa bangsa Indonesia secara faktual juga memiliki unsur budaya Tionghoa yang dibawa dan dilestarikan oleh warga keturunan Tionghoa yang pada waktu itu datang merantau ke wilayah Nusantara.

LW4  LW3

Salah satu seni tradisi Tionghoa yang tidak bisa dilepaskan dari peringatan Tahun Baru Imlek adalah seni barongsai. Dari sisi bunyi kata, barongsai tentu sangat beda-beda tipis dari kata barong di Bali atau barongan bagi orang Jawa. Dari bentuk penampilan fisik, ketiga jenis seni dari tiga etnik yang berbeda tersebut bahkan juga memiliki banyak persamaan. Baik barong, barongan ataupun barongsai sama-sama dimainkan oleh dua orang yang masing-masing memerankan kepala dan ekor.

Namun demikian, jika barong ataupun barongan biasa dimainkan sebagai bagian dari kesatuan pertunjukan seni yang lebih lengkap, barongsai mandiri sebagai bentuk seni pertunjukan yang utuh. Barong di Bali sering menjadi bagian dari pertunjukan kisah pewayangan, seperti penggalan kisah Sadewa yang bertempur melawan Rangda. Adapun barongan di Jawa menjadi pelengkap kesenian tardisional, seperti jathilan atau campur sebagaimana yang eksis di wilayah Magelang – Jawa Tengah. Demikian halnya jika barong atau barongan sering merepresentasikan kekuatan raksasa yang menakutkan penonton anak-anak, barongsai justru tampil lucu, jenaka dan menggemaskan para anak-anak.

LW1  LW2

Di masa awal keterbukaan pengakuan Hari Raya Imlek, perayaan memang masih terbatas diperingati oleh warga keturunan Tionghoa di lingkungan klenteng. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Hari Imlek kemudian juga diakui secara fakultatif sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Peringatan Implek dengan berbagai perayaan seperti pentas barongsai dan liong, diselenggarakan secara lebih gegap gempita dan dapat dinikmati semua lapisan masyarakat. Terlebih kemudian secara asal-usul, masyarakat mendapatkan pemahaman bahwa Imlek sesungguhnya bukan sebuah perayaan keagamaan dari sebuah agama tertentu. Imlek adalah perayaan Tahun Baru China, untuk semua masyarakat China.

LW5Imlek bukan milik dari aliran Tao, kepercayaan Kong Hu Chu, ataupun Budha yang banyak dianut masyarakat Tiongkok. Hal tersebut tentu saja sangat berbeda dengan tarikh atau kalender lain yang berasal dari akar kepercayaan agama tertentu, seperti tahun Masehi yang erat dengan ummat Krsiten, tahun Hijriyyah khas ummat Muslim, ataupun Saka milik masyarakat Hindu. Dengan pemahaman seperti ini masyarakat secara berangsur-angsur melebur dan merasa turut memiliki perayaan Imlek. Budaya barongsai dan liong yang erat dengan perayaan Imlek, secara tidak langsung kemudian juga diterima sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.

Beberapa latar perkembangan sebagaimana disebut di atas inilah yang kemudian menjadikan gegap gempita Imlek dan barongsainya hadir secara semarak di pusat-pusat ruang publik, semisal pasar ataupun mall-mall. Salah satu mall di wilayah Tangerang yang secara rutin menyambut perayaan Tahun Baru Imlek adalah Living World di kawasan Alam Sutera. Beberapa minggu menjelang Imlek, mall ini sudah berhias dengan aneka ragam ornamen bernuansa Chinese berlatar warna merah ngejreng, mulai dari lampion, bambu china, bunga sakura, termasuk aneka patung dewa-dewa hingga tokoh-tokoh berpenampilan lucu nan jenaka.

Dalam rentang waktu hampir satu bulan penuh, mall ini menggelar event CHINA BENTENG HERITAGE “the untold story” dari tanggal 15 Januari hingga 10 Februari 2014. Rangkaian acara yang digelar meliputi Traditional Culture of Cio Taw, Drama Musical, Livingworld Care Blood Donation Day, Koko Cici Jakarta Performance, Lantern Drawing Competition, Dance Competition, Kids Koko Cici Fashion Contest, serta My Life – Photo Exhibition.

LW6 LW7

Khusus pada beberapa hari menjelang Imlek hingga perayaan Cap Go Meh, masyarakat luas dapat menikmati penampilan atraksi atraktif seni barongsai yang dibawakan oleh sanggar Kong Ha Hong. Bertempat di West Atrium, dari tanggal 24, 25, 26, 30, 31 Januari dan 1, 2, 8, serta 9 Februari 2014 sepasang barongsai berwarna kuning emas dan putih akan menghibur pengunjung dengan atraksi menari di atas tiang-tiang penyangga yang memiliki ketinggian sekitar 2,5 m.

Pada awal penampilan grup seni barongsai Kong Ha Hong, muncul sepasang barongsai yang langsung memberikan hormat di atas panggung utama. Pneghormatan ditujukan kepada Tuhan, kepada guru, kepada senior dan kepada semua penonton yang hadir. Selanjutnya dikisahkan seekor barongsai yang tengah kelaparan bermaksud mencari makanannya. Makanan barongsai yang berwujud tetumbuhan sayuran kebetulan terletak di gunung. Dengan tangkas dan cekatan, sang barongsai kemudian mendaki gunung. Berbagai halangan dan rintangan berupa jalan yang terjal, jurang yang dalam dan curam berhasil dilampaui barongsai hingga ia mendapatkan makanannya.

LW8 LW9

Setelah mendapatkan makanannya, barongsai tidak serta-merta langsung menyantap makanan tersebut. Makanan yang telah dipetiknya dari pohon, ia hadap di depan matanya. Ia menengok kanan-kiri untuk memastikan tidak ada gangguan. Iapun kemudian berdoa sebagai wujud rasa syukur atas anugerah makanan yang penuh berkah tersebut. Sejurus kemudian barulah barongsai menyantap makanannya dengan penuh hikmat dan ketenangan.

Jalinan kisah barongsai yang terkesan sederhana tersebut sesungguhnya memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia. Decak kagum penonton bertambah semangat menyaksikan balutan kisah filosofis sang barongsai yang tampil dengan penuh atraksi yang sangat mendebarkan. Melompat, meliuk, berdiri tinggi di atas satu pijakan yang kecil dengan aneka gerak lincah tentu saja membutuhkan stamina dan ketangkasan tingkat tinggi bagi masing-masing pemeran kepala maupun ekor barongsai.

LW10Selesai menjalani kisah pencarian makanannya, pertunjukan singkat itupun berakhir. Tepuk tangan penonton membahana di seantero ruang mall. Barongsaipun kemudian berkeliling menyapa ramah kepada para penontonnya yang berdesakan di pinggiran arena pentas. Anak-anak hingga para orang tua dengan antusias memberikan angpao secara bergiliran.

Daya tarik pertunjukan barongsai telah menarik kami untuk sekali-kali menyambangi tempat yang bernama mall ini. Di samping pentas barongsai dalam rangka Tahun Baru Imlek kali ini, beberapa waktu yang lalu kamipun pernah menyaksikan perlombaan barongsai tingkat internasional di tempat yang sama. Selamat Imlek, Gong Xi Fa Choi!

Ngisor Blimbing, 1 Februari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Barongsai Melenggang di Mall

  1. Sawali Tuhusetya berkata:

    Berkat keterbukaan yang dihembuskan almarhun Gus Dur sewaktu masih menjadi RI I, saudara2 kita warga Tiong Hoa kini leluasa mengembangkan tradisi dan kebudayaannya. Syukurlah kalau pada akhirnya barongsai pun sudah bisa melenggang di mall.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s