Sederhana dalam Kekayaan


Adakah manusia jaman sekarang yang tidak ingin menjadi orang kaya? Pertanyaan tersebut sama maknanya dengan, apakah ada manusia yang mau menjadi orang miskin di jaman modern saat ini? Jika diberikan pilihan jalan hidup menjadi orang kaya atau orang miskin, manakah kira-kira jawaban yang mewakili suara terbanyak? Mungkin sebagian besar orang sekarang akan menjawab, tentu saja ingin menjadi orang kaya. Hidup hanya sekali, masak harus menjadi orang miskin. Ya nggak?

Sebuah lagu jalanan yang bahkan cukup populer dinyanyikan para pengamen dan anak-anak, secara terbuka mengungkapkan syair bahwa, “Cita-citaku menjadi orang kaya. Dulu ngamen, pulang bawa uang recehan….sekarang alhamdulillah…..bla-bla.”

Menjadi kaya, tentu saja bukan sebuah larangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dimanapun di muka bumi ini. Kekayaan bisa menjadi alat untuk mengangkat harkat dan martabat seseorang. Dalam khasanah nilai budaya Jawa, orang kaya bahkan seringkali dipersamakan tingkatan derajatnya bagaikan seorang raja. Ungkapan yang menyetarakan antara orang kaya dan seorang raja dapat dijumpai dalam ungkapan kata raja yang melekat kepada jenis kekayaan tertentu. Kekayaan berwujud uang ataupun emas sering disebut sebagai rajabrana. Kekayaan berupa ternak atau hewan peliharaan diistilahkan rajakaya, dan lain sebagainya. Jika demikian tinggi penghormatan terhadap orang kaya dalam struktur sosio antropologi masyarakat kita, tentu siapa orangnya yang tidak ingin menjadi orang kaya. Bukankah demikian?

Dalam ajaran agama manapun, secara prinsipil tidak ada yang salah dengan manusia kaya ataupun kaya raya. Bahkana dalam Islam, seorang muslim yang kaya akan lebih berpeluang untuk melaksanakan ajaran agama maupun menyampaikan infaq, sedekah, hingga zakat. Dengan dmeikian orang yang kaya secara ekonomi, secara umum lebih kuat jika ingin mempergunakan harta benda kekayaannya untuk beramal ibadah. Bahkan dalam ungkapan yang lain ditegaskan bahwa kemiskinan  lebih mendekatkan manusia kepada kekufuran. Bukan tidak mustahil, dikarenakan kemiskinan manusia bisa kehilangan akidah dan keimanannya.

Namun demikian, hendaknya jangan pula terlupakan pula bahwasanya setiap kepemilikan kekayaan yang dimiliki manusia senantiasa disertai dengan dua pertanyaan inti mengenai harta bendanya. Pertama, darimana datangnya harta kekayaan tersebut. Apakah kekayaan diperoleh dari jalan dan dengan cara yang halal, dari bekerja, dari bertani, atau dari berdagang misalnya? Ataukah harta bendanya tersebut diperoleh dengan cara dan jalan yang tidak halal, semisal mencuri, menipu, menindas, merampok, dari berjudi, termasuk dari korupsi uang rakyat?  

Sedangkan yang ke dua berkaitan dengan kemana harta benda yang dimilikinya dibelanjakan. Apakah harta kekayaan dipergunakan untuk beramal sholeh, berinfak, bersedekah, menunjang aktiivtas ibadah, berderma dan menyumbang kegiatan kebajikan? Atau barangkali kekayaan justru dipergunakan untuk memeras orang lain, untuk berfoya-foya, mabuk-mabukan, termasuk mengkonsumsi barang haram dan tindakan lain yang menjadi larangan agama. Sebaik-baiknya harta kekayaan tentu saja yang diperoleh dari dan dengan cara yang halal dan baik menurut tuntunan agama ataupun norma serta nilai dan aturan berbangsa bernegara. Sebaliknya, seburuk-buruknya harta benda tentu saja harta yang didapatkan dengan cara yang haram dan kemudian dibelanjakan pula untuk perbuatan laknat bin maksiat.

Meskipun menjadi manusia kaya tidak dilarang, tetapi manusia juga diajarkan untuk berada pada titik keseimbangan nilai tawazun, tidak berlebih-lebihan namun juga tidak berkekurangan yang berlebihan. Untuk hal ini, bahkan telah banyak dicontohkan oleh para nabi, rasul, para aulia dan orang-orang besar di dunia yang dirintis dari sebuah penerapan nilai kesederhaan hidup.

Nialai hidup memang sudah terbolak-balik di masa kini. Kaya atau kekayaan harta benda, bahkan seolah menjadi muara segala aktivitas hidup manusia modern. Segala hala diukur bedasarkan uang serta harta kekayaan. Kekayaan bahkan sudah disembah-sembah laksana Tuhan. Kekayaan merupakan simbol pencapaian kekuasaan hidup. Orang seringkali berdiri di atas kaki egoisme yang tidak lagi mempedulikan orang lain. Harta-harta kita sendiri, uang-uang kita sendiri. Mau dibelanjakan, mau dipakai berfoya-foya, tokh semuanya hasil jerih payah dan keringatnya sendiri. Kekayaan justru lebih mantep dan membanggakan pemiliknya apabila diperlihatkan bahkan dipamerkan kepada orang lain. Akan sangat memuaskan pemiliknya, apabila orang lain memandang kekayaan kita dengan decak kagum yang tidak berkesudahan.

Jika kita mampu memiliki rumah mewah, kenapa harus tinggal di rumah yang sederhana dan apa adanya? Jika kita mampu membeli pakaian mewah, handphone mahal, sepatu mahal, perhiasan serba gemerlap, kenapa justru disuruh berpenampilan sederhana? Jika seseorang mampu menyantap makanan kelas wahid, kenapa mesti makan secukupnya sekedar mengisi perut? Ukuran manusia bukan lagi soal kebutuhan namun bagaimana menuntaskan hasrat, keinginan, maupun nafsu yang tersimpan di relung jiwa terdalam. Untuk apa berpikir tentang berbagi kepada orang lain? Betatapun sebenarnya dalam setiap kekayaan yang kita miliki terdapat hak para fakir miskin, para yatim piatu, dan sekian kalangan berkekurangan yang memerlukan uluran tangan dari orang kaya yang berkelebihan!

Siapa sih yang sanggup memiliki mobil satu jika ia berkemampuan membeli mobil sepuluh? Orang kaya mana yang mau makan di kaki lima,  jika sehari-hari menengguk secangkir kopi yang harganya sebesar pendapat seorang pemulung selama dua belas bulan bekerja penuh waktu? Apakah ada orang yang memilih mendermakan uang umrah-hajinya bolak-balik tanah air – Mekah yang berkali-kali dilakukannya untuk kepentingan menyekolahkan anak-anak telantar yang putus sekolah misalnya? Manusia kaya manakah yang memilih hidup bersahaja, seadanya, penuh warna kesederhaan? Adakah? Adakah manusia kaya yang mengamalkan pola hidup sederhana dalam gelimangan harta kekayaannya? Akh…..meskipun langka bin jarang, mungkin tetap ada kali ya? Tuhan pasti punya satu-dua ketidaklaziman betapapun terasa mustahilnya. Tetapi hingga kini, seumur hidup ini, saya termasuk orang yang belum beruntung menjumpai orang seberhaja orang kaya yang sederhana.

Ngisor Blimbing, 27 Januari 2014

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s